Sepanjang perjalanan darat, banyak sekali jalanan yang berlubang. Ini jalanan benar2 memprihatinkan. Lubangnya terlalu banyak dan lumayan dalam. Setiap pengendara harus mengurangi laju kecepatan kendaraan dan harus ekstra hati-hati menatap jalanan. Itulah kenapa saya lebih menyukai perjalanan udara ketimbang perjalanan darat. Bukannya perjalanan udara tanpa hambatan, justru perjalanan udara tergolong mengerikan dalam hal kecelakaan. Saya ngeri tiap ngebayanginnya jadinya gak akan saya bahas efek kecelakaan pesawat terbang. Setiap orang pasti tahu akan kengerian itu. Tapi tahukah bahwa konon katanya pesawat terbang (kendaraan udara) merupakan alat transportasi yang minim kecelakaan?
Tingkat kecelakaan pesawat terbang jauh lebih kecil dibandingkan kecelakaan pada transportasi darat maupun laut. Yang kita lihat dan dengar dari media tentang kecelakaan pesawat terbang itulah sebagian kecil kecelakaan transportasi udara, sehingga ketika ada kecelakaan maka ia seolah menjadi satu berita yang besar atau lebih tepatnya dibesar-besarkan. Jika kita amati tiap hari raya besar keagamaan seperti Lebaran (Idul Fitri) misalnya, banyak sekali kendaraan darat, laut, maupun udara yang berlalu lintas di lintasannya masing2. Nah, pada saat hari raya keagamaan itulah banyak terjadi kecelakaan darat maupun laut, kecelakaan darat menjadi tingkat tertinggi, sementara kita jarang mendengar kecelakaan pesawat terbang pada hari raya keagamaan. Kalaupun ada datanya tidak sebanyak kecelakaan alat transportasi darat maupun laut. Sebenarnya kendaraan laut juga lumayan aman, namun umumnya kecelakaan ini seringkali terjadi karena overload penumpang. Beberapa tahun belakangan ini menjelang tahun baru kasus yang ada seperti itu, umumnya mereka lebih mengedapankan omset ketimbang keamanan dan kenyamanan penumpangnya. Miris sekali. Harusnya itu bisa ditanggulangi agar tidak terjadi demikian, namun segelintir orang lebih suka memanfaatkan keadaan demi keuntungan pribadi. Menyedihkan. Nilai kemanusiaan tidak lebih tipis dari kulit bawang.
Yang bikin saya ketagihan naik pesawat terbang adalah efek dari naik pesawat terbang itu sendiri. Saya jadi suka berada diawang2. Saya suka melihat langit, awan dan kadang2 air hujan dari ketinggian. Yang tidak kalah menakjubkan saya jadi suka membangun imajinasi. Ketika di udara saya jadi lebih suka bermonolog, apalagi kalau dapat window seat, rasanya surga. Jadi bebas leluasa memandang apa saja. Lihat awan kadang2 gak sengaja bikin fabel sendiri, rasanya jadi bernostalgia dengan masa kecil. Dulu sewaktu saya kecil suka sekali lihat awan, dan mengira-ngira awannya kira2 mirip hewan apa, lalu mulailah membikin fabel sendiri. Hahaha, ternyata saya memang suka menghayal sejak kecil. Tapi ada sih satu kekurangan naik pesawat terbang, harga tiketnya kemahalan, nggak terjangkau. Apalagi kalau Lebaran, bisa2 naik 2x lipat dari harga normal. Selebihnya, naik pesawat terbang itu menyenangkan. Oh ya satu lagi, berada diketinggian bikin saya dekat dengan Tuhan. Saya jadi lebih bersyukur karena Dia menciptakan alam semesta ini luar biasa indah dan seimbang. Tak ada yang cacat dalam penciptaanNya. Saya bersyukur bisa menikmati karuniaNya. Apa2 yg saya lihat di udara membuat saya kagum akan Tuhan saya. Saya jadi berpikir bagaimana cara kerja mereka, lihat awan yang menggantung, langit biru dan kadang2 kelabu, bintang2 yang gemerlap, matahari yang bersinar terang, air hujan yang turun dari gumpalan awan. Sungguh dalam penciptaanNya ada tanda2 kebesaran-Nya bagi orang2 yang berfikir.
Perjalanan menuju Cirebon, Jawa Barat
4 Februari 2017
Showing posts with label Unimportant Stories. Show all posts
Showing posts with label Unimportant Stories. Show all posts
Friday, February 03, 2017
Bekal Perjalanan
Adalah kesalahan besar jika dalam perjalanan atau dalam bepergian tidak membawa minyak kayu putih, pena dan buku catatan. Dalam hal minyak kayu putih jarang sih ketinggalan, karena ini sudah menjadi obat wajib sehari-hari, tapi kalau buka catatan ya ini yang sering kelupaaan.
Saya sih orangnya kalau diperjalanan suka berimajinasi. Jangankan naik pesawat, naik motor aja saya seringkali nggak fokus. Isi kepala seringkali berantakan. Sering kepikiran hal2 lain diluar berkendara. Ini kalau pihak kepolisian tahu bisa2 SIM C saya dicabut, jadinya gak boleh berkendara. Tapi syukurlah mereka nggak tahu. Hahaha.
Perjalanan kali ini kurang lengkap rasanya tanpa coret-coret sesuatu. Kepala jadinya makin gak karuan. Banyak yang bertebaran liar disana. Yang sayangnya tidak bisa saya kristalkan. Syukur Alhamdulillah perjalanan kali ini ada jaringan signal WiFi-nya jadi masih bisa nulis di blog. Enyiwei, kalau diperjalanan ada jaringan WiFi gini rasanya surga. Alhamdulillah cuaca siang ini lumayan cerah berawan. Do'akan perjalanan ini barokah ya..
Saya sih orangnya kalau diperjalanan suka berimajinasi. Jangankan naik pesawat, naik motor aja saya seringkali nggak fokus. Isi kepala seringkali berantakan. Sering kepikiran hal2 lain diluar berkendara. Ini kalau pihak kepolisian tahu bisa2 SIM C saya dicabut, jadinya gak boleh berkendara. Tapi syukurlah mereka nggak tahu. Hahaha.
Perjalanan kali ini kurang lengkap rasanya tanpa coret-coret sesuatu. Kepala jadinya makin gak karuan. Banyak yang bertebaran liar disana. Yang sayangnya tidak bisa saya kristalkan. Syukur Alhamdulillah perjalanan kali ini ada jaringan signal WiFi-nya jadi masih bisa nulis di blog. Enyiwei, kalau diperjalanan ada jaringan WiFi gini rasanya surga. Alhamdulillah cuaca siang ini lumayan cerah berawan. Do'akan perjalanan ini barokah ya..
Saturday, January 21, 2017
Cerita di Malam Minggu
"I love reading. I just hate having so many books to read and yet never having enough time to read them."
Kali ini ngebahas quote lagi. Hehe. Saya termasuk orang yang gemar membaca, dulunya. Kenapa saya bilang dulu? Karena kini intensitas saya pacaran sama buku jauh berkurang. Biasanya saya gemar mampir ke tokobuku, bawa sesuatu darisana, lalu membacanya beberapa waktu kemudian. Jangan kira 'beberapa waktu' disini dalam waktu yg relatif dekat dari tanggal dan waktu ketika saya membeli buku tersebut. Kenyataannya saya membaca sesuai mood saya. Seselonya (sesuai waktu selapangnya) saya.
Dulu, ketika saya masih hobi2nya membaca saya seringkali menimbun buku. Jadi saya sering mampir ke tokobuku dan membeli beberapa buku, lalu sesampainya di rumah mereka (buku2) tidak langsung dibaca. Disimpen dulu di rak buku, plastiknya aja gak langsung dibuka, ya asli diabaikan gitu aja. Mungkin kalau mereka bisa teriak mereka gak terima kali diperlakukan begitu. Haha. Mereka saya baca benar2 tergantung mood dan minat baca saya. Tergantung waktu lapangnya saya juga. Sebenarnya ya waktu lapang itu hanya alibi, kalau memang prioritas ya kapan aja bisa dikedepankan, ya kan? Ibarat PR waktu sekolah dulu, mau kegiatan kita seabrek pun tetap harus ngelirik PR sekolah. Tapi mungkin itulah yg membedakan PR dengan kegiatan baca tulis, PR menjadi mendekati wajib untuk dikerjakan sementara kegiatan baca tulis tidak. Mereka hanya utk mengisi waktu luang. Mereka hanya sebagai pleasure dan entertainment. Dengan kegiatan yang seperti inilah yang menyebabkan buku2 saya banyak sekali yang belum terbaca padahal mereka sudah lama sekali halal menjadi milik saya. Buku2 semenjak 1 atau 2 tahun yang lalu saya beli, atau barangkali 3 atau 4 tahun yg lalu masih ada loh yg belum saya sentuh, belum saya pacari, belum saya baca dan akrabi. Semoga saya tidak termasuk orang mendzolimi mereka. Amiin.
Akhir2 ini kegemaran saya dalam membaca jauh berkurang, saya tak tahu mengapa. Saya jarang berkunjung ke tokobuku, konon pula beli ya kan, mampir aja gak pernah? :(
Saya menjadi tidak terlalu hobi berbelanja buku. Biasanya ketika event tahun baru, minggu pertama awal tahun salah satu bookstore di Yogyakarta kerap mengadakan diskon special awal tahun. Gak tanggung2, all items men! Semua buku apapun yg ada di bookstore itu dibandrol promo diskon lumayan gede 30%. biasanya sih pada hari2 biasa hanya 10-15 %, tapi rata2nya 10%, gak heran pada event special awal tahun menjadi promo yg dinanti2 penikmat buku. Dulu saya sangat excited dgn promo ini. Gak jarang juga jd rajin menabung beberapa bulan sebelum hari H untuk kemudian pada hari H siap2 membobol tabungan. Pada event kayak gini suka khilaf sayanya. Belanja lumayan banyak cm krn promo, bacanya kapan? Entar2 deh, yang penting punya dulu. Gak jarang juga kebablasan gak dibaca sampai tahun berikutnya. Haha. Inilah yang dinamakan penimbun buku. 😄
Tapi semenjak mood baca saya berkurang, tahun ini menjadi tahun pertama saya tidak ikut serta pada event promo di atas. Dan seriously saya gak merasa menyesal. Saya gak lagi menggebu2 buat bolak-balik ke tokobuku untuk sekedar lihat2 atau searching buku tertentu. Sepertinya memang ada yang salah dengan saya ya? Jawabannya iya, tapi mungkin juga nggak. Saya sekarang lebih rileks mengenai buku. Gak cuma buku sih sebenarnya, dalam hal musik juga. Biasanya saya selalu 'maksain' untuk nonton konser musik musisi favorite saya. Tapi sebenarnya nggak juga sih, dari dulu memang agak membatasi. Kalau sekiranya jarak dari rumah menuju venue konser itu jauh dan sepi jalanannya, atau kalau venue nya di lapangan terbuka, saya pilih gak nonton. Apalagi kalau gak ada temen buat nonton barengnya, mending stay saved aja deh di-kosan. Saya kasih sampel. Bulan depan musisi favorite saya ada jadwal manggung, dan itu di kota. Di tempat yg representatif buat nonton konser, jarak rumah - venue gak jauh, gak terlalu sepi juga, namun saya agaknya pilih gak nonton. Gak tahu ya? Saya kok rasanya udah mendekati "males" untuk mengakrabi hobi2 saya dulu. Seperti ada yg menggerakkan, seperti ada yg berbisik itu tidak lagi menjadi prioritas saya. Prioritas saya kini hanya ingin segera menjadi Ibu, ehhh?? *kecolongan*
Sebenarnya saya gak nyesel karena mulai meninggalkan konser musik, yg agak saya sesalin ya hobi baca tulis saya ini. Saya merasakan banyak sekali manfaat membaca buku, sebab saya percaya buku itu gudang ilmu. Pepatah juga bilang bahwa buku adalah jendela dunia. Kita bisa mengetahui cakrawala dunia tanpa harus kita menetap disana, kita bisa mengetahui apa saja mengenai semesta dengan membaca. Yang terpenting manfaat membaca bagi saya adalah kita jadi bisa mengukur "kepekaan rasa" kita. Kita jd mengenali diri sendiri dan lebih mengakrabi semesta. Manfaat inilah yang tidak ingin saya hilangkan dari diri saya. Semoga semua ini kan cepat berlalu, semoga semua ini hanyalah persinggahan sementara bagiku... (revisi lirik musisi saya nih, hehe)
Jadi sebenarnya saya ingin sekali punya mood untuk bermesraan dengan pacar2 (baca: buku2) saya. Saya gak ingin mengabaikan mereka lebih lama lagi, saya ingin kembali merasakan jatuh cinta kepada buku. Semoga mereka bisa membimbing saya kembali...
Kali ini ngebahas quote lagi. Hehe. Saya termasuk orang yang gemar membaca, dulunya. Kenapa saya bilang dulu? Karena kini intensitas saya pacaran sama buku jauh berkurang. Biasanya saya gemar mampir ke tokobuku, bawa sesuatu darisana, lalu membacanya beberapa waktu kemudian. Jangan kira 'beberapa waktu' disini dalam waktu yg relatif dekat dari tanggal dan waktu ketika saya membeli buku tersebut. Kenyataannya saya membaca sesuai mood saya. Seselonya (sesuai waktu selapangnya) saya.
Dulu, ketika saya masih hobi2nya membaca saya seringkali menimbun buku. Jadi saya sering mampir ke tokobuku dan membeli beberapa buku, lalu sesampainya di rumah mereka (buku2) tidak langsung dibaca. Disimpen dulu di rak buku, plastiknya aja gak langsung dibuka, ya asli diabaikan gitu aja. Mungkin kalau mereka bisa teriak mereka gak terima kali diperlakukan begitu. Haha. Mereka saya baca benar2 tergantung mood dan minat baca saya. Tergantung waktu lapangnya saya juga. Sebenarnya ya waktu lapang itu hanya alibi, kalau memang prioritas ya kapan aja bisa dikedepankan, ya kan? Ibarat PR waktu sekolah dulu, mau kegiatan kita seabrek pun tetap harus ngelirik PR sekolah. Tapi mungkin itulah yg membedakan PR dengan kegiatan baca tulis, PR menjadi mendekati wajib untuk dikerjakan sementara kegiatan baca tulis tidak. Mereka hanya utk mengisi waktu luang. Mereka hanya sebagai pleasure dan entertainment. Dengan kegiatan yang seperti inilah yang menyebabkan buku2 saya banyak sekali yang belum terbaca padahal mereka sudah lama sekali halal menjadi milik saya. Buku2 semenjak 1 atau 2 tahun yang lalu saya beli, atau barangkali 3 atau 4 tahun yg lalu masih ada loh yg belum saya sentuh, belum saya pacari, belum saya baca dan akrabi. Semoga saya tidak termasuk orang mendzolimi mereka. Amiin.
Akhir2 ini kegemaran saya dalam membaca jauh berkurang, saya tak tahu mengapa. Saya jarang berkunjung ke tokobuku, konon pula beli ya kan, mampir aja gak pernah? :(
Saya menjadi tidak terlalu hobi berbelanja buku. Biasanya ketika event tahun baru, minggu pertama awal tahun salah satu bookstore di Yogyakarta kerap mengadakan diskon special awal tahun. Gak tanggung2, all items men! Semua buku apapun yg ada di bookstore itu dibandrol promo diskon lumayan gede 30%. biasanya sih pada hari2 biasa hanya 10-15 %, tapi rata2nya 10%, gak heran pada event special awal tahun menjadi promo yg dinanti2 penikmat buku. Dulu saya sangat excited dgn promo ini. Gak jarang juga jd rajin menabung beberapa bulan sebelum hari H untuk kemudian pada hari H siap2 membobol tabungan. Pada event kayak gini suka khilaf sayanya. Belanja lumayan banyak cm krn promo, bacanya kapan? Entar2 deh, yang penting punya dulu. Gak jarang juga kebablasan gak dibaca sampai tahun berikutnya. Haha. Inilah yang dinamakan penimbun buku. 😄
Tapi semenjak mood baca saya berkurang, tahun ini menjadi tahun pertama saya tidak ikut serta pada event promo di atas. Dan seriously saya gak merasa menyesal. Saya gak lagi menggebu2 buat bolak-balik ke tokobuku untuk sekedar lihat2 atau searching buku tertentu. Sepertinya memang ada yang salah dengan saya ya? Jawabannya iya, tapi mungkin juga nggak. Saya sekarang lebih rileks mengenai buku. Gak cuma buku sih sebenarnya, dalam hal musik juga. Biasanya saya selalu 'maksain' untuk nonton konser musik musisi favorite saya. Tapi sebenarnya nggak juga sih, dari dulu memang agak membatasi. Kalau sekiranya jarak dari rumah menuju venue konser itu jauh dan sepi jalanannya, atau kalau venue nya di lapangan terbuka, saya pilih gak nonton. Apalagi kalau gak ada temen buat nonton barengnya, mending stay saved aja deh di-kosan. Saya kasih sampel. Bulan depan musisi favorite saya ada jadwal manggung, dan itu di kota. Di tempat yg representatif buat nonton konser, jarak rumah - venue gak jauh, gak terlalu sepi juga, namun saya agaknya pilih gak nonton. Gak tahu ya? Saya kok rasanya udah mendekati "males" untuk mengakrabi hobi2 saya dulu. Seperti ada yg menggerakkan, seperti ada yg berbisik itu tidak lagi menjadi prioritas saya. Prioritas saya kini hanya ingin segera menjadi Ibu, ehhh?? *kecolongan*
Sebenarnya saya gak nyesel karena mulai meninggalkan konser musik, yg agak saya sesalin ya hobi baca tulis saya ini. Saya merasakan banyak sekali manfaat membaca buku, sebab saya percaya buku itu gudang ilmu. Pepatah juga bilang bahwa buku adalah jendela dunia. Kita bisa mengetahui cakrawala dunia tanpa harus kita menetap disana, kita bisa mengetahui apa saja mengenai semesta dengan membaca. Yang terpenting manfaat membaca bagi saya adalah kita jadi bisa mengukur "kepekaan rasa" kita. Kita jd mengenali diri sendiri dan lebih mengakrabi semesta. Manfaat inilah yang tidak ingin saya hilangkan dari diri saya. Semoga semua ini kan cepat berlalu, semoga semua ini hanyalah persinggahan sementara bagiku... (revisi lirik musisi saya nih, hehe)
Jadi sebenarnya saya ingin sekali punya mood untuk bermesraan dengan pacar2 (baca: buku2) saya. Saya gak ingin mengabaikan mereka lebih lama lagi, saya ingin kembali merasakan jatuh cinta kepada buku. Semoga mereka bisa membimbing saya kembali...
Wednesday, April 10, 2013
Taman Kanak-Kanak
Tubuh kurus tak berbentuk dengan berbungkus kulit berwarna coklat yang menggelap itu tersenyum, bahkan kerap kali tertawa renyah. Menertawakan hal yang seharusnya menjadi kegetirannya. Seorang bocah yang menakar segala hal dari skala otak kanak-kanaknya. Ringan. Amat sangat ringan. Tak tampak wajah berduka dari parasnya, tak terdeteksi cerminan sakit hati dari air mukanya. Padahal teman sepermainannya menertawakannya. Sepuas-puasnya, dengan nada tawa yang beraneka. Tapi ia memilih tersenyum dan bahkan ikut tertawa melebar. Tak mau memikirkan hal-hal yang menjadi urusan bagi dunia orang dewasa, sebab otak kanak-kanaknya belum cukup mampu untuk menjangkaunya. Jadi, ia memilih bermain, sepuas-puasnya. Dan bagiku itu adalah pilihan yang tepat, sebab memang ia tak punya lain pilihan. Hanya itu. Satu-satunya. Sebaik-baiknya.
Deg! Tiba-tiba detak jantungku terhenti seketika. Mataku menatap dalam ke arah matanya. Entah apa yang ingin kucari dan kutemukan disana, sebab aku tak melihat ada tanda-tanda. Sialnya lagi, ia tersenyum lebar membalas tatapanku. Seolah mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Ia baik-baik saja. Dan hatiku pun bergeming, menyadari sesuatu. Malam itu, ia mengajariku sesuatu.
Ia adalah seorang bocah, barangkali berusia berkisar sepuluh
atau sebelas tahun. Bocah perempuan malang dengan tubuh kurus tak berbentuk
berbungkus kulit berwarna coklat gelap. Kemalangannya tidak terletak pada wujud
fisiknya, melainkan pada nasib yang mempermainkannya. Ia adalah bocah yang
sejak lama ditinggal pergi ibunya. Sejak beberapa tahun lalu. Bahkan semenjak
ia kecil, katanya. Entah usia berapa, ia lupa. Ia juga mengaku tak mengingat
rupa ibu yang melahirkannya. Tak ada memori apa-apa yang melekat pada otaknya
kala itu, sebab kejadian itu sudah bertahun-tahun tergulung usang. Sudah
terlalu lama baginya, hingga ia lupa dan tidak menaruh harapan apa-apa. Hanya
kehidupan mendatang yang lebih baik. Hanya itu. Sesederhana itu. Ah, ia juga
keliru menyebut nama ibunya. Ibuku dan ia berperang argumen membenarkan nama
ibu kandungnya. Tapi akhirnya ia menyerah kalah. Barangkali karena ia masih
kanak-kanak yang memang tidak banyak mengetahui sejarah kehidupannya sendiri. Ia
mendengar kisah hidupnya dari orang-orang disekelilingnya.
Semenjak ibunya
pergi, dari cerita yang dituturkan teman mainnya itu aku mengetahui bahwa ia
memiliki empat ibu. Ia mengenalnya sebagai ibu pengganti. Temannya itu
mengatakan demikian dengan tawa yang melebar, pun dilengkapi dengan analogi
yang terdengar getir. “Uwak ini –menyebut ibuku- punya satu ibu, mbak ini
–menunjuk ke arahku- punya satu ibu, dan aku juga sama, mempunyai hanya satu
ibu saja, lalu kau –menunjuk bocah malang itu- kenapa kau punya empat? Hahaha. Dimana-mana
orang-orang hanya punya satu ibu, ibumu kenapa banyak sekali? Hahahaha… Temannya
berucap demikian dengan keras dan dihiasi tawa yang susul menyusul, pun deras. Jelas
sekali itu tawa yang terdengar mengejek.
Teman sepermainannya menertawakan garis kemalangan hidupnya
dengan tawa lebar dan suara renyah. Tetapi ia tidak tampak bersedih melihat
perlakuan teman mainnya itu. Bahkan ia pun ikut menertawakan itu. Jadilah
mereka berdua tertawa bersama. Sepuas-puasnya. Aku dan ibu saling menatap,
menjadi salah tingkah. Ibu memilih diam, sedang aku menelan ludah. Temannya itu
terlalu banyak berbicara dan tidak menyadari akibat yang bisa ditimbulkan dari
ucapannya. Tapi ya, mereka masih kanak-kanak. Mereka belum banyak mengerti.
Segala sikap mereka masih termaafkan, dan mereka masih bisa saling
mengampuni. Lalu aku bertanya getir
dalam hati, kegetiran macam apa ini? Adakah di dunia ini yang disebut sebagai ibu
pengganti? Ah, kepalaku mendadak pusing. Sakit sekali.
Aku memandang heran pada dua bocah didepanku yang sedang
puas tertawa. Bagaimana bisa mereka melakukan itu? Pertanyaan yang membuatku
merenung dan bingung. Tapi disanalah aku mendapat pijakan untuk belajar. Mereka
kanak-kanak. Dunia mereka adalah dunia kanak-kanak. Tidak perlu memikirkan hal
lain selain bermain, bermain, bermain ,dan belajar. Seperti taman kanak-kanak.
Ya, tempat mereka adalah taman kanak-kanak. Lebih banyak bermainnya ketimbang
belajarnya. Bermain agar riang, baru kemudian belajar. Bukankah anak-anak hanya
mau belajar jika hatinya telah riang? Sebab itulah mereka dipersilahkan bermain
lebih dahulu, baru kemudian dibujuk untuk belajar.
Lalu aku menilik pada dunia kanak-kanak. Dunia mereka
istimewa. Mereka nakal, meski tidak semua anak-anak adalah nakal, tapi paling
tidak kebanyakan dari mereka adalah anak-anak nakal. Tetapi segala kesalahan
dan kenakalan yang mereka perbuat termaafkan. Dan mereka juga makhluk agung,
sebab mereka makhluk pengampun. Mereka cepat melupakan kesalahan orang lain
yang melukai mereka, tak jarang dalam bentuk fisik pula. Seringkali kita jumpai
dua anak saling memukul karena berebut mainan, anak yang kalah lalu menangis,
tetapi beberapa menit kemudian mereka sudah berbaikan. Kembali bermain bersama,
menyenangkan hati masing-masing. Barangkali kita, makhluk dewasa, perlu belajar
dari dunia kanak-kanak mereka. Menjadi makhluk pemaaf dan pengampun, seberapa
besar pun kesalahan orang lain yang diperbuat kepada kita. Kita memang tidak
lagi dalam fase bermain, tapi kita selangkah di depan fase mereka, kita
meloncat ke fase belajar. Sebuah pelajaran yang berharga dari dunia mereka.
Seperti bocah itu yang memaafkan kesalahan besar ibunya yang
sedari ia kecil meninggalkannya, juga mengampuni ayahnya yang tidak menyertakan
dirinya meneguk nikmatnya memiliki keluarga baru. Keluarga utuh yang ada peran
ayah dan ibu, meski bukan seorang ibu kandung. Tapi ia mengerti, setidaknya
mencoba mengerti, dan ia mengampuni. Sebab ia kanak-kanak.
Kini ayahnya telah
menikah lagi, memiliki keluarga baru dan menetap di lain tempat. Sedang gadis
bocah itu menetap dan tinggal bersama neneknya dari pihak ayah. Tetapi ia bocah
yang riang. Ia bocah yang pandai menertawakan kegetiran hidupnya. Bocah yang
tidak memiliki dunia lain selain dunia kanak-kanaknya. Ia hanya punya itu. Dan
memang ia belum boleh memiliki dunia selain itu. Ia harus menikmati taman
kanak-kanaknya. Sepuas-puasnya. Dan ia mengajarkan sesuatu kepadaku, seperti
ia, barangkali aku juga harus belajar menertawakan kegetiranku. Getir yang
takkan terasa menyakitkan sebab disanding dengan derai tawa yang lebar. Tawa
yang bersanding dengan kegetiran, bukan getir yang disanding dalam
persembunyian tawa. Dan lewat derai tawa gadis bocah itu aku mengerti, bahwa
hidup harus seimbang. Juga penuh syukur.
Rumah
Thursday, November 8th, 2012
2:40 pm
Subscribe to:
Posts (Atom)