Friday, April 12, 2013

Lingkaran Gila



Hmmm… gini nih kalo ketemu orang yang satu daerah, jadi kebentuk lagi stereotype-nya. Yang ada jadinya setengah stress, setengah gila. Gimana gak coba? Stereotype batak melayu khas Sumatra Utara jadi agak menonjol lagi, ngomong serampanganlah, usil ngerjainlah, pendeknya jadi suka-sukanya aja gitu mo ngapa-ngapain dengan dasar kita berasal dari daerah yang sama, jadi semua hal rasanya bisa ditolerir. Oh no! Bukan bisa, tapi HARUS! Sompret gak tuh? :-(
 
Aku kasih contoh nyatanya ya guys. Kita sebutlah namanya si Juli (khas Sumatra banget kan, sebelum nama seringkali dipakein embel-embel “si”, tapi “si” disini bukan bahasa Latin loh guys (baca: sie) kayak yang di Argentine itu. Aku gak tahu artinya apa. Aku tahunya istilah itu dari novel-novel terjemahan, sering nemu kata itu sih.) Jadi pemirsa, si Juli ini adalah operator di kantorku. Tugasnya menyambungkan no telp yang ingin kami kontak, baru nanti dia akan meghubungi kami lewat intercom untuk kami bisa berkomunikasi langsung pada orang yang kami kontak tadi. Atas dasar kedaerahan, dia seringkali mengibarkan kata b*d*t padaku pada saat mengakhiri intercomnya denganku. What such a shit, huh? Parahnya lagi kata-kata itu meluncur bukan hanya pada waktu intercom, tapi almost anytime we meet. 


Pagi-pagi nih, sewaktu aku baru masuk kantor dan mo finger print check-in buat presensi, kata pertama yang meluncur dari mulutnya adalah “Pagi b*d*t, atau Selamat pagi b*d*t.” Sompret banget dah tuh anak, bikin ngerusak pagiku aja. Padahal aku gak suka sama orang yang notabenenya pagi-pagi udah ngeracuni pagiku karena bisa membawa aura negatif. Karena buatku, pagi itu seharusnya di isi dengan hal-hal yang baik, secara masih pembuka hari, guys. Bagaimana mood pagi kita, itu menggambarkan dan mungkin akan berpengaruh pada aktivitas harian kita secara keselurahan. Tapi ya gimana ya, atas nama kedaerahan pula aku gak bisa marah. Malah aku ikutan juga balas hal yang serupa ke dia. What such a shit stereotype, huh? Hahaha. Dan itu terjadi hampir tiap kali kami ketemu. Sewaktu aku mo ke toilet lah, waktu mo finger print check-in and check-out lah, ketemu di tempat makan lah, ketemu di parkiran juga. Oh… it’s almost anytime we meet. Stress dah kalo ketemu dia. :-(


Pernah juga aku nitipin helm ke dia, waktu itu aku habis keluar sama temenku dan males mau turun ke basement buat naruh helm ke motor, and you know what? Baru juga aku nyampe ke ruangan kerjaku, dia langsung do contact via intercom with me.”Hey b*d*t, helmu L*D ya? Medan kali kau” begitu katanya. “Iya dong…” jawabku agak sombong nih. Dan apa yang terjadi setelahnya? Uhlalala… dia langsung mutusin koneksi intercomnya sesuka hatinya. Bikin kesel aja! Jadi dia nelpon cuma mo bilang gitu doing? Capek deh! Dasar anak Medan. *lagi-lagi mengutuk*

Kutukan belum berakhir sodara-sodara, waktu aku keluar mo ke toilet, pacarnya si Juli malah does bargain with me to price my helmet RP. 50.000,- "Piye Ci, seket ewu yo?” (mohon maaf atas kesalahan gelar dan nama, eh...,maksudnya mohon maaf atas kesalahan tata bahasa.) Dan itu dia lakuin tiap kali ketemu aku. Huh??? Whattt??  Helm ane cuma dihargain segitu? Hello… this is L*D, guys! Omakjang…! Malah nambah “musuh” stereotype ane. Kuatkan hati hamba ya Tuhan menghadapi mereka-mereka. Amin. 


Itu salah satu contoh, eh salah dua ding. Dan yang bikin “jengah” bukan cuma si Juli aja nih yang anak Medan, ada lagi satu orang, sebutlah namanya Faisal (padahal namanya memang Faisal, begitupun si Juli, itu nama benerannya :-)). Si Faisal ini lebih real lagi stereotype-nya, seperti apa yang dia udah lakuin padaku kemarin sore.


 Jadi ceritanya setelah jam pulang kantor aku masih stay di meja kerjaku, karena aku mo ngerampungin aktivitas upload photo ke salah satu media social. Padahal bawaannya pengen pulang cepat, biar bisa buka puasa tepat waktu karena Senin kemaren telat dikarenakan ada aktivitas nonton bareng di kantor. Eh… lagi asyik-asyiknya ngupload sembari berdoa unggahannya cepat dan sempurna biar bisa cepat pulang, dia malah dengan enaknya nyamperin aku, pura-pura baik nanyain “lagi ngapain kakak? Gak pulang? Kenapa masih disini? Kenapa belum pulang?”. “Mo ngerampungin ini dulu, baru pulang” kataku. Eh dilala pas dia tengok aku ngapain, tangannya langsung nekan tombol “ESC” pada keyboard laptopku, pemirsa. Ohlalalala… Faisal… Kurang ajar! *mengutuk bukan hanya dalam hati* Padahal tadi itu upload-an yang terakhir rencananya, setelah rampung niatnya udah mo check-out aja. Tapi ternyata… gara-gara anak satu daerah, bubrahlah rencanya saya pemirsa. Ngulang dari awal lagi deh kerjaan saya. Dan gara-gara itu, jadi agak telat deh buka puasanya, gak bisa buka puasa tepat waktu di kos. Masih juga di jalan mo pulang, dikit lagi mo nyampe kos, eh… udah keburu adzan. What such a shit stereotype, huh? Tapi tetep… gak bisa marah yang sebenar-benarnya marah ma dia. Hahaha.


Jadi begitulah sodara-sodara, kalo udah katanya ketemu anak satu daerah gak bisa marah sekalipun mereka usil luar biasa –dengan catatan masih di batas tolerir-. Tapi seru sih, jadi nemuin lagi dunia kecil kedaerahan, serasa ada di tanah Batak-Melayu beneran. Btw, kapan-kapan (semoga dalam waktu dekat) aku dan Faisal rencananya mo kuliner soto Medan. Semoga kesampean. Rindu betul makan soto Medan which is it’s so totally different with Java’s soto. Hmmm… ngebayanginnya aja udah yummy…, bikin ngiler. Btw, jadi homesick nih. Kangen masakan emak. :-(

Thursday, April 11, 2013

Let’s Keep Healthy

baltyra.com

Pagi-pagi denger kata “leukemia”, what do you think guys? Menurut Wikipedia kata Leukemia berasal dari bahasa Yunani leukos λευκός, yang artinya putih; dan aima αίμα, yang berarti darah. Jadi, leukemia ini berarti kanker darah. Ini merupakan penyakit dalam klasifikasi kanker (istilah medis: neoplasma) pada darah atau sumsum tulang yang ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transformasi maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid, umumnya terjadi pada leukosit (sel darah putih). Jadi pendeknya, leukemia ini adalah penyakit kanker darah putih, guys. Tapi, berhubung ini bukan kelas kuliah,kita gak usah bahas yang berat-berat. Cukup.  Jadi segitu aja keterangan singkat tentang leukemia ini. Kalo mau tau lebih lanjut, silahkan googling or surfing sendiri aja ya guys. Karena di sini, aku cuma mau babbling-babbling ga jelas. Hehe.

fau.edu
Pagi ini, seperti biasa aktivitas pagi di kantorku selalu di isi dengan morning call, semacam sesi motivasi dan analisa pasar yang terjadi kemarin dan prediksi pasar untuk hari ini, kemudian bersama kami meneriakkan yel-yel khusus buat penyemangat. Tapi ada yang berbeda setelah sesi morning call pagi ini, salah satu rekan kerjaku memberikan announcement yang cukup mengejutkan, yaitu tenyata ada salah satu rekan kerjaku yang sedang sakit dan di rawat di rumah sakit. Dan yang bikin mengejutkan adalah dia mengidap leukemia. Ya, leukemia guys. Padahal dia masih tergolong cukup muda. Segera saja ada penggalangan dana untuk menjenguknya

aramarkrochester.livesitehost.com
  Aku jadi teringat dulu aku juga punya teman yang termasuk mengidap penyakit berat a.k.a penyakit kronis. Dia dulu teman kosku, persis di sebelah kamarku. Dia dulu mengidap penyakit ginjal. Dan dia selalu menyembunyikan penyakitnya ke semua orang, bahkan untuk sekedar check-up pun dia selalu mengalami ketakutan tertentu. Takut kalau-kalau hasil health record nya buruk, atau bahkan anjlok. Belakangan aku tahu tentang catatan penyakitnya setelah dia meninggal. Kini dia sudah kembali ke asalnya, RIP ke hadapan sang Khalik. *Semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya. Amin* 

www.diseara.ro
Dari fenomena yang ada di sekitarku, aku jadi berpikir “kira-kira kenapa ya penyakit itu bisa menyerang orang yang masih tergolong muda? Padahal kan mereka masih cukup muda?”. Jujur aja, aku agak ngeri denger serentetan nama penyakit-penyakit yang tergolong kronis. Apalagi bila penyakit itu di derita orang yang masih muda. Kalo penyakit-penyakit itu di derita orang yang sudah berumur sih, rasanya masih masuk akal, alasannya simpel aja barangkali itu kesalahan mereka sewaktu mereka muda yang tidak terlalu peduli pada kesehatan. Jadilah, ketika beranjak tua dan renta, penyakit pun mengintai. So, yuk guys… kita peduli pada kesehatan kita selagi kita masih muda. Memang sih yang namanya penyakit itu Tuhan yang kasih, tapi kita sebagai si empunya body kan juga harus peduli dan menyanyangi apa yang kita punya. Inget ya guys, kita adalah seperangkat alat-alat. Mereka butuh nutrisi dan istirahat juga. Organ-organ dalam tubuh kita kan juga punya system kerja yang bisa di bilang ajaib cara kerjanya. Gak semua sistem kerja tubuh kita bisa kita kuasai di luar kepala a.k.a kita hafal dan fasih menjelaskan bagaimana proses alat-alat itu bekerja *kecuali kalo kamu seorang dokter (muda)*. So, yuk jaga kesehatan dari sekarang. Jangan di tunda-tunda. Kalo gak dari sekarang toh nanti kita juga yang akan menderita. Keep healthy guys… * Oh no! Tiba-tiba aku pengen jadi dokter. *

http://www.keepcalm-o-matic.co.uk

Oh My Weight


“Mbak Eci kayaknya kurusan deh. Badannya abis gitu. Apa karena pake baju yang agak kecil ya?” itu kata teman kosku 3 hari yang lalu. Mati kutu deh saya pemirsa, mau jawab apa coba? Waktu itu aku kebetulan lagi pake piyama, padahal piyamaku celana panjang loh, kok ya bisa ya dia liat dan bilang badanku kecil? Dan yang bikin aku lebih bingung lagi, memangnya kalo aku pake baju yang gede, aku bisa kelihatan lebih gedean juga gitu badannya? Gak juga kan, guys? So, what’s wrong in this case?*Bingung*Oh ya, aku jawab aja sekenanya “tadi aku puasa, ngaruh kali ya?”. Kebetulan memang hari itu hari Senin. Hihihi. Semoga menjadi pembelaan yang masuk akal. :)

Semalam… ada teman kampusku yang kebetulan berkunjung ke kos, bukan untuk ingin bertemu denganku, melainkan bertemu dengan Citra, teman sekelas sewaktu aktif kuliah. Itu juga pertemuan gak sengaja sebenarnya, aku kebetulan pas mau keluar beli makan malam, eh dia baru aja datang. Ada perlu sama Citra. Jadilah kita say hello dan ngobrol singkat tanya hal yang standard. Tapi sebelum kita terlibat ruang tanya jawab singkat itu, komentar pertama yang keluar dari mulutnya adalah begini “Kowe kok tambah kuru, Ci. Cilik banget awakmu saiki.” Dan aku cuma bisa nyengir kuda, padahal dalam hati miris juga sih. :-(

Gak tau kenapa, sekarang jamak ku dengar komentar orang-orang tentangku gak lain dan gak bukan adalah tentang berat badan. Yang katanya menyusutlah, kurusanlah, kecilanlah, badannya abis lah, dkk. Bahkan sampe timbangan aja ngomong kayak gitu coba? Loh, gimana bisa? Jadi begini logikanya pemirsa, kemaren Senin aku nemenin temenku check-up di Rumah Sakit, sewaktu dia disibukkan ngurusain ini itu di meja admin, ga jauh dari situ ada timbangan berat badan. Jadi, aku manfaatinlah benda itu. Hehehe. Tapi… yang bikin aku mengejutkan, jarum jamnya bergerak ke angka di bawah 45 kg, tepatnya dikisaran 42-43 kg. Hadew… agak shock liat jarum itu. Hah 43?? Masa sih? Gak salah nih? Masa sih bobotku segitu? Abnormal kali nih timbangannya!*mengutuk dalam hati* Pasalnya catatan bobot badanku terakhir kali adalah 46 kg, itu juga catatan 2 tahun yang lalu. Masih lumayanlah, di atas 45 kg guys, not so bad. Tapi ini, 43? Yang 3 kg lagi kemana yak?

Dulu… pernah sempat ngiri ngeliat perempuan-perempuan bertubuh ramping, berpinggang kecil, yah singkatnya yang body-nya bagus lah, tapi sekarang gak nyangka aja aku terjebak dalam kelompok mereka -bukan kelompok orang yang berbadan bagus loh, cuma kelompok orang yang berbadan kecil-. That’s it! Dan ternyata rasanya gak terlalu enak loh, beneran deh. Awal-awal orang pada komentar aku kurusan sih seneng-senang aja, -manusiawi lah sebagai cewek-, tapi makin hari kok ya makin banyak yang komentar hal serupa? Drastisnya sampe 365 hari ke depan masih bersuara hal yang sama. Oh no, even ‘till today, or even maybe tomorrow! Bahkan keluargaku juga komentar sama, yang notebenenya aku mudik sekitaran 6 bulan sekali (terakhir kali aku mudik Juli 2012). So, it means that I’ve lost my weight obviously. Lama-lama jadi agak annoying juga dengar komentar tentang berat badan.*stress mengintai* So, lain kali kalo ketemu aku jangan komentar perkara bobot badan ya pemirsa, cukup bilang gini aja “Eci, kamu cantikan deh *sembari ngasih coklat*. ” Hahahaha  (motif terselubung ^_^)

Wednesday, April 10, 2013

Taman Kanak-Kanak


Tubuh kurus tak berbentuk dengan berbungkus kulit berwarna coklat yang menggelap itu tersenyum, bahkan kerap kali tertawa renyah. Menertawakan hal yang seharusnya menjadi kegetirannya. Seorang bocah yang menakar segala hal dari skala otak kanak-kanaknya. Ringan. Amat sangat ringan. Tak tampak wajah berduka dari parasnya, tak terdeteksi cerminan sakit hati dari air mukanya. Padahal teman sepermainannya menertawakannya. Sepuas-puasnya, dengan nada tawa yang beraneka. Tapi ia memilih tersenyum dan bahkan ikut tertawa melebar. Tak mau memikirkan hal-hal yang menjadi urusan bagi dunia orang dewasa, sebab otak kanak-kanaknya belum cukup mampu untuk menjangkaunya. Jadi, ia memilih bermain, sepuas-puasnya. Dan bagiku itu adalah pilihan yang tepat, sebab memang ia tak punya lain pilihan. Hanya itu. Satu-satunya. Sebaik-baiknya.

Deg! Tiba-tiba detak jantungku terhenti seketika. Mataku menatap dalam ke arah matanya. Entah apa yang ingin kucari dan kutemukan disana, sebab aku tak melihat ada tanda-tanda. Sialnya lagi, ia tersenyum lebar membalas tatapanku. Seolah mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Ia baik-baik saja. Dan hatiku pun bergeming, menyadari sesuatu. Malam itu, ia mengajariku sesuatu. 


Ia adalah seorang bocah, barangkali berusia berkisar sepuluh atau sebelas tahun. Bocah perempuan malang dengan tubuh kurus tak berbentuk berbungkus kulit berwarna coklat gelap. Kemalangannya tidak terletak pada wujud fisiknya, melainkan pada nasib yang mempermainkannya. Ia adalah bocah yang sejak lama ditinggal pergi ibunya. Sejak beberapa tahun lalu. Bahkan semenjak ia kecil, katanya. Entah usia berapa, ia lupa. Ia juga mengaku tak mengingat rupa ibu yang melahirkannya. Tak ada memori apa-apa yang melekat pada otaknya kala itu, sebab kejadian itu sudah bertahun-tahun tergulung usang. Sudah terlalu lama baginya, hingga ia lupa dan tidak menaruh harapan apa-apa. Hanya kehidupan mendatang yang lebih baik. Hanya itu. Sesederhana itu. Ah, ia juga keliru menyebut nama ibunya. Ibuku dan ia berperang argumen membenarkan nama ibu kandungnya. Tapi akhirnya ia menyerah kalah. Barangkali karena ia masih kanak-kanak yang memang tidak banyak mengetahui sejarah kehidupannya sendiri. Ia mendengar kisah hidupnya dari orang-orang disekelilingnya.

 Semenjak ibunya pergi, dari cerita yang dituturkan teman mainnya itu aku mengetahui bahwa ia memiliki empat ibu. Ia mengenalnya sebagai ibu pengganti. Temannya itu mengatakan demikian dengan tawa yang melebar, pun dilengkapi dengan analogi yang terdengar getir. “Uwak ini –menyebut ibuku- punya satu ibu, mbak ini –menunjuk ke arahku- punya satu ibu, dan aku juga sama, mempunyai hanya satu ibu saja, lalu kau –menunjuk bocah malang itu- kenapa kau punya empat? Hahaha. Dimana-mana orang-orang hanya punya satu ibu, ibumu kenapa banyak sekali? Hahahaha… Temannya berucap demikian dengan keras dan dihiasi tawa yang susul menyusul, pun deras. Jelas sekali itu tawa yang terdengar mengejek. 

Teman sepermainannya menertawakan garis kemalangan hidupnya dengan tawa lebar dan suara renyah. Tetapi ia tidak tampak bersedih melihat perlakuan teman mainnya itu. Bahkan ia pun ikut menertawakan itu. Jadilah mereka berdua tertawa bersama. Sepuas-puasnya. Aku dan ibu saling menatap, menjadi salah tingkah. Ibu memilih diam, sedang aku menelan ludah. Temannya itu terlalu banyak berbicara dan tidak menyadari akibat yang bisa ditimbulkan dari ucapannya. Tapi ya, mereka masih kanak-kanak. Mereka belum banyak mengerti. Segala sikap mereka masih termaafkan, dan mereka masih bisa saling mengampuni.  Lalu aku bertanya getir dalam hati, kegetiran macam apa ini? Adakah di dunia ini yang disebut sebagai ibu pengganti? Ah, kepalaku mendadak pusing. Sakit sekali. 

Aku memandang heran pada dua bocah didepanku yang sedang puas tertawa. Bagaimana bisa mereka melakukan itu? Pertanyaan yang membuatku merenung dan bingung. Tapi disanalah aku mendapat pijakan untuk belajar. Mereka kanak-kanak. Dunia mereka adalah dunia kanak-kanak. Tidak perlu memikirkan hal lain selain bermain, bermain, bermain ,dan belajar. Seperti taman kanak-kanak. Ya, tempat mereka adalah taman kanak-kanak. Lebih banyak bermainnya ketimbang belajarnya. Bermain agar riang, baru kemudian belajar. Bukankah anak-anak hanya mau belajar jika hatinya telah riang? Sebab itulah mereka dipersilahkan bermain lebih dahulu, baru kemudian dibujuk untuk belajar. 
 
Lalu aku menilik pada dunia kanak-kanak. Dunia mereka istimewa. Mereka nakal, meski tidak semua anak-anak adalah nakal, tapi paling tidak kebanyakan dari mereka adalah anak-anak nakal. Tetapi segala kesalahan dan kenakalan yang mereka perbuat termaafkan. Dan mereka juga makhluk agung, sebab mereka makhluk pengampun. Mereka cepat melupakan kesalahan orang lain yang melukai mereka, tak jarang dalam bentuk fisik pula. Seringkali kita jumpai dua anak saling memukul karena berebut mainan, anak yang kalah lalu menangis, tetapi beberapa menit kemudian mereka sudah berbaikan. Kembali bermain bersama, menyenangkan hati masing-masing. Barangkali kita, makhluk dewasa, perlu belajar dari dunia kanak-kanak mereka. Menjadi makhluk pemaaf dan pengampun, seberapa besar pun kesalahan orang lain yang diperbuat kepada kita. Kita memang tidak lagi dalam fase bermain, tapi kita selangkah di depan fase mereka, kita meloncat ke fase belajar. Sebuah pelajaran yang berharga dari dunia mereka.

Seperti bocah itu yang memaafkan kesalahan besar ibunya yang sedari ia kecil meninggalkannya, juga mengampuni ayahnya yang tidak menyertakan dirinya meneguk nikmatnya memiliki keluarga baru. Keluarga utuh yang ada peran ayah dan ibu, meski bukan seorang ibu kandung. Tapi ia mengerti, setidaknya mencoba mengerti, dan ia mengampuni. Sebab ia kanak-kanak.

Kini ayahnya telah menikah lagi, memiliki keluarga baru dan menetap di lain tempat. Sedang gadis bocah itu menetap dan tinggal bersama neneknya dari pihak ayah. Tetapi ia bocah yang riang. Ia bocah yang pandai menertawakan kegetiran hidupnya. Bocah yang tidak memiliki dunia lain selain dunia kanak-kanaknya. Ia hanya punya itu. Dan memang ia belum boleh memiliki dunia selain itu. Ia harus menikmati taman kanak-kanaknya. Sepuas-puasnya. Dan ia mengajarkan sesuatu kepadaku, seperti ia, barangkali aku juga harus belajar menertawakan kegetiranku. Getir yang takkan terasa menyakitkan sebab disanding dengan derai tawa yang lebar. Tawa yang bersanding dengan kegetiran, bukan getir yang disanding dalam persembunyian tawa. Dan lewat derai tawa gadis bocah itu aku mengerti, bahwa hidup harus seimbang. Juga penuh syukur.

Rumah
Thursday, November 8th, 2012
2:40 pm

Tuesday, April 09, 2013

I Run to You



This world keeps spinning faster 
into a new disaster so i run to you,
i run to you baby...

Malaikat Penjaga



Aku menamaimu malaikat penjaga, 
agar kau tak lupa 
ada aku yang harus selalu kau rawat agar tetap indah. 

Aku menamaimu malaikat penjaga, 
agar kau tak lupa 
ada hati yang rapuh, milikku, yang mesti kau lindungi,
yang setiap waktu mesti kau pastikan ia tetap utuh. Penuh. 


Dan aku menamaimu malaikat penjaga, 
agar kau selalu tau 
ada jiwa yang harus kau poles kesempurnaannya.