Untukmu, akhirnya aku memilih ada. Entah apakah kau akan merasakan getarnya atau kau malah memilih memicingkan mata.
Happy Friday...
Showing posts with label Kamu. Show all posts
Showing posts with label Kamu. Show all posts
Friday, August 14, 2015
Friday, June 05, 2015
...
Kau selalu tampak bahagia ketika tersenyum. Apalagi ketika tertawa
renyah. Itulah barangkali sebab kenapa aku jatuh hati padamu. Pada senyummu
kutemukan teduh. Alasan lain kenapa aku suka mencuri pandang ke arahmu.
Friday, May 15, 2015
Tentang kamu
Aku selalu jatuh cinta pada tulisan. Seperti itulah aku
ingin selalu jatuh kepadamu. Tapi atas dasar pertimbangan logika dan etika,
berulang kali aku telah mengurungkan niatku untuk mengkristalkanmu dalam
tulisan. Kini, aku tak lagi sanggup membendungnya. Hingga akhirnya tulisan ini
mengalir apa adanya. Dengan kebingungan yang begitu megahnya.
Aku tak pernah bertahan menyimpan segala “keliaran” alam
pikirku. “Keliaran” ini harus disalurkan. Jika tidak, ia akan membunuhku. Ia
akan menyiksaku. Ia akan merusak keseimbangan jiwaku. Ia akan membuatku “gila”.
Maka ketika ruh tulisan ini adalah tentang kamu, kumohon jangan marah. Lembutkanlah sorot matamu ketika menatapku, sungguh itu akan meneduhkanku.
Aku tak pernah mengerti tentang asal muasal perasan ini.
Darimana ia berasal, dan kemana ia akan menuju. Tapi yang pasti pada satu malam,
aku mulai jatuh hati padamu. Tenang saja, aku tak pernah memaksakan bahwa orang
yang kujatuhi cinta juga harus memberiku rasa yang sama. Aku tak ahli dalam hal
itu. Caraku mencintai juga sederhana, aku selalu jatuh pada cinta diam-diam. Untuk
hal ini, mungkin kamu juga sedikit paham.
Kata orang, aku termasuk orang yang ekspresif. Spontaniuos.
Aku seringkali merespon hal2 disekelilingku dengan spontan. Tanpa terduga.
Tanpa terencana. Tapi sayangnya tidak dalam cinta. I mean, cinta yang benar2
melibatkan cewek-cowok. Untuk hal satu ini, rasanya aku saklek. Aku harus mikir
seribu kali, butuh waktu ribuan hari untuk pada akhirnya berani bilang “aku
sayang kamu”, “aku cinta kamu”. Dan mungkin saat aku berani bilang begitu
padamu, semua tak lagi berguna.
Lalu, bagaimana aku bisa jatuh hati padamu? Entah. Aku tidak
tahu. Yang kutahu, sejak malam itu, aku sering mendo’akanmu. Aku mulai
memimpikanku dalam tidurku. Ada emosi dan rasaku yang berporos ke arahmu.
Rindu. Sakit. Harap. Kecewa. Senyum. Tawa. Sendu. Dan bahkan tangis. Yang
semula tak pernah kurasakan sebelumnya untukmu. Telah berulang kali aku menyangkal bahwa ini bukan cinta, bahwa aku tidak jatuh hati padamu, hingga pada satu waktu ada airmataku yang jatuh karenamu, untukmu. Saat itulah aku tak lagi bisa memerangi hatiku sendiri. Aku memang jatuh hati padamu.
Wednesday, December 17, 2014
Gegara Flu
I just need a glass of water from your hand. Oh yes, in this late night.*ngigaugegaraflu.
Sunday, November 30, 2014
Bait Pertama
Dan… Haruskah semuanya kembali ke bait pertama???
"Disini ku menggenggam takdir ditanganku
Aku coba menahan tak menangisimu
Di bait pertama
Di bait pertama
Sekuat kaki ini mencoba berlari
Tetapi hati ini menuntunnya kembali
Ke bait pertama
Ke bait pertama
Berjalan… hidupku tanpamu
Hidupku tanpamu… di bait pertama
Bertahan… untuk menantimu
Karna menantimu… di bait pertama
Karna langkah ke belakang
membuat luka semakin dalam
tak ada lain pilihan
kecuali terus bertahan
Dan diujung lidah ini
ribuan kata menari
dan menuntunmu kembali
di bait pertama lagi"
*Sheila on 7 - Bait Pertama*
Tuesday, October 28, 2014
Saturday, October 25, 2014
Masih Kalah
Rhoma Irama benar, jangan begadang kalau tiada artinya. Apalagi
kalau hanya begadang memikirkan orang yang seharusnya sudah terlupakan. Selarut
ini aku masih belum bisa tidur juga. Sialnya tanpa disertai niat ingin
begadang. Padahal udah beberapa jam yang lalu aku nyalain lampu tidur. Udah
beberapa jam yang lalu juga aku gelundang-gelundung ga jelas di kasur. Berdo’a
penuh harap. Berharap mata bisa terpejam demi jatuh pada tidur terbaik. Tapi percobaanku
belum juga berhasil. Dan sialnya aku ga bisa tidur hanya karena memikirkan seseorang
yang sangat ingin tidak ku kenang lagi dalam hari-hariku. Apalagi pada saat momen-momen
seperti ini. Momen menjelang tidur. Damn!! I hate the moment like this. Aku
benci saat aku terjebak pada momen dimana aku lebih dikuasai kesadaran rasa dan
bukan lagi kesadaran logika. Secara logika, seharusnya rasa ini berhenti
mengalir untuknya. Cinta ini semestinya tak lagi bermuara kepadanya. Tapi rasa butuh
kerja ekstra keras untuk pelan-pelan mengusir itu. Ya Tuhan, kapan masa itu
akan datang? Aku ingin segera mencecapnya. Jujur, aku capek begini terus. Terlalu
capek merintih. Capek rasanya terus-terusan berperang melawan rasaku sendiri. Sebab
disetiap percobaan yang kulakukan, aku selalu saja kalah.
“Sulit
sekali menyangkal bahwa aku sayang kamu. Bahwa setiap malam menjelang tidur aku
selalu mengingatmu. Kadang-kadang menangis diam-diam dibalik bantal.”
Subscribe to:
Posts (Atom)