Sepanjang perjalanan darat, banyak sekali jalanan yang berlubang. Ini jalanan benar2 memprihatinkan. Lubangnya terlalu banyak dan lumayan dalam. Setiap pengendara harus mengurangi laju kecepatan kendaraan dan harus ekstra hati-hati menatap jalanan. Itulah kenapa saya lebih menyukai perjalanan udara ketimbang perjalanan darat. Bukannya perjalanan udara tanpa hambatan, justru perjalanan udara tergolong mengerikan dalam hal kecelakaan. Saya ngeri tiap ngebayanginnya jadinya gak akan saya bahas efek kecelakaan pesawat terbang. Setiap orang pasti tahu akan kengerian itu. Tapi tahukah bahwa konon katanya pesawat terbang (kendaraan udara) merupakan alat transportasi yang minim kecelakaan?
Tingkat kecelakaan pesawat terbang jauh lebih kecil dibandingkan kecelakaan pada transportasi darat maupun laut. Yang kita lihat dan dengar dari media tentang kecelakaan pesawat terbang itulah sebagian kecil kecelakaan transportasi udara, sehingga ketika ada kecelakaan maka ia seolah menjadi satu berita yang besar atau lebih tepatnya dibesar-besarkan. Jika kita amati tiap hari raya besar keagamaan seperti Lebaran (Idul Fitri) misalnya, banyak sekali kendaraan darat, laut, maupun udara yang berlalu lintas di lintasannya masing2. Nah, pada saat hari raya keagamaan itulah banyak terjadi kecelakaan darat maupun laut, kecelakaan darat menjadi tingkat tertinggi, sementara kita jarang mendengar kecelakaan pesawat terbang pada hari raya keagamaan. Kalaupun ada datanya tidak sebanyak kecelakaan alat transportasi darat maupun laut. Sebenarnya kendaraan laut juga lumayan aman, namun umumnya kecelakaan ini seringkali terjadi karena overload penumpang. Beberapa tahun belakangan ini menjelang tahun baru kasus yang ada seperti itu, umumnya mereka lebih mengedapankan omset ketimbang keamanan dan kenyamanan penumpangnya. Miris sekali. Harusnya itu bisa ditanggulangi agar tidak terjadi demikian, namun segelintir orang lebih suka memanfaatkan keadaan demi keuntungan pribadi. Menyedihkan. Nilai kemanusiaan tidak lebih tipis dari kulit bawang.
Yang bikin saya ketagihan naik pesawat terbang adalah efek dari naik pesawat terbang itu sendiri. Saya jadi suka berada diawang2. Saya suka melihat langit, awan dan kadang2 air hujan dari ketinggian. Yang tidak kalah menakjubkan saya jadi suka membangun imajinasi. Ketika di udara saya jadi lebih suka bermonolog, apalagi kalau dapat window seat, rasanya surga. Jadi bebas leluasa memandang apa saja. Lihat awan kadang2 gak sengaja bikin fabel sendiri, rasanya jadi bernostalgia dengan masa kecil. Dulu sewaktu saya kecil suka sekali lihat awan, dan mengira-ngira awannya kira2 mirip hewan apa, lalu mulailah membikin fabel sendiri. Hahaha, ternyata saya memang suka menghayal sejak kecil. Tapi ada sih satu kekurangan naik pesawat terbang, harga tiketnya kemahalan, nggak terjangkau. Apalagi kalau Lebaran, bisa2 naik 2x lipat dari harga normal. Selebihnya, naik pesawat terbang itu menyenangkan. Oh ya satu lagi, berada diketinggian bikin saya dekat dengan Tuhan. Saya jadi lebih bersyukur karena Dia menciptakan alam semesta ini luar biasa indah dan seimbang. Tak ada yang cacat dalam penciptaanNya. Saya bersyukur bisa menikmati karuniaNya. Apa2 yg saya lihat di udara membuat saya kagum akan Tuhan saya. Saya jadi berpikir bagaimana cara kerja mereka, lihat awan yang menggantung, langit biru dan kadang2 kelabu, bintang2 yang gemerlap, matahari yang bersinar terang, air hujan yang turun dari gumpalan awan. Sungguh dalam penciptaanNya ada tanda2 kebesaran-Nya bagi orang2 yang berfikir.
Perjalanan menuju Cirebon, Jawa Barat
4 Februari 2017
Showing posts with label Dear God. Show all posts
Showing posts with label Dear God. Show all posts
Friday, February 03, 2017
Thursday, June 02, 2016
...
Sebigini
sakitnya ternyata tak punya pilihan! Begini rupanya cara saya “dibunuh”. Tidakkah mereka sadar bahwa saya punya jiwa?
Tidakkah mereka paham bahwa jiwa itu kini terluka? Tidakkah mereka bisa lebih
beramah tamah dengan manusia? My dear God, I need You. I always need You.
Please, show me the way to go home. Show me to follow You.
Wednesday, June 01, 2016
I Choose Nothing
Begini ya rasanya terjebak pada pilihan? Bukan karena
dihadapkan begitu banyak pilihan tetapi karena nyaris tak bisa memilih karena
tak punya pilihan apapun. Terlebih lagi pilihan itu tidak menyenangkan.
Sejatinya saya bukan orang yang gemar dihadapkan dengan pilihan macam-macam
kalau toh satu pilihan saja sudah memusingkan. Sebab memilih bagi saya setara
dengan menentukan jalan buat hidup saya. Satu pilihan akan membuka
pilihan-pilihan lain. Satu jalan akan membawa langkah saya semakin jauh
menemukan jalan lain yang sayangnya saya tidak tahu apakah jalan itu benar
jalan yang ingin saya tuju. Saya sendiri bukan orang yang jago dalam hal
memilih. Bukan pula orang yang bisa diandalkan dalam menetapkan sebuah pilihan
dan keputusan. Saya seringkali pusing sendiri hanya karena selera rasa saya
yang aneh. Sering berganti-ganti. Saya seringkali “disesatkan” oleh perintah
otak saya sendiri. Begitulah, bagi saya memilih tak pernah terbilang mudah.
Apalagi saya tak punya kuasa untuk memilih, bahkan hanya untuk sekedar mengatakan
kata “tidak”. Sejatinya dalam proses pemilihan hanya ada dua pilihan. Iya atau
tidak. Namun ketika dalam peroses pemilihan tersebut jawaban kita nyaris tak
bakal diperhitungkan, apa guna kita mempunyai hak pilih? Apa guna kita
disodorkan pada pilihan iya dan tidak yang nilainya semu semata? Dalam hal ini
pilihan apapun nyaris tak berarti. Kuasa telah memegang kendali. Dan saya telah
mati tanpa pilihan yang bisa saya pertimbangkan. Karena dalam hal ini tak
pernah ada yang namanya proses pemilihan. Jual beli sudah dipatenkan. Tak boleh
ada tawar menawar. Tak boleh mengkalkulasi untung-rugi. Semua sudah beroperasi
layaknya pasar pagi.
Sunday, November 30, 2014
Bait Pertama
Dan… Haruskah semuanya kembali ke bait pertama???
"Disini ku menggenggam takdir ditanganku
Aku coba menahan tak menangisimu
Di bait pertama
Di bait pertama
Sekuat kaki ini mencoba berlari
Tetapi hati ini menuntunnya kembali
Ke bait pertama
Ke bait pertama
Berjalan… hidupku tanpamu
Hidupku tanpamu… di bait pertama
Bertahan… untuk menantimu
Karna menantimu… di bait pertama
Karna langkah ke belakang
membuat luka semakin dalam
tak ada lain pilihan
kecuali terus bertahan
Dan diujung lidah ini
ribuan kata menari
dan menuntunmu kembali
di bait pertama lagi"
*Sheila on 7 - Bait Pertama*
Saturday, November 01, 2014
Saturday, October 25, 2014
Masih Kalah
Rhoma Irama benar, jangan begadang kalau tiada artinya. Apalagi
kalau hanya begadang memikirkan orang yang seharusnya sudah terlupakan. Selarut
ini aku masih belum bisa tidur juga. Sialnya tanpa disertai niat ingin
begadang. Padahal udah beberapa jam yang lalu aku nyalain lampu tidur. Udah
beberapa jam yang lalu juga aku gelundang-gelundung ga jelas di kasur. Berdo’a
penuh harap. Berharap mata bisa terpejam demi jatuh pada tidur terbaik. Tapi percobaanku
belum juga berhasil. Dan sialnya aku ga bisa tidur hanya karena memikirkan seseorang
yang sangat ingin tidak ku kenang lagi dalam hari-hariku. Apalagi pada saat momen-momen
seperti ini. Momen menjelang tidur. Damn!! I hate the moment like this. Aku
benci saat aku terjebak pada momen dimana aku lebih dikuasai kesadaran rasa dan
bukan lagi kesadaran logika. Secara logika, seharusnya rasa ini berhenti
mengalir untuknya. Cinta ini semestinya tak lagi bermuara kepadanya. Tapi rasa butuh
kerja ekstra keras untuk pelan-pelan mengusir itu. Ya Tuhan, kapan masa itu
akan datang? Aku ingin segera mencecapnya. Jujur, aku capek begini terus. Terlalu
capek merintih. Capek rasanya terus-terusan berperang melawan rasaku sendiri. Sebab
disetiap percobaan yang kulakukan, aku selalu saja kalah.
“Sulit
sekali menyangkal bahwa aku sayang kamu. Bahwa setiap malam menjelang tidur aku
selalu mengingatmu. Kadang-kadang menangis diam-diam dibalik bantal.”
Subscribe to:
Posts (Atom)