Berbahagialah kalian wahai kaum lelaki karena tidak pernah merasakan sakit bulanannya kaum perempuan. Kalau bulanannya aja ada sakitnya lalu bayangkan bagaimana sakitnya perempuan hamil selama 9 bulan? 🌜🌵
Sakit bulanan itu disebut PMS (Pra Menstruation Syndrome). Sakit yang rasanya nyeri tak terkira sebab menjelang atau datangnya haidh. Sakit tipe ini memang gak setiap bulan datang, hanya sesekali. Tidak setiap datangnya haidh disertai nyeri perut seperti ini. Tapi jika ia datang, rasanya gak karuan. Rasanya tak ada perumpaan yang tepat ataupun bahasa yang dapat mewakili pemaparan sakitnya. Mau tiduran, duduk, jongkok, berdiri atau posisi apapun sakitnya tetap terasa. Satu2nya yg bikin hilang rasa sejenak adalah tidur pulas. Ingat ya, hanya tidur pulas. Kalau hanya sekedar tiduran dijamin sakitnya gak hilang. Kadang2 walaupun sudah tidur pulas, namun ketika bangun sakitnya kembali datang. Bisa berjam2an sakit begini, kadangkala ada pula yang seharian. Kebayang gak rasanya?
Tapi... Semua itu belum seberapa dibandingkan sakitnya perempuan hamil. Saya sih memang belum pernah hamil, jadi belum tahu pasti sakitnya seperti apa. Kalau ngebayangin kadang2 super ngeri, apalagi kalau ngebayangin keadaan melahirkan. Ampun, saya belum punya nyali. Namun semua itu tidak memupuskan harapan saya agar segera hamil, LoL.
Keadaan sakit nyeri haidh ini bikin saya ingat dengan pemaparan penulis favorite saya, Sidney Sheldon. He said that he liked to use woman character on his novels that represented that woman has tremendous power. I agree with him. Bahwa setiap perempuan itu hebat. Setiap perempuan terlahir kuat. Ia seperti memang diciptakan dengan multi talenta. Sejatinya tidak ada perempuan yang biasa2 saja. Semua perempuan luar biasa. Semua perempuan istimewa. Semua perempuan berharga. Saya berbangga terlahir sebagai perempuan. Bahwa perempuanlah embrio kehidupan. Bahwa ditangan perempuanlah peradaban dibangun.
Kembali ke masalah melahirkan. Kita tahu dari cerita orang2 bahwa melahirkan itu sakit luar biasa. Disana ada pertaruhan nyawa hidup dan mati seorang perempuan. Puncak sakitnya mengandung ada di bab melahirkan. Saya percaya semua perempuan takut dengan melahirkan, namun toh Allah memberikan kekuatan yang nggak bisa diduga bahkan oleh mereka sendiri. Kalau dibayangin memang ngeri tapi pertolongan Allah nyatanya mampu menutup semua luka dan sakit mereka. Ketika bayi yang didamba telah lahir, bersama itu pula senyum mereka mengembang. Maka resmilah mereka menjadi Ibu. Manusia yang akan membangun peradaban.
Dari kejadian nyeri haidh ini saya belajar bahwa sebenarnya ini adalah ujian bertahap sebelum menuju fase melahirkan. Sakit bulanan yang kadang2 datang ini adalah sakit yang sifatnya bertahap. Sakitnya gak setiap sebulan sekali datang, hanya sesekali. Tapi yang sesekali itulah yang bikin perempuan belajar lebih kuat. Perempuan seperti disiapkan untuk episode yang jauh lebih besar, episode mengandung dan melahirkan. Bayangkan mengandung seorang bayi selama 9 bulan itu sakitnya seperti apa ya kalau PMS seharian aja sakitnya seperti ini? 😑 Itulah kekuatan perempuan.
Katanya kalau mengandung itu apa2 susah, tidur susah, buang air susah, jalan susah. Setiap fase mengandung perempuan itu bukannya tanpa risiko. Tri semester pertama, pada tahap ini katanya calon Ibu seringkali merasa mual. Apa2 yang masuk ke mulut seolah2 keluar juga (dimuntahkan). Tapi calon Ibu harus tetap semangat makan nutrisi bergizi demi pertumbuhan janin dalam rahimnya. Walaupun selang beberapa saat makanan yang terpaksa dimasukkan dengan berat hati harus keluar karena bawaan muntah2. Biasanya kayak gini yang bikin Ibu hamil enggan makan. Tapi kalau nggak makan nanti lebih berbahaya lagi katanya. Dilemma kan jadi perempuan? Belum lagi tahapan2 mengandung lainnya. Kalau perut Ibu sudah besar (kandungan tua), mereka harus menopang dua tubuh sekaligus, tubuhnya sendiri dan tubuh calon bayinya. Nggak usah ditanya kita pasti tahu rasanya berat. Dan itu mereka rasakan selama lebih kurang 9 bulan. Membawa-bawa seorang janin dalam kandungan selama 9 bulan itu membikin saya semakin takjub pada perempuan. Buat saya perempuan itu akan jauh terlihat cantik saat mengandung besar, saat perut dan anggota tubuh yang lain terpaksa ikut membesar. Jauh berbeda dari ukuran tubuhnya semula.
Yang membuat saya kagum pada perempuan adalah seberapa pun sakitnya derita perempuan mereka selalu bisa mengatasinya. Perempuan seperti dibimbing langsung oleh Tuhan bagaimana mengobati luka dan sakitnya. Insting mereka tajam. Kasih sayang mereka tanpa batas. Mereka menjadi pusat kehidupan. Bahwa tak ada kelahiran tanpa seorang perempuan. Bahwa tak ada peradaban tanpa 'sentuhan' seorang perempuan. Cara mereka menyembuhkan luka, mengobati sakit, menahan perih, membesarkan dan mendidik anak terlahir dengan sendirinya. Alam semesta yang mengajari mereka. Pengalaman menjadikan mereka Ibu terhebat bagi anak2 mereka. Inilah yang menyebabkan tak ada Ibu yang cacat. Setiap anak pasti mengagumi Ibu mereka masing2. Betapapun tak sempurna pengasuhan Ibu mereka, mereka tak bisa mencari Ibu pengganti. Itulah mengapa Ibu mereka menjadi Ibu terbaik. Rapor Ibu tak ada yang merah. Ibu mereka tetap Ibu terbaik walaupun dibandingkan dengan Ibu siapa saja. Sekalipun dibandingkan dengan Ibu mertua. Inilah mungkin yang menjadi alasan besar bagi setiap anak perempuan agar ketika mereka melahirkan mereka ingin didampingi oleh Ibu kandung mereka, dan bukan Ibu2 lain, sekalipun Ibunya Ibu (nenek) atau Ibu mertua. Dengan pengorbanan Ibu yang luar biasa itulah rasanya sepadan bahwa ada surga di telapak kaki Ibu. Anak2 yang ingin masuk surga sejatinya syaratnya tak susah, cukup muliakan Ibu mereka itu sudah termasuk kunci surga. Tetapi semakin dewasa anak2 belajar mencintai orang lain. Mungkin dalam tahap ini setiap ayah dan Ibu merasa pilu. Bahwa anak2 yang dikandung dan diasuhnya akan mulai membangun peradaban kecil lagi melalui keluarga. Mereka akan mentasbihkan calon Ibu2 yang baru. Mereka akan membangun peradaban secara turun-temurun. Begitulah seterusnya. Hingga peradaban yang lebih besar lahir dan berkembang. Surga2 baru tercipta dengan alami melalui Kuasa Ilahi. Begitulah Allah mengistimewakan seorang perempuan. Jadi bagaimanapun sakitnya menjadi perempuan nikmati saja. Perjuanganmu akan dibalas dengan sangat manis. Contohnya saja saya, dari nyeri haidh ini bisa menghasilkan tulisan absurd ini 😄
PS: penulis menulis tulisan ini sambil meringis menahan sakit. Nyeri haidh ini istimewa! 🍺
Showing posts with label Babling Babbling. Show all posts
Showing posts with label Babling Babbling. Show all posts
Friday, February 10, 2017
Thursday, February 09, 2017
La La La
Kalau ada yang bertanya "pernah jatuh cinta?". "Hanya beberapa kali." Lalu bagaimana dengan patah hati, pernahkah?Tentu saja. Untuk yang ini lebih banyak jumlahnya. Hahaha.
Ngomongin tentang 2 hal diatas gw berasa kayak agak erosi hati. Kalau menilik sejarah sih emang kekasih2 gw sih nggak ada yang ganteng (dosa apa ya gw gak pernah punya cowok ganteng, haha), jadi emang gw jarang ngerasa super jealous ke mereka. Atau mungkin sebenarnya gw gak punya rasa cemburu ya? Haha, parah! Tapi emang sih, gw ngerasa jarang atau mungkin hampir nggak pernah ngerasa cemburu sama kekasih2 gw hanya karena cara mereka beradaptasi dengan wanita2 lain selain gw. Kalau dipikir2 sih buat apa juga? Kalau cuma bikin susah gw aja mah ogah. Jadi bisa disimpulkan erosi rasa gw nggak disebabkan dari hal yg satu ini.
Kadang2 gw heran, semakin kesini kenapa rasa gw jadi jauh berubah? Rasanya gw ada di fase degradasi hati/rasa. Gw jadi bertanya-tanya cewek2 lain ngerasa gini juga nggak sih? Apa cuma gw aja? Gw kadang2 jadi kangen sama masa2 gw jatuh cinta dan patah hati dulu. Rasanya menakjubkan. Gw bisa jatuh cinta dan patah hati sekaligus dalam waktu yg bersamaaan. Jauh bangett sama keadaan gw sekarang. Apa karena sekarang gw udah jauh lebih "matang" mengolah rasa? Ah, entahlah. Mudah2an sih begitu.
So, what's the problem, Ucrit? Gw pengen menikah biar bisa ngerasain jatuh cinta yang sebenarnya.
Ngomongin tentang 2 hal diatas gw berasa kayak agak erosi hati. Kalau menilik sejarah sih emang kekasih2 gw sih nggak ada yang ganteng (dosa apa ya gw gak pernah punya cowok ganteng, haha), jadi emang gw jarang ngerasa super jealous ke mereka. Atau mungkin sebenarnya gw gak punya rasa cemburu ya? Haha, parah! Tapi emang sih, gw ngerasa jarang atau mungkin hampir nggak pernah ngerasa cemburu sama kekasih2 gw hanya karena cara mereka beradaptasi dengan wanita2 lain selain gw. Kalau dipikir2 sih buat apa juga? Kalau cuma bikin susah gw aja mah ogah. Jadi bisa disimpulkan erosi rasa gw nggak disebabkan dari hal yg satu ini.
Kadang2 gw heran, semakin kesini kenapa rasa gw jadi jauh berubah? Rasanya gw ada di fase degradasi hati/rasa. Gw jadi bertanya-tanya cewek2 lain ngerasa gini juga nggak sih? Apa cuma gw aja? Gw kadang2 jadi kangen sama masa2 gw jatuh cinta dan patah hati dulu. Rasanya menakjubkan. Gw bisa jatuh cinta dan patah hati sekaligus dalam waktu yg bersamaaan. Jauh bangett sama keadaan gw sekarang. Apa karena sekarang gw udah jauh lebih "matang" mengolah rasa? Ah, entahlah. Mudah2an sih begitu.
So, what's the problem, Ucrit? Gw pengen menikah biar bisa ngerasain jatuh cinta yang sebenarnya.
Friday, February 03, 2017
Perjalanan
Sepanjang perjalanan darat, banyak sekali jalanan yang berlubang. Ini jalanan benar2 memprihatinkan. Lubangnya terlalu banyak dan lumayan dalam. Setiap pengendara harus mengurangi laju kecepatan kendaraan dan harus ekstra hati-hati menatap jalanan. Itulah kenapa saya lebih menyukai perjalanan udara ketimbang perjalanan darat. Bukannya perjalanan udara tanpa hambatan, justru perjalanan udara tergolong mengerikan dalam hal kecelakaan. Saya ngeri tiap ngebayanginnya jadinya gak akan saya bahas efek kecelakaan pesawat terbang. Setiap orang pasti tahu akan kengerian itu. Tapi tahukah bahwa konon katanya pesawat terbang (kendaraan udara) merupakan alat transportasi yang minim kecelakaan?
Tingkat kecelakaan pesawat terbang jauh lebih kecil dibandingkan kecelakaan pada transportasi darat maupun laut. Yang kita lihat dan dengar dari media tentang kecelakaan pesawat terbang itulah sebagian kecil kecelakaan transportasi udara, sehingga ketika ada kecelakaan maka ia seolah menjadi satu berita yang besar atau lebih tepatnya dibesar-besarkan. Jika kita amati tiap hari raya besar keagamaan seperti Lebaran (Idul Fitri) misalnya, banyak sekali kendaraan darat, laut, maupun udara yang berlalu lintas di lintasannya masing2. Nah, pada saat hari raya keagamaan itulah banyak terjadi kecelakaan darat maupun laut, kecelakaan darat menjadi tingkat tertinggi, sementara kita jarang mendengar kecelakaan pesawat terbang pada hari raya keagamaan. Kalaupun ada datanya tidak sebanyak kecelakaan alat transportasi darat maupun laut. Sebenarnya kendaraan laut juga lumayan aman, namun umumnya kecelakaan ini seringkali terjadi karena overload penumpang. Beberapa tahun belakangan ini menjelang tahun baru kasus yang ada seperti itu, umumnya mereka lebih mengedapankan omset ketimbang keamanan dan kenyamanan penumpangnya. Miris sekali. Harusnya itu bisa ditanggulangi agar tidak terjadi demikian, namun segelintir orang lebih suka memanfaatkan keadaan demi keuntungan pribadi. Menyedihkan. Nilai kemanusiaan tidak lebih tipis dari kulit bawang.
Yang bikin saya ketagihan naik pesawat terbang adalah efek dari naik pesawat terbang itu sendiri. Saya jadi suka berada diawang2. Saya suka melihat langit, awan dan kadang2 air hujan dari ketinggian. Yang tidak kalah menakjubkan saya jadi suka membangun imajinasi. Ketika di udara saya jadi lebih suka bermonolog, apalagi kalau dapat window seat, rasanya surga. Jadi bebas leluasa memandang apa saja. Lihat awan kadang2 gak sengaja bikin fabel sendiri, rasanya jadi bernostalgia dengan masa kecil. Dulu sewaktu saya kecil suka sekali lihat awan, dan mengira-ngira awannya kira2 mirip hewan apa, lalu mulailah membikin fabel sendiri. Hahaha, ternyata saya memang suka menghayal sejak kecil. Tapi ada sih satu kekurangan naik pesawat terbang, harga tiketnya kemahalan, nggak terjangkau. Apalagi kalau Lebaran, bisa2 naik 2x lipat dari harga normal. Selebihnya, naik pesawat terbang itu menyenangkan. Oh ya satu lagi, berada diketinggian bikin saya dekat dengan Tuhan. Saya jadi lebih bersyukur karena Dia menciptakan alam semesta ini luar biasa indah dan seimbang. Tak ada yang cacat dalam penciptaanNya. Saya bersyukur bisa menikmati karuniaNya. Apa2 yg saya lihat di udara membuat saya kagum akan Tuhan saya. Saya jadi berpikir bagaimana cara kerja mereka, lihat awan yang menggantung, langit biru dan kadang2 kelabu, bintang2 yang gemerlap, matahari yang bersinar terang, air hujan yang turun dari gumpalan awan. Sungguh dalam penciptaanNya ada tanda2 kebesaran-Nya bagi orang2 yang berfikir.
Perjalanan menuju Cirebon, Jawa Barat
4 Februari 2017
Tingkat kecelakaan pesawat terbang jauh lebih kecil dibandingkan kecelakaan pada transportasi darat maupun laut. Yang kita lihat dan dengar dari media tentang kecelakaan pesawat terbang itulah sebagian kecil kecelakaan transportasi udara, sehingga ketika ada kecelakaan maka ia seolah menjadi satu berita yang besar atau lebih tepatnya dibesar-besarkan. Jika kita amati tiap hari raya besar keagamaan seperti Lebaran (Idul Fitri) misalnya, banyak sekali kendaraan darat, laut, maupun udara yang berlalu lintas di lintasannya masing2. Nah, pada saat hari raya keagamaan itulah banyak terjadi kecelakaan darat maupun laut, kecelakaan darat menjadi tingkat tertinggi, sementara kita jarang mendengar kecelakaan pesawat terbang pada hari raya keagamaan. Kalaupun ada datanya tidak sebanyak kecelakaan alat transportasi darat maupun laut. Sebenarnya kendaraan laut juga lumayan aman, namun umumnya kecelakaan ini seringkali terjadi karena overload penumpang. Beberapa tahun belakangan ini menjelang tahun baru kasus yang ada seperti itu, umumnya mereka lebih mengedapankan omset ketimbang keamanan dan kenyamanan penumpangnya. Miris sekali. Harusnya itu bisa ditanggulangi agar tidak terjadi demikian, namun segelintir orang lebih suka memanfaatkan keadaan demi keuntungan pribadi. Menyedihkan. Nilai kemanusiaan tidak lebih tipis dari kulit bawang.
Yang bikin saya ketagihan naik pesawat terbang adalah efek dari naik pesawat terbang itu sendiri. Saya jadi suka berada diawang2. Saya suka melihat langit, awan dan kadang2 air hujan dari ketinggian. Yang tidak kalah menakjubkan saya jadi suka membangun imajinasi. Ketika di udara saya jadi lebih suka bermonolog, apalagi kalau dapat window seat, rasanya surga. Jadi bebas leluasa memandang apa saja. Lihat awan kadang2 gak sengaja bikin fabel sendiri, rasanya jadi bernostalgia dengan masa kecil. Dulu sewaktu saya kecil suka sekali lihat awan, dan mengira-ngira awannya kira2 mirip hewan apa, lalu mulailah membikin fabel sendiri. Hahaha, ternyata saya memang suka menghayal sejak kecil. Tapi ada sih satu kekurangan naik pesawat terbang, harga tiketnya kemahalan, nggak terjangkau. Apalagi kalau Lebaran, bisa2 naik 2x lipat dari harga normal. Selebihnya, naik pesawat terbang itu menyenangkan. Oh ya satu lagi, berada diketinggian bikin saya dekat dengan Tuhan. Saya jadi lebih bersyukur karena Dia menciptakan alam semesta ini luar biasa indah dan seimbang. Tak ada yang cacat dalam penciptaanNya. Saya bersyukur bisa menikmati karuniaNya. Apa2 yg saya lihat di udara membuat saya kagum akan Tuhan saya. Saya jadi berpikir bagaimana cara kerja mereka, lihat awan yang menggantung, langit biru dan kadang2 kelabu, bintang2 yang gemerlap, matahari yang bersinar terang, air hujan yang turun dari gumpalan awan. Sungguh dalam penciptaanNya ada tanda2 kebesaran-Nya bagi orang2 yang berfikir.
Perjalanan menuju Cirebon, Jawa Barat
4 Februari 2017
Bekal Perjalanan
Adalah kesalahan besar jika dalam perjalanan atau dalam bepergian tidak membawa minyak kayu putih, pena dan buku catatan. Dalam hal minyak kayu putih jarang sih ketinggalan, karena ini sudah menjadi obat wajib sehari-hari, tapi kalau buka catatan ya ini yang sering kelupaaan.
Saya sih orangnya kalau diperjalanan suka berimajinasi. Jangankan naik pesawat, naik motor aja saya seringkali nggak fokus. Isi kepala seringkali berantakan. Sering kepikiran hal2 lain diluar berkendara. Ini kalau pihak kepolisian tahu bisa2 SIM C saya dicabut, jadinya gak boleh berkendara. Tapi syukurlah mereka nggak tahu. Hahaha.
Perjalanan kali ini kurang lengkap rasanya tanpa coret-coret sesuatu. Kepala jadinya makin gak karuan. Banyak yang bertebaran liar disana. Yang sayangnya tidak bisa saya kristalkan. Syukur Alhamdulillah perjalanan kali ini ada jaringan signal WiFi-nya jadi masih bisa nulis di blog. Enyiwei, kalau diperjalanan ada jaringan WiFi gini rasanya surga. Alhamdulillah cuaca siang ini lumayan cerah berawan. Do'akan perjalanan ini barokah ya..
Saya sih orangnya kalau diperjalanan suka berimajinasi. Jangankan naik pesawat, naik motor aja saya seringkali nggak fokus. Isi kepala seringkali berantakan. Sering kepikiran hal2 lain diluar berkendara. Ini kalau pihak kepolisian tahu bisa2 SIM C saya dicabut, jadinya gak boleh berkendara. Tapi syukurlah mereka nggak tahu. Hahaha.
Perjalanan kali ini kurang lengkap rasanya tanpa coret-coret sesuatu. Kepala jadinya makin gak karuan. Banyak yang bertebaran liar disana. Yang sayangnya tidak bisa saya kristalkan. Syukur Alhamdulillah perjalanan kali ini ada jaringan signal WiFi-nya jadi masih bisa nulis di blog. Enyiwei, kalau diperjalanan ada jaringan WiFi gini rasanya surga. Alhamdulillah cuaca siang ini lumayan cerah berawan. Do'akan perjalanan ini barokah ya..
Sunday, January 29, 2017
Harapan
Tak ada yang salah dengan harapan. Harapan
menjadi oase penyejuk bagi mereka yang letih berkelana. Harapan menjadi jembatan untuk sampai pada tujuan. Harapan membawa kita dekat dengan akhir perjalanan yang kita idamkan.
Sekonyol apapun harapan, ianya tak pernah salah. Harapan tidak dipandang dari sudut benar dan salah. Harapan boleh dihidupkan oleh siapa saja. Harapan ada untuk menyegarkan mereka yang letih berkelana, sekaligus menjadi jembatan pemberitahuan bahwa belum saatnya berhenti. Belum saatnya menyerah kalah. Belum tiba waktunya menghentikan langkah.
Harapanmu tidak ditentukan oleh orang lain. Harapanmu mutlak menjadi milikmu sendiri. Harapanmu tidak seharusnya dipatahkan orang lain. Harapanmu semestinya tetap hidup didalam dirimu. Harapanmu tak boleh mengecil sekalipun dunia tak selalu ramah padamu. Harapanmu tak boleh pupus. Harapanmu harus tetap ada. Harapanmu harus tetap menyala. Harapan harus menjadi nyata. Mungkin memang tidak semua, paling tidak pastikan beberapa.
menjadi oase penyejuk bagi mereka yang letih berkelana. Harapan menjadi jembatan untuk sampai pada tujuan. Harapan membawa kita dekat dengan akhir perjalanan yang kita idamkan.
Sekonyol apapun harapan, ianya tak pernah salah. Harapan tidak dipandang dari sudut benar dan salah. Harapan boleh dihidupkan oleh siapa saja. Harapan ada untuk menyegarkan mereka yang letih berkelana, sekaligus menjadi jembatan pemberitahuan bahwa belum saatnya berhenti. Belum saatnya menyerah kalah. Belum tiba waktunya menghentikan langkah.
Harapanmu tidak ditentukan oleh orang lain. Harapanmu mutlak menjadi milikmu sendiri. Harapanmu tidak seharusnya dipatahkan orang lain. Harapanmu semestinya tetap hidup didalam dirimu. Harapanmu tak boleh mengecil sekalipun dunia tak selalu ramah padamu. Harapanmu tak boleh pupus. Harapanmu harus tetap ada. Harapanmu harus tetap menyala. Harapan harus menjadi nyata. Mungkin memang tidak semua, paling tidak pastikan beberapa.
Sunday, January 22, 2017
Cerita Embuh
Iseng-iseng kirim pesan ke mantan "hei, aku nge-blog lagi loh. Aku mulai nulis lagi".
Jawaban dia "Iyakah? Palingan ga sebagus dulu nulisnya"
Dari jawabannya atas pertanyaanku diatas akhirnya membuatku berpikir benarkah kualitas menulisku semakin entah? Hmm...
Jawabanku ke dia ya aku akhirnya pilih ngegombalin dia. Aku bilang ke dia bahwa tulisanku gak sebagus dulu krn objeknya bukan dia 😄. Padahal ya akunya sedikit terusik juga sama jawaban cerocosnya. Hahaha.
How come? Nih anak mulutnya suka sak penake dewe. Suka2 dia aja gitu mau ngomong apa aja ttg aku. Gak mikir apakah aku tersinggung apa gak, apakah aku bakalan terusik dgn ucapannya apa nggak. Dia udah kehilangan etika berbicara kalau ngomong sama aku. Mudah2an sih cuma sama aku aja sih dia kek gitu. Tapi aku kok gak yakin ya? Haha
Oke, lanjut ke poin di atas. Kenapa bisa aku sedikit terusik dgn ucapannya di atas? Sebenarnya ya aku sih ngerasa tulisanku emang gak bagus. Tulisan isinya sampah semua. Lol. Tapi karena dia bilang paling2 tulisanku gak sebagus dulu, aku jadi agak ge-er juga, berarti tulisanku dulunya buat dia bagus. Berarti dia dulu suka caraku bercerita (tersenyum bangga 😄). Tapi efek dari bilang kek gitu aku jadi lihat2 arsip tulisanku, mencoba mengukur perbedaan tulisan beberapa tahun lalu dengan tulisan yg beberapa hari lalu aku posting di blog ini. Sialnya pada awal aku nulis blog ini, itu sudah melewati masa menjalin hubungan dengannya. Tulisanku ttgnya ada di Facebook. Dan sayangnya akun Facebookku sudah lama menjadi almarhumah. Si empunya kehilangan akses untuk masuk ke fb. Udah gak bisa diziarahi lagi tulisan2 yg ada di akun itu. Syedih. Jadilah awal cerita di blog ini adalah tentang lelaki lain. Lol (Habis ini akunya di unfriend oleh mereka, eh apa mending aku dahului mereka ya 😂)
Terus kesimpulannya apa? Nggak ada. Hahaha. Karena gak berhasil nemuin arsip tulisan jaman dulu waktu bareng dia, jadinya gak ada kesimpulan. Tulisanku dari dulu hingga kini bagus2 aja sih menurutku (ini sih akunya narsis parah, haha). Tapi ya yang namanya proses kreatif menulis itu kan naik turun, berkembang gitu, jadi ya setiap tulisan punya esensi dan cerita masing2, tergantung pembaca sih menilainya dari sudut mana. Tapi menurutku pribadi akunya males kalau tulisanku dinyinyirin. Dikira enak apa2 yg kita kerjakan dinyinyirin orang? Lah orang yg nyinyirin itu udah kasih kontribusi apa buat pemolesan karya tulisku? (alamak, bahasanya!) Nih ya aku kasih tahu, yang namanya penulis amatir kayak aku gini gak usah dinyinyirin karena emang ini tulisan cm cerita, belum ke ranah fiksi. Jadi gak usah prematur juga mengkritik ini itu. Harusnya disupprot terus biar rajin cerita, pembebasan jiwa lah. Biar balance antara rasa dan jiwanya. Biar gak gila. Syukur2 kalau berhasil bikin tulisan di blog dikasih coklat 1 kg sebagai award. Kan biar penulisnya semangat nulis sampah terus. Ala biasa karena biasa, men! Semuanya proses. Jadi better orang kayak aku gini didukung terus, disayangin, dinikahin. Eh?? 😄
Jawaban dia "Iyakah? Palingan ga sebagus dulu nulisnya"
Dari jawabannya atas pertanyaanku diatas akhirnya membuatku berpikir benarkah kualitas menulisku semakin entah? Hmm...
Jawabanku ke dia ya aku akhirnya pilih ngegombalin dia. Aku bilang ke dia bahwa tulisanku gak sebagus dulu krn objeknya bukan dia 😄. Padahal ya akunya sedikit terusik juga sama jawaban cerocosnya. Hahaha.
How come? Nih anak mulutnya suka sak penake dewe. Suka2 dia aja gitu mau ngomong apa aja ttg aku. Gak mikir apakah aku tersinggung apa gak, apakah aku bakalan terusik dgn ucapannya apa nggak. Dia udah kehilangan etika berbicara kalau ngomong sama aku. Mudah2an sih cuma sama aku aja sih dia kek gitu. Tapi aku kok gak yakin ya? Haha
Oke, lanjut ke poin di atas. Kenapa bisa aku sedikit terusik dgn ucapannya di atas? Sebenarnya ya aku sih ngerasa tulisanku emang gak bagus. Tulisan isinya sampah semua. Lol. Tapi karena dia bilang paling2 tulisanku gak sebagus dulu, aku jadi agak ge-er juga, berarti tulisanku dulunya buat dia bagus. Berarti dia dulu suka caraku bercerita (tersenyum bangga 😄). Tapi efek dari bilang kek gitu aku jadi lihat2 arsip tulisanku, mencoba mengukur perbedaan tulisan beberapa tahun lalu dengan tulisan yg beberapa hari lalu aku posting di blog ini. Sialnya pada awal aku nulis blog ini, itu sudah melewati masa menjalin hubungan dengannya. Tulisanku ttgnya ada di Facebook. Dan sayangnya akun Facebookku sudah lama menjadi almarhumah. Si empunya kehilangan akses untuk masuk ke fb. Udah gak bisa diziarahi lagi tulisan2 yg ada di akun itu. Syedih. Jadilah awal cerita di blog ini adalah tentang lelaki lain. Lol (Habis ini akunya di unfriend oleh mereka, eh apa mending aku dahului mereka ya 😂)
Terus kesimpulannya apa? Nggak ada. Hahaha. Karena gak berhasil nemuin arsip tulisan jaman dulu waktu bareng dia, jadinya gak ada kesimpulan. Tulisanku dari dulu hingga kini bagus2 aja sih menurutku (ini sih akunya narsis parah, haha). Tapi ya yang namanya proses kreatif menulis itu kan naik turun, berkembang gitu, jadi ya setiap tulisan punya esensi dan cerita masing2, tergantung pembaca sih menilainya dari sudut mana. Tapi menurutku pribadi akunya males kalau tulisanku dinyinyirin. Dikira enak apa2 yg kita kerjakan dinyinyirin orang? Lah orang yg nyinyirin itu udah kasih kontribusi apa buat pemolesan karya tulisku? (alamak, bahasanya!) Nih ya aku kasih tahu, yang namanya penulis amatir kayak aku gini gak usah dinyinyirin karena emang ini tulisan cm cerita, belum ke ranah fiksi. Jadi gak usah prematur juga mengkritik ini itu. Harusnya disupprot terus biar rajin cerita, pembebasan jiwa lah. Biar balance antara rasa dan jiwanya. Biar gak gila. Syukur2 kalau berhasil bikin tulisan di blog dikasih coklat 1 kg sebagai award. Kan biar penulisnya semangat nulis sampah terus. Ala biasa karena biasa, men! Semuanya proses. Jadi better orang kayak aku gini didukung terus, disayangin, dinikahin. Eh?? 😄
Saturday, January 21, 2017
Cerita di Malam Minggu
"I love reading. I just hate having so many books to read and yet never having enough time to read them."
Kali ini ngebahas quote lagi. Hehe. Saya termasuk orang yang gemar membaca, dulunya. Kenapa saya bilang dulu? Karena kini intensitas saya pacaran sama buku jauh berkurang. Biasanya saya gemar mampir ke tokobuku, bawa sesuatu darisana, lalu membacanya beberapa waktu kemudian. Jangan kira 'beberapa waktu' disini dalam waktu yg relatif dekat dari tanggal dan waktu ketika saya membeli buku tersebut. Kenyataannya saya membaca sesuai mood saya. Seselonya (sesuai waktu selapangnya) saya.
Dulu, ketika saya masih hobi2nya membaca saya seringkali menimbun buku. Jadi saya sering mampir ke tokobuku dan membeli beberapa buku, lalu sesampainya di rumah mereka (buku2) tidak langsung dibaca. Disimpen dulu di rak buku, plastiknya aja gak langsung dibuka, ya asli diabaikan gitu aja. Mungkin kalau mereka bisa teriak mereka gak terima kali diperlakukan begitu. Haha. Mereka saya baca benar2 tergantung mood dan minat baca saya. Tergantung waktu lapangnya saya juga. Sebenarnya ya waktu lapang itu hanya alibi, kalau memang prioritas ya kapan aja bisa dikedepankan, ya kan? Ibarat PR waktu sekolah dulu, mau kegiatan kita seabrek pun tetap harus ngelirik PR sekolah. Tapi mungkin itulah yg membedakan PR dengan kegiatan baca tulis, PR menjadi mendekati wajib untuk dikerjakan sementara kegiatan baca tulis tidak. Mereka hanya utk mengisi waktu luang. Mereka hanya sebagai pleasure dan entertainment. Dengan kegiatan yang seperti inilah yang menyebabkan buku2 saya banyak sekali yang belum terbaca padahal mereka sudah lama sekali halal menjadi milik saya. Buku2 semenjak 1 atau 2 tahun yang lalu saya beli, atau barangkali 3 atau 4 tahun yg lalu masih ada loh yg belum saya sentuh, belum saya pacari, belum saya baca dan akrabi. Semoga saya tidak termasuk orang mendzolimi mereka. Amiin.
Akhir2 ini kegemaran saya dalam membaca jauh berkurang, saya tak tahu mengapa. Saya jarang berkunjung ke tokobuku, konon pula beli ya kan, mampir aja gak pernah? :(
Saya menjadi tidak terlalu hobi berbelanja buku. Biasanya ketika event tahun baru, minggu pertama awal tahun salah satu bookstore di Yogyakarta kerap mengadakan diskon special awal tahun. Gak tanggung2, all items men! Semua buku apapun yg ada di bookstore itu dibandrol promo diskon lumayan gede 30%. biasanya sih pada hari2 biasa hanya 10-15 %, tapi rata2nya 10%, gak heran pada event special awal tahun menjadi promo yg dinanti2 penikmat buku. Dulu saya sangat excited dgn promo ini. Gak jarang juga jd rajin menabung beberapa bulan sebelum hari H untuk kemudian pada hari H siap2 membobol tabungan. Pada event kayak gini suka khilaf sayanya. Belanja lumayan banyak cm krn promo, bacanya kapan? Entar2 deh, yang penting punya dulu. Gak jarang juga kebablasan gak dibaca sampai tahun berikutnya. Haha. Inilah yang dinamakan penimbun buku. 😄
Tapi semenjak mood baca saya berkurang, tahun ini menjadi tahun pertama saya tidak ikut serta pada event promo di atas. Dan seriously saya gak merasa menyesal. Saya gak lagi menggebu2 buat bolak-balik ke tokobuku untuk sekedar lihat2 atau searching buku tertentu. Sepertinya memang ada yang salah dengan saya ya? Jawabannya iya, tapi mungkin juga nggak. Saya sekarang lebih rileks mengenai buku. Gak cuma buku sih sebenarnya, dalam hal musik juga. Biasanya saya selalu 'maksain' untuk nonton konser musik musisi favorite saya. Tapi sebenarnya nggak juga sih, dari dulu memang agak membatasi. Kalau sekiranya jarak dari rumah menuju venue konser itu jauh dan sepi jalanannya, atau kalau venue nya di lapangan terbuka, saya pilih gak nonton. Apalagi kalau gak ada temen buat nonton barengnya, mending stay saved aja deh di-kosan. Saya kasih sampel. Bulan depan musisi favorite saya ada jadwal manggung, dan itu di kota. Di tempat yg representatif buat nonton konser, jarak rumah - venue gak jauh, gak terlalu sepi juga, namun saya agaknya pilih gak nonton. Gak tahu ya? Saya kok rasanya udah mendekati "males" untuk mengakrabi hobi2 saya dulu. Seperti ada yg menggerakkan, seperti ada yg berbisik itu tidak lagi menjadi prioritas saya. Prioritas saya kini hanya ingin segera menjadi Ibu, ehhh?? *kecolongan*
Sebenarnya saya gak nyesel karena mulai meninggalkan konser musik, yg agak saya sesalin ya hobi baca tulis saya ini. Saya merasakan banyak sekali manfaat membaca buku, sebab saya percaya buku itu gudang ilmu. Pepatah juga bilang bahwa buku adalah jendela dunia. Kita bisa mengetahui cakrawala dunia tanpa harus kita menetap disana, kita bisa mengetahui apa saja mengenai semesta dengan membaca. Yang terpenting manfaat membaca bagi saya adalah kita jadi bisa mengukur "kepekaan rasa" kita. Kita jd mengenali diri sendiri dan lebih mengakrabi semesta. Manfaat inilah yang tidak ingin saya hilangkan dari diri saya. Semoga semua ini kan cepat berlalu, semoga semua ini hanyalah persinggahan sementara bagiku... (revisi lirik musisi saya nih, hehe)
Jadi sebenarnya saya ingin sekali punya mood untuk bermesraan dengan pacar2 (baca: buku2) saya. Saya gak ingin mengabaikan mereka lebih lama lagi, saya ingin kembali merasakan jatuh cinta kepada buku. Semoga mereka bisa membimbing saya kembali...
Kali ini ngebahas quote lagi. Hehe. Saya termasuk orang yang gemar membaca, dulunya. Kenapa saya bilang dulu? Karena kini intensitas saya pacaran sama buku jauh berkurang. Biasanya saya gemar mampir ke tokobuku, bawa sesuatu darisana, lalu membacanya beberapa waktu kemudian. Jangan kira 'beberapa waktu' disini dalam waktu yg relatif dekat dari tanggal dan waktu ketika saya membeli buku tersebut. Kenyataannya saya membaca sesuai mood saya. Seselonya (sesuai waktu selapangnya) saya.
Dulu, ketika saya masih hobi2nya membaca saya seringkali menimbun buku. Jadi saya sering mampir ke tokobuku dan membeli beberapa buku, lalu sesampainya di rumah mereka (buku2) tidak langsung dibaca. Disimpen dulu di rak buku, plastiknya aja gak langsung dibuka, ya asli diabaikan gitu aja. Mungkin kalau mereka bisa teriak mereka gak terima kali diperlakukan begitu. Haha. Mereka saya baca benar2 tergantung mood dan minat baca saya. Tergantung waktu lapangnya saya juga. Sebenarnya ya waktu lapang itu hanya alibi, kalau memang prioritas ya kapan aja bisa dikedepankan, ya kan? Ibarat PR waktu sekolah dulu, mau kegiatan kita seabrek pun tetap harus ngelirik PR sekolah. Tapi mungkin itulah yg membedakan PR dengan kegiatan baca tulis, PR menjadi mendekati wajib untuk dikerjakan sementara kegiatan baca tulis tidak. Mereka hanya utk mengisi waktu luang. Mereka hanya sebagai pleasure dan entertainment. Dengan kegiatan yang seperti inilah yang menyebabkan buku2 saya banyak sekali yang belum terbaca padahal mereka sudah lama sekali halal menjadi milik saya. Buku2 semenjak 1 atau 2 tahun yang lalu saya beli, atau barangkali 3 atau 4 tahun yg lalu masih ada loh yg belum saya sentuh, belum saya pacari, belum saya baca dan akrabi. Semoga saya tidak termasuk orang mendzolimi mereka. Amiin.
Akhir2 ini kegemaran saya dalam membaca jauh berkurang, saya tak tahu mengapa. Saya jarang berkunjung ke tokobuku, konon pula beli ya kan, mampir aja gak pernah? :(
Saya menjadi tidak terlalu hobi berbelanja buku. Biasanya ketika event tahun baru, minggu pertama awal tahun salah satu bookstore di Yogyakarta kerap mengadakan diskon special awal tahun. Gak tanggung2, all items men! Semua buku apapun yg ada di bookstore itu dibandrol promo diskon lumayan gede 30%. biasanya sih pada hari2 biasa hanya 10-15 %, tapi rata2nya 10%, gak heran pada event special awal tahun menjadi promo yg dinanti2 penikmat buku. Dulu saya sangat excited dgn promo ini. Gak jarang juga jd rajin menabung beberapa bulan sebelum hari H untuk kemudian pada hari H siap2 membobol tabungan. Pada event kayak gini suka khilaf sayanya. Belanja lumayan banyak cm krn promo, bacanya kapan? Entar2 deh, yang penting punya dulu. Gak jarang juga kebablasan gak dibaca sampai tahun berikutnya. Haha. Inilah yang dinamakan penimbun buku. 😄
Tapi semenjak mood baca saya berkurang, tahun ini menjadi tahun pertama saya tidak ikut serta pada event promo di atas. Dan seriously saya gak merasa menyesal. Saya gak lagi menggebu2 buat bolak-balik ke tokobuku untuk sekedar lihat2 atau searching buku tertentu. Sepertinya memang ada yang salah dengan saya ya? Jawabannya iya, tapi mungkin juga nggak. Saya sekarang lebih rileks mengenai buku. Gak cuma buku sih sebenarnya, dalam hal musik juga. Biasanya saya selalu 'maksain' untuk nonton konser musik musisi favorite saya. Tapi sebenarnya nggak juga sih, dari dulu memang agak membatasi. Kalau sekiranya jarak dari rumah menuju venue konser itu jauh dan sepi jalanannya, atau kalau venue nya di lapangan terbuka, saya pilih gak nonton. Apalagi kalau gak ada temen buat nonton barengnya, mending stay saved aja deh di-kosan. Saya kasih sampel. Bulan depan musisi favorite saya ada jadwal manggung, dan itu di kota. Di tempat yg representatif buat nonton konser, jarak rumah - venue gak jauh, gak terlalu sepi juga, namun saya agaknya pilih gak nonton. Gak tahu ya? Saya kok rasanya udah mendekati "males" untuk mengakrabi hobi2 saya dulu. Seperti ada yg menggerakkan, seperti ada yg berbisik itu tidak lagi menjadi prioritas saya. Prioritas saya kini hanya ingin segera menjadi Ibu, ehhh?? *kecolongan*
Sebenarnya saya gak nyesel karena mulai meninggalkan konser musik, yg agak saya sesalin ya hobi baca tulis saya ini. Saya merasakan banyak sekali manfaat membaca buku, sebab saya percaya buku itu gudang ilmu. Pepatah juga bilang bahwa buku adalah jendela dunia. Kita bisa mengetahui cakrawala dunia tanpa harus kita menetap disana, kita bisa mengetahui apa saja mengenai semesta dengan membaca. Yang terpenting manfaat membaca bagi saya adalah kita jadi bisa mengukur "kepekaan rasa" kita. Kita jd mengenali diri sendiri dan lebih mengakrabi semesta. Manfaat inilah yang tidak ingin saya hilangkan dari diri saya. Semoga semua ini kan cepat berlalu, semoga semua ini hanyalah persinggahan sementara bagiku... (revisi lirik musisi saya nih, hehe)
Jadi sebenarnya saya ingin sekali punya mood untuk bermesraan dengan pacar2 (baca: buku2) saya. Saya gak ingin mengabaikan mereka lebih lama lagi, saya ingin kembali merasakan jatuh cinta kepada buku. Semoga mereka bisa membimbing saya kembali...
Friday, January 20, 2017
Ceracau Aliran tanpa Hambatan
"Kalau airnya ngalir, enak ya?". Itu adalah pertanyaan teman saya mengenai wastafel yang mampet di sekolah saya. Biasanya wastafel itu kita pakai untuk mencuci tangan ketika hendak makan atau setelah melakukan kegiatan, atau kapanpun ketika kita ingin mencuci tangan. Airnya mengalir ke pembuangan tanpa terhambat. Tapi kini saat wastafel yg biasanya digunakan sehari-hari mampet, akhirnya untuk sementara waktu tidak bisa digunakan. Terpaksa berjalan agak jauh, pindah ke wastafel lain.
Dari satu pertanyaan itu imaji saya terbang jauh. Ada yang tetiba berbisik dalam diri saya "kalau amal jariyahnya banyak enak ya, besok kalau sudah meninggal masih bisa mengalir ke kita terus pahalanya." Kadang2 saya suka heran dengan alam pikiran saya sendiri, tak ada yg benar2 bisa saya pahami. Meskipun ianya milik saya. Ia suka melompat kesana-kemari. Dari yang mulanya selentingan pertanyaan kecil membawa saya berpikir jauh. Alam imaji saya seringkali tak terkendali. Tapi ya saya bersyukur dengan apapun yg sudah Allah berikan ke saya, termasuk alam pikiran yang absurd ini.
Saya bersyukur dengan analogi pemikiran saya yg seringkali tak terduga. Seperti contoh diatas misalnya. Jujur saja, saya takjub dengan pemikiran yg demikian. Saya semacam diingatkan untuk selalu berbuat baik dan beramal sholih, bershodaqoh amal jariyah kepada siapa saja semampu saya. Sebab pada akhirnya amal2 itulah yang akan menolong dan meringankan hukuman dan dosa2 saya kelak di akhirat sana.
Karena alam akhirat itu ghoib namun pasti adanya, saya suka ngeri ngebayangin besok di akhirat itu gimana. Semua serba rahasia. Kita diperlakukan sebagaimana perlakuan kita di dunia. Ada Allah sebagai hakim tertinggi. Punya semua catatan dan bukti amalan dan dosa2 kita tanpa pernah kita bisa sembunyi darinya, mudah2an kelak kita mendapat ampunanNya. Amiin. Bye the way, ngomongin akhiratnya udahan ya, ngeri sendiri saya jadinya. Karena sebelum ke akhirat, kita harus mampir ke alam barzah dulu. Menunggu Qiamat datang dengan menanggung siksa kubur yang panjang. Entah sampai kapan waktunya kita dibangkitkan Tuhan.
Nah, sekarang kiita tarik benang merahnya. Kembali ke amal jariyah tadi. Kalau amalan2 kita banyak dan bermanfaat bagi banyak orang, amalan2 itu terus mengalir meskipun ruh telah terpisah dari raga. Selagi kita menanti hari kebangkitan yang entah kapan datangnya, kita mampir di alam barzah dulu. Kalau amalan2 kita banyak dan terus mengalir, banyak orang yg mendo'akan dan memanfaatkan amalan jariyah kita, kita bisa panen kebaikan di alam lain. Syukur2 berakibat siksa kubur kita diringankan atau malah dihapuskan. Apalagi jika amalan2 itu mjd pemberat timbangan amal kita di yaumul hisab, kan lumayan nambah2 amal, jadinya jarak tempuh dan waktu di surga atau neraka lebih pendek. Sebenarnya ada 3 hal yang tak terputus ke kita, masih bisa kita rasakan manfaatnya meskipun kita telah tiada lagi di dunia. Apa itu? 1. Anak yang sholih 2. Ilmu yang bermanfaat 3. Amal jariyah. Saya takut salah kalau ketiganya ntar saya jabarin, jadi end clear closed aja ya..
(Kenapa tetiba saya jadi tausyiah ya? Haha. Maafkan)
Jadi intinya saya cuma mau bilang, kepekaan rasa itu perlu diasah. Ia tak datang tiba2. Ia datang dengan perjalanan juga. Awalnya harus kita undang, tapi setelah ia datang bagaimana perlakuan kita terhadapnya? Biasa aja? Menolak dan menyangkalnya, atau 'berkenalan' lebih jauh lagi kepadanya? Semua keputusan ada di tangan kita sendiri. Mau disikapi bagaimanapun itu mutlak pilihan kita. Seperti pemikiran ini misalnya, sebenarnya ini adalah pemikiran saya sekitaran 2 bulan yg lalu, tapi kenapa baru saya tuliskan sekarang? Saya gak tahu. Setelah berbulan2 saya abaikan, ia kini memanggil saya lagi. Mungkin ia tak ingin diabaikan oleh saya. Hehe. Jadi sebenarnya tak ada yang acak pada pemikiran kita, semua adalah 'panggilan' buat kita. Sama halnya seperti panggilan adzan. Ia memanggil2 bukan hanya utk didengarkan, tapi agar kita bersegera meninggalkan kegiatan duniawi dan segera mendirikan sholat, meraih kemenangan. (Maafkan jadi tausyiah lagi). Seperti itulah panggilan kita, ia memanggil2 agar kita merespon dan melakukan sesuatu. Semoga saja kita bisa lebih peka. ^^
Dari satu pertanyaan itu imaji saya terbang jauh. Ada yang tetiba berbisik dalam diri saya "kalau amal jariyahnya banyak enak ya, besok kalau sudah meninggal masih bisa mengalir ke kita terus pahalanya." Kadang2 saya suka heran dengan alam pikiran saya sendiri, tak ada yg benar2 bisa saya pahami. Meskipun ianya milik saya. Ia suka melompat kesana-kemari. Dari yang mulanya selentingan pertanyaan kecil membawa saya berpikir jauh. Alam imaji saya seringkali tak terkendali. Tapi ya saya bersyukur dengan apapun yg sudah Allah berikan ke saya, termasuk alam pikiran yang absurd ini.
Saya bersyukur dengan analogi pemikiran saya yg seringkali tak terduga. Seperti contoh diatas misalnya. Jujur saja, saya takjub dengan pemikiran yg demikian. Saya semacam diingatkan untuk selalu berbuat baik dan beramal sholih, bershodaqoh amal jariyah kepada siapa saja semampu saya. Sebab pada akhirnya amal2 itulah yang akan menolong dan meringankan hukuman dan dosa2 saya kelak di akhirat sana.
Karena alam akhirat itu ghoib namun pasti adanya, saya suka ngeri ngebayangin besok di akhirat itu gimana. Semua serba rahasia. Kita diperlakukan sebagaimana perlakuan kita di dunia. Ada Allah sebagai hakim tertinggi. Punya semua catatan dan bukti amalan dan dosa2 kita tanpa pernah kita bisa sembunyi darinya, mudah2an kelak kita mendapat ampunanNya. Amiin. Bye the way, ngomongin akhiratnya udahan ya, ngeri sendiri saya jadinya. Karena sebelum ke akhirat, kita harus mampir ke alam barzah dulu. Menunggu Qiamat datang dengan menanggung siksa kubur yang panjang. Entah sampai kapan waktunya kita dibangkitkan Tuhan.
Nah, sekarang kiita tarik benang merahnya. Kembali ke amal jariyah tadi. Kalau amalan2 kita banyak dan bermanfaat bagi banyak orang, amalan2 itu terus mengalir meskipun ruh telah terpisah dari raga. Selagi kita menanti hari kebangkitan yang entah kapan datangnya, kita mampir di alam barzah dulu. Kalau amalan2 kita banyak dan terus mengalir, banyak orang yg mendo'akan dan memanfaatkan amalan jariyah kita, kita bisa panen kebaikan di alam lain. Syukur2 berakibat siksa kubur kita diringankan atau malah dihapuskan. Apalagi jika amalan2 itu mjd pemberat timbangan amal kita di yaumul hisab, kan lumayan nambah2 amal, jadinya jarak tempuh dan waktu di surga atau neraka lebih pendek. Sebenarnya ada 3 hal yang tak terputus ke kita, masih bisa kita rasakan manfaatnya meskipun kita telah tiada lagi di dunia. Apa itu? 1. Anak yang sholih 2. Ilmu yang bermanfaat 3. Amal jariyah. Saya takut salah kalau ketiganya ntar saya jabarin, jadi end clear closed aja ya..
(Kenapa tetiba saya jadi tausyiah ya? Haha. Maafkan)
Jadi intinya saya cuma mau bilang, kepekaan rasa itu perlu diasah. Ia tak datang tiba2. Ia datang dengan perjalanan juga. Awalnya harus kita undang, tapi setelah ia datang bagaimana perlakuan kita terhadapnya? Biasa aja? Menolak dan menyangkalnya, atau 'berkenalan' lebih jauh lagi kepadanya? Semua keputusan ada di tangan kita sendiri. Mau disikapi bagaimanapun itu mutlak pilihan kita. Seperti pemikiran ini misalnya, sebenarnya ini adalah pemikiran saya sekitaran 2 bulan yg lalu, tapi kenapa baru saya tuliskan sekarang? Saya gak tahu. Setelah berbulan2 saya abaikan, ia kini memanggil saya lagi. Mungkin ia tak ingin diabaikan oleh saya. Hehe. Jadi sebenarnya tak ada yang acak pada pemikiran kita, semua adalah 'panggilan' buat kita. Sama halnya seperti panggilan adzan. Ia memanggil2 bukan hanya utk didengarkan, tapi agar kita bersegera meninggalkan kegiatan duniawi dan segera mendirikan sholat, meraih kemenangan. (Maafkan jadi tausyiah lagi). Seperti itulah panggilan kita, ia memanggil2 agar kita merespon dan melakukan sesuatu. Semoga saja kita bisa lebih peka. ^^
Thursday, January 19, 2017
I Won Myself
Naluri malam Jum'atnya lagi "keluar" harap maafkeun kalau ngomongnya ngelantur. 😁
"If your ex blocks you, you won".
👆
First time I read it, I laughed out loud. Because what? Because I had a kind-hearted ex, but I did it to my special ex. I did what? I blocked him from all social media accounts. I blocked him from my life. But, did I loose? No, I won. I won to fight myself to remember him, to pass away everything about him. Yeay! 🎉🎉🎉
Menjalin hubungan baik dengan masa lalu kita itu ibarat mengenali diri sendiri. Mengenali kekuatan yang kita punya. Ada memang hal2 yg perlu dan harus diingat dan dikenang, seperti wejangan norma2 kehidupan dari orang tua kita misalnya, namun disisi lain ada pula hal2 yg sengaja harus kita lupakan, ya misalnya perkara ex ini. Haha. Buatku masalah block menge-block ini bukan masalah menang kalah, tetapi lebih kepada melanjutkan hidup (lalu mengalunlah lagu Lanjutkan Hidupmu oleh Jikustik 😁). Kenapa begitu? Ya karena saya sadar, fase kehidupan saya dengannya hanya sampai di titik itu. Harus terhenti dan tidak mungkin dipaksakan untuk diteruskan. Seperti lembaran pada sebuah buku, ceritanya telah usai hingga halaman terakhir, tidak ada kelanjutan cerita karena penulis telah menamatkannya. Untuk melanjutkan cerita, kita hanya butuh lembaran baru, buku baru, orang baru. Eloknya dalam kisah kehidupan kita, penulisnya adalah Allah SWT. Dzat yang Maha Segala. Dia yang paling tahu apa2 yg terbaik buat kita. Sebagai hamba kita hanya perlu bersabar dengan cara kerja-Nya. Karena sesungguhnya dialah sebaik-baik Perencana.
Kembali ke masalah blok-memblok. Saya sedikitpun tidak merasa kalah karena telah memblok semua akunnya. I did unfriend, delete contact, unshared toward him. Honestly I'm free after did it. Alur hidup saya udah gak perlu lagi buat dia ketahui, begitupun sebaliknya. Gak penting lagi buat saya dia mau ngapain atau mau posting apapun karena ya itu tadi, kehidupan kita tdk lagi beririsan. Yang tadinya saling butuh kabar, ketika tdk lagi bersama kembali menjadi asing. Totally. Buatku memang lebih baik ga ada kontak sama sekali. Bukan karena masih nyeri, tapi lebih kepada penerimaan diri. Biar sama2 bisa melanjutkan hidup masing2. Gak saling mengetahui kan jadinya gak saling kepingin tahu detil lebih jauh. Biar kalau mau posting apa2 gak harus dikomentari. Kalau mau posting gebetan juga gak perlu jaga hati. Lol
Hal lain yang lebih penting dari sekedar penerimaan diri adalah menjaga hati. Kali ini tidak menjaga hati ex kita, tapi menjaga hati calon pasangan kita. Pasangan kita kan juga punya hati, nah hatinya itu yg kini harus dijaga. Yang namanya hati laki2 sekuat apa juga tetap aja bisa patah. Salah satu kekuatan lelaki itu runtuh karena wanita. Masa iya sih kita tega biarin pasangan kita yg baru hatinya patah? Ntar yg repot siapa? Ntar yg nyembuhin siapa? Ya kita juga. Jd better kita ga bersinggungan lagi dengan masalalu (ex), kesian ntar dianya senewen, gak bisa tidur, camberuan, ujung2nya jd nyinyir dan curigaan sama kita. Gak mau kan? Intinya kalau mau membangun hubungan baru jangan lagi ada sisa apapun dari orang masalalu kita. Buat saya sih gak nyaman. Saya pun gak mau diperlakukan demikian. Nah, sebenarnya rumus paling sederhana dalam kehidupan adalah "jika kamu tak ingin diperlakukan seperti yg tidak kamu mau, ya jangan memperlakukan orang lain seperti itu". Intinya hidup itu timbal balik. Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Begitupun sebaliknya.
Enyiwei, saya cuma ngeblok satu ex saya. Gak semua ex saya blok. Saya juga ada yg masih temenan sm ex di akun media sosial. Belum sampai pada tahap blok-memblok. (cuma belum aja nih, haha). Sejauh ini mereka masih dlm tahap normal, sesekali masih berkabar, kita juga gak ada dendam, dan udah gak punya rasa apa2, kadang2 kepo juga dgn urusan asmara masing2. Masih bisa dikatakan harmoni lah, masih bersilaturrahim dengan cara baik meskipun sudah beda frame. Nah, tetiba ada pertanyaan yg mengusik "lah terus apa yg membedakan masih bisa berhubungan dengan mantan atau tidak?". Hmm, mungkin kadar cintanya. Kadar cinta yg seperti apa? Ya gitu deh.
Tapi ya gak cuma sm mantan aja loh hukum blok-memblok itu berlaku di saya. Sama gebetan juga. Lol. Jadi ceritanya saya pernah jatuh cinta sm seseorang, tapi ya gitu ritmenya cinta dalam diam lagi, cinta dalam do'a lagi. (saya sih emang pecinta yg payah, gak berani jatuh cinta terang2an). Beberapa bulan kalau gak mau dibilang setahun, saya bisa menikmati kisahnya dari jauh. Awalnya sih fine2 aja tau aktivitas dan keberadaannya, tapi lama2 nyesek juga. Bobol juga pertahanan saya. Belajar dr yg kemarin gak boleh jatuh cinta diam2 lagi dlm waktu yg relatif lama, jdnya ambil short cut. Maka menarilah jari tekan tombol removed friend, delete contact, unfriend, unshared, and unfollow. Meskipun setelah itu sesal datang kemudian. Cerita ke temen adanya cuma diketawain. Syedih, teman macam apa dia ya? Haha.
Tapi ya itu, saya sadar bahwa setiap pilihan punya konsekuensi. Adalah kita yg memutuskan pilihan maka kita harus berani menanggung segala akibatnya. Kadang2 kita perlu pura2 tangguh untuk mengundang ketangguhan itu pd kita. Saya orangnya gitu. Saya sering ngomong sm cermin, ngomong sama diri saya sendiri agar diberikan kekuatan dan kemudahan dlm menghadapi warna-warni rasa, saya kenali diri saya dengan monolog supaya jiwa saya tau dia punya raga yg sejalan rasanya. Bahwa segala yg ada didalam diri saya harmoni adanya. Jiwa dan raga menanggungnya bersama.
Sekian.
"If your ex blocks you, you won".
👆
First time I read it, I laughed out loud. Because what? Because I had a kind-hearted ex, but I did it to my special ex. I did what? I blocked him from all social media accounts. I blocked him from my life. But, did I loose? No, I won. I won to fight myself to remember him, to pass away everything about him. Yeay! 🎉🎉🎉
Menjalin hubungan baik dengan masa lalu kita itu ibarat mengenali diri sendiri. Mengenali kekuatan yang kita punya. Ada memang hal2 yg perlu dan harus diingat dan dikenang, seperti wejangan norma2 kehidupan dari orang tua kita misalnya, namun disisi lain ada pula hal2 yg sengaja harus kita lupakan, ya misalnya perkara ex ini. Haha. Buatku masalah block menge-block ini bukan masalah menang kalah, tetapi lebih kepada melanjutkan hidup (lalu mengalunlah lagu Lanjutkan Hidupmu oleh Jikustik 😁). Kenapa begitu? Ya karena saya sadar, fase kehidupan saya dengannya hanya sampai di titik itu. Harus terhenti dan tidak mungkin dipaksakan untuk diteruskan. Seperti lembaran pada sebuah buku, ceritanya telah usai hingga halaman terakhir, tidak ada kelanjutan cerita karena penulis telah menamatkannya. Untuk melanjutkan cerita, kita hanya butuh lembaran baru, buku baru, orang baru. Eloknya dalam kisah kehidupan kita, penulisnya adalah Allah SWT. Dzat yang Maha Segala. Dia yang paling tahu apa2 yg terbaik buat kita. Sebagai hamba kita hanya perlu bersabar dengan cara kerja-Nya. Karena sesungguhnya dialah sebaik-baik Perencana.
Kembali ke masalah blok-memblok. Saya sedikitpun tidak merasa kalah karena telah memblok semua akunnya. I did unfriend, delete contact, unshared toward him. Honestly I'm free after did it. Alur hidup saya udah gak perlu lagi buat dia ketahui, begitupun sebaliknya. Gak penting lagi buat saya dia mau ngapain atau mau posting apapun karena ya itu tadi, kehidupan kita tdk lagi beririsan. Yang tadinya saling butuh kabar, ketika tdk lagi bersama kembali menjadi asing. Totally. Buatku memang lebih baik ga ada kontak sama sekali. Bukan karena masih nyeri, tapi lebih kepada penerimaan diri. Biar sama2 bisa melanjutkan hidup masing2. Gak saling mengetahui kan jadinya gak saling kepingin tahu detil lebih jauh. Biar kalau mau posting apa2 gak harus dikomentari. Kalau mau posting gebetan juga gak perlu jaga hati. Lol
Hal lain yang lebih penting dari sekedar penerimaan diri adalah menjaga hati. Kali ini tidak menjaga hati ex kita, tapi menjaga hati calon pasangan kita. Pasangan kita kan juga punya hati, nah hatinya itu yg kini harus dijaga. Yang namanya hati laki2 sekuat apa juga tetap aja bisa patah. Salah satu kekuatan lelaki itu runtuh karena wanita. Masa iya sih kita tega biarin pasangan kita yg baru hatinya patah? Ntar yg repot siapa? Ntar yg nyembuhin siapa? Ya kita juga. Jd better kita ga bersinggungan lagi dengan masalalu (ex), kesian ntar dianya senewen, gak bisa tidur, camberuan, ujung2nya jd nyinyir dan curigaan sama kita. Gak mau kan? Intinya kalau mau membangun hubungan baru jangan lagi ada sisa apapun dari orang masalalu kita. Buat saya sih gak nyaman. Saya pun gak mau diperlakukan demikian. Nah, sebenarnya rumus paling sederhana dalam kehidupan adalah "jika kamu tak ingin diperlakukan seperti yg tidak kamu mau, ya jangan memperlakukan orang lain seperti itu". Intinya hidup itu timbal balik. Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Begitupun sebaliknya.
Enyiwei, saya cuma ngeblok satu ex saya. Gak semua ex saya blok. Saya juga ada yg masih temenan sm ex di akun media sosial. Belum sampai pada tahap blok-memblok. (cuma belum aja nih, haha). Sejauh ini mereka masih dlm tahap normal, sesekali masih berkabar, kita juga gak ada dendam, dan udah gak punya rasa apa2, kadang2 kepo juga dgn urusan asmara masing2. Masih bisa dikatakan harmoni lah, masih bersilaturrahim dengan cara baik meskipun sudah beda frame. Nah, tetiba ada pertanyaan yg mengusik "lah terus apa yg membedakan masih bisa berhubungan dengan mantan atau tidak?". Hmm, mungkin kadar cintanya. Kadar cinta yg seperti apa? Ya gitu deh.
Tapi ya gak cuma sm mantan aja loh hukum blok-memblok itu berlaku di saya. Sama gebetan juga. Lol. Jadi ceritanya saya pernah jatuh cinta sm seseorang, tapi ya gitu ritmenya cinta dalam diam lagi, cinta dalam do'a lagi. (saya sih emang pecinta yg payah, gak berani jatuh cinta terang2an). Beberapa bulan kalau gak mau dibilang setahun, saya bisa menikmati kisahnya dari jauh. Awalnya sih fine2 aja tau aktivitas dan keberadaannya, tapi lama2 nyesek juga. Bobol juga pertahanan saya. Belajar dr yg kemarin gak boleh jatuh cinta diam2 lagi dlm waktu yg relatif lama, jdnya ambil short cut. Maka menarilah jari tekan tombol removed friend, delete contact, unfriend, unshared, and unfollow. Meskipun setelah itu sesal datang kemudian. Cerita ke temen adanya cuma diketawain. Syedih, teman macam apa dia ya? Haha.
Tapi ya itu, saya sadar bahwa setiap pilihan punya konsekuensi. Adalah kita yg memutuskan pilihan maka kita harus berani menanggung segala akibatnya. Kadang2 kita perlu pura2 tangguh untuk mengundang ketangguhan itu pd kita. Saya orangnya gitu. Saya sering ngomong sm cermin, ngomong sama diri saya sendiri agar diberikan kekuatan dan kemudahan dlm menghadapi warna-warni rasa, saya kenali diri saya dengan monolog supaya jiwa saya tau dia punya raga yg sejalan rasanya. Bahwa segala yg ada didalam diri saya harmoni adanya. Jiwa dan raga menanggungnya bersama.
Sekian.
Saturday, November 05, 2016
Menatap Kupu-kupu dalam Pantulan Diri
As usual tiap kali ga ada kerjaan ya jatuh-jatuhnya dengerin
music. Aslinya pengen nulis sih, tapi nulis itu jatuhnya lebih complicated.
Butuh waktu yang lebih lapang, dan yang terpenting butuh otak yang cemerlang. Sebagai
anak yang isi otaknya pas-pasan, harus sadar diri nih sayanya. Hahaha. Enyiwei,
ditengah keisengan dengerin music di playlist hape secara random, surprisingly I
found ‘Butterfly by Mariah Carey’. This song made me so speechless. Diantara
harap dan impian yang sengaja digaung-gaungkan setiap harinya, tiap hari ga
brenti ngomong sama diri sendiri lewat pantulan cermin, tiap kali punya
kesempatan selalu mencoba untuk mengingat-ingat dan merapal mantra “I want to
be a butterfly, no matter what!”, rasanya kayak ‘kesentil’ sudah berapa jauh
usaha saya demi menuju kesana? Menyedihkan bahwa saya belum mengepak
kemana-mana, saya masih ada dalam tahap telur. Masih dalam metamorfosa
kupu-kupu yang paling awal, paling dasar. Perjalanan masih teramat sangat jauh.
Sedih.
“Spread your wings and prepare to fly, for you have become a
butterfly, Fly abandonly into the sun!” begitu kata liriknya. Seperti kita tahu
bahwa untuk menjadi kupu-kupu memiliki step perjalanannya yang tidak singkat. Ia
butuh waktu untuk menjadi tumbuh sempurna. Keelokan dan kecantikannya bukanlah
hasil sulap seketika. Ia berproses setahap demi setahap untuk berubah menjadi
makhluk yang cantik. In the case of me, apa yang ingin saya perbaiki lebih
kepada memperbaiki kualitas diri. Secara fisik sih, saya sudah bersyukur
dianugerahi fisik sebagaimana adanya. Ya tinggal perawatan ke salon aja tiap
bulannya, haha (kidding men!) biar tampak lebih cerah auranya. Gedubrakkk! Oke,
saya lanjutkan. Semakin bertambahnya umur (padahal anaknya ga sedang berulang
tahun :D), saya merasa wajib untuk selalu memperbaiki kualitas diri saya
sebagai manusia. Terlebih sebagai hamba. Nah, disinilah pusat sentralnya.
Dari monolog yang selalu saya ucapkan, dari mantra-mantra
yang selalu saya rapalkan, dari setiap magic sihir yang selalu coba saya
tanamkan ke alam bawah sadar, nyatanya semua itu belum cukup keras menggema
gaungnya. Bahkan untuk didengar oleh telinga saya sendiri. Usaha saya belum
sebanding dengan mantra-mantra gila yang setiap saat saya rapalkan. Tapi tak
mengapa. Saya sadar kupu-kupu butuh waktu. Pertanyaannya sekarang “berapa
banyak waktu yang saya butuhkan?” Saya perluas lagi “berapa banyak waktu yang
saya punya untuk berubah kesana?” Nah, disanalah titik masalahnya. Saya tidak
tahu berapa banyak waktu yang saya punya untuk saya berhasil bermetamorfosa. Syukur-syukur
saya masih punya cukup waktu untuk mengarah kesana. Allah, Engkau tahu, saya
mempunyai niat itu. Engkau tahu, saya bersiap berjalan mendekat ke arah-Mu. Tolong,
permudah segala harap dan inginku. Dekatkan aku pada hal-hal yang lebih baik
dari kualitas diriku sebelumnya. Wahai Dzat Yang Maha, segala menjadi mudah
atas kehendak-Mu. Mudahlanlah jalanku. Aamiin.
Untuk menjadi cantik bak kupu-kupu tidak bisa didapat dari
hasil instan. Setiap tahap metaforfosa memiliki kesakitan-kesakitan tersendiri.
Untuk bertumbuh dan berkembang, kita tidak butuh ijin dari orang lain. Sejatinya
kita hanya butuh niat dan berjanji kepada diri sendiri. Dan sungguh betapa
dzolimnya kita jika mengkhianati janji pada diri sendiri. Nah, sekarang PR
terbesar saya adalah belajar bersepakat dengan diri sendiri. Untuk memperoleh
hasil terbaik, semuanya diperoleh secara bertahap. Saya sadar tahap saya menuju
kesana masih sangat jauh, tapi mantra-mantra gila itu tidak pernah berhenti saya
rapalkan. Berharap magic bekerja disana. Paling tidak itu sebagai alarm dan
warning buat diri saya tentang mimpi untuk terbang ke langit biru. Say hello to
the sun!
Dari konsep kupu-kupu saya sekaligus belajar tentang hal
lain. Mengutip kata-kata Diana Rikasari “Good deed will always you get greater return”.
Saya belajar bahwa kebaikan-kebaikan yang kita lakukan ternyata semuanya
berpulang kepada kita. Dengan bahasa yang sederhana mungkin menjadi “apa yang
kita tanam, maka itulah yang akan kita petik.” Dalam interpretasi saya, hal itu
menjadi lebih luas maknanya. Bahwa selain kebaikan akan berpulang kepada kita,
ada hal lain yang ternyata jauh lebih esensial. Bahwa kebaikan yang kita
lakukan ternyata menghasilkan bibit unggul yang lain. Saya permudah dengan
sederhana, misalnya nanti ketika saya sudah mempunyai anak, kebaikan-kebaikan
yang saya lakukan saya harap ototamis juga tertanam kepada calon anak-anak
saya. Dan cucu-cucu saya, dst. Dalam sampel diri saya, saya berharap saya
menjadi bibit terbaik dari apa yang orang tua saya punya. Kebaikan-kebaikan
yang mereka tanamkan dalam keluarga saya, pembiasaan diri dalam berbagi, saya
berharap saya tidak lebih buruk dari amalan-amalan mereka. Saya berharap
amalan-amalan baik mereka tidak berhenti di saya dan bisa terus saya lanjutkan,
bahkan saya kembangkan dan tingkatkan. Sungguh, setelah membaca berbagai kutipan-kutipan tentang
kupu-kupu, setelah membaca berbagai buku tentang pelipatgandaan kebaikan saya
berharap saya dapat terus mengamalkan kebaikan-kebaikan. Sekecil apapun itu. Karena
saya sadar kebaikan-kebaikan itu akan menjadi amal jariyah juga bagi kedua
orang tua saya, sekalipun nantinya keuda orang tua saya telah tiada. Saya berharap
kebaikan-kabaikan yang saya kerjakan berkat ajaran-ajaran mereka menjadi
penerang alam kubur dan penolong mereka kelak di alam kubur dan akhirat sana
(tetiba mata berkaca-kaca ngomongin ini, saya berdo’a semoga kedua orang tua
saya sehat selalu dan diberkahi setiap kehidupannya oleh Allah SWT). Baik kebaikan
yang sifatnya individu yang berpulang kepada diri sendiri maupun kebaikan-kebaikan
dalam tatanan lingkungan peradaban manusia. Kebaikan dalam bermasyarakat.
Lalu, jika sekarang saya ditodong pertanyaan “apa yang
paling engkau ingini dalam hidup ini?” Maka akan saya jawab “saya hanya ingin
menjadi kupu-kupu”. Itu saja. Ianya cantik, namun mudah-mudahan sayap saya
tidak serapuh sayap milik kupu-kupu.
Tuesday, August 23, 2016
Fokuslah Pada Dirimu
“Being
selfish isn’t always a bad thing. Sometimes it just means that you know you
have to focus on yourself to get to where you want to be”
Kadang-kadang
kita perlu fokus pada diri kita sendiri tanpa mempertimbangkan apa yang orang
pikirkan dan apa yang orang katakan. Kita hidup di dunia tidak untuk
menyenangkan dan membahagiakan semua orang yang kita jumpai, semua insan yang
terkoneksi dalam lingkaran kehidupan kita. Bukan. Bukan itu tujuan kita hadir
ke dunia. Setiap insan punya misinya masing-masing, punya tugasnya
masing-masing. Bagaimana ia menjalani tugasnya juga menjadi tolak ukur yang
berbeda-beda. Jangan buru-buru menghakimi seseorang tanpa pernah kita tahu
bagaimana perjuangan ia sampai ke titik tersebut. Masing-masing bergelut dengan
dirinya sendiri dengan cara dan kadar yang berbeda-beda. Tidaklah bijak jika
kita menghakimi mereka tanpa kita pernah mencoba mengerti posisi dan kesulitan
mereka, tanpa pernah kita berdiri di “sepatu” yang mereka kenakan. Sepatu yang
mereka kenakan belum tenti fit untuk setiap medan perjalanan. Ada kalanya kita
perlu bertukar sepatu untuk dikenakan di medan jalan tertentu. Begitulah, ada
kalanya kita perlu mencoba memahami mereka dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan
cara sebijak mungkin yang kita bisa. Tidak ada orang yang ingin dirinya
diremehkan, direndahkan, dikerdilkan, atau di-diskreditkan oleh orang lain. Semua
orang ingin hidup dan karyanya dihargai. Meski hanya lewat sedikit apresiasi.
Saya belakangan
hari ini sejujurnya merugi karena meratapi diri saya yang sedemikian tidak
dihargai. Saya sudah lama memahami bahwa terkadang kita berkonflik dengan orang
yang justru sangat dekat dengan kita, dulunya, tapi toh beberapa peristiwa
terulang juga. Sejujurnya saya ga habis mengerti kenapa masalah ini menjadi
begitu penting untuk saya pikirkan, untuk coba saya jernihkan. Saya tidak mau
berburuk sangka, yang saya bisa hanya menyimpan konflik ini sedapat-dapatnya
saya. Saya seperti terjebak pada hubungan persahabatan Kugy dan Noni dalam
novel Perahu Kertas karya Dee. Saya akhirnya mengerti posisi Kugy yang
sebenarnya tidak ingin mengasingkan diri dari Noni, hanya saja jarak itu kian
meruncing. Kugy akhirnya benar-benar memilih mengasingkan diri. Bukan karena
tak ingin meminta maaf atau memperbaiki silaturrahmi, tapi karena dinding ego
dalam konflik itu kian menebal dan meninggi. Tak ada celah untuk menembus ego
itu. Kugy terkucilkan karena mungkin posisinya memang lemah atau mungkin juga
ia tak punya cara untuk bertatap wajah karena tertuduh sebagai pihak yang
salah. Begitulah posisi saya, keengganan tampaknya sudah mulai mengakar,
merimbun, dan merindang. Saya terlalu takut untuk kembali mendekatinya. Saya terlalu
kecil untuk menampakkan wajah dihadapannya. Tapi aslinya saya stress, jujur
saja. Belakangan saya jadi sulit tidur karena terbawa perasaan. Terbawa permasalahan.
But it is
enough for me. Saya tak butuh pengakuan. Saya bukanlah orang yang haus pujian. Saya
aslinya tak suka tampil di depan, karena sungguh tak ada yang bisa saya
banggakan. Tak ada keuntungan tertentu yang saya dapatkan darisana. Jadi saya
memutuskan untuk “memanggil” alter ego saya yang lain. Cuek kepada apapun. Terlebih
pada hal-hal yang sekiranya mengurangi jam tidur dan ukuran berat badan saya. Saya
tidak ingin terbebani karena harus menjaga perasaan si A, B, C, D, E, atau Z. Saya
tidak ingin tampil tanpa jiwa. Saya tak ingin menjadi orang yang penuh
kamuflase. Saya tidak ingin bercermin tanpa pantulan diri saya disana. Saya tidak
ingin menjadi seperti yang orang lain inginkan tetapi aslinya itu bukanlah diri
saya. Saya gapapa dibenci orang asalkan tetap menjadi diri saya daripada saya
menjadi tipe orang yang mereka senangi tapi itu bukan saya. Ya, bukanlah sesuatu
yang egois jika kita memilih untuk” menghidupi” diri kita sendiri tanpa
terbebani oleh pihak lain, tanpa interfensi dari pihak manapun juga.
Bukanlah hal yang buruk jika kita ingin fokus
pada diri kita, pada apa-apa yang ingin kita capai, pada apa-apa yang ingin
kita genggam. Kebahagiaan bisa kita ciptakan sendiri. Bodo amat dengan
penghakiman orang lain, belum tentu mereka benar juga. Belum tentu kita
sepenuhnya salah. Bagaimana kita menjalani hari-hari benar-benar tergantung
pada cara kita melabeli sudut pandang kita. Apakah kita mau melabeli sudut
pandang tersebut dengan sesuatu yang baik ataukah dengan sudut pandang yang
buruk. Yang pasti, sudut pandangmu terhadap sesuatu itu memperngaruhi bagaimana
kamu melihat dan menilai sesuatu. Kabahagianmu tidak ditentukan oleh orang
lain. Buat saya adalah dosa besar menggantungkan kebahagiaan kita pada orang
lain. You can create your own happiness. Don’t be so much fragile. Jadi pada
akhirnya saya memilih mengakrabi alter ego saya yang lain. Alter ego yang
mengajarkan saya untuk cuek sejadi-jadinya pada orang lain dan lebih
mementingkan fokus pada kebahagiaan diri sendiri. Sebab saya tak ingin merugi
dalam menghargai diri saya sendiri. Saya ingin
menyetir diri saya ke arah yang ingin saya tuju, bukan ke arah yang orang lain
mau.
Wednesday, June 01, 2016
I Choose Nothing
Begini ya rasanya terjebak pada pilihan? Bukan karena
dihadapkan begitu banyak pilihan tetapi karena nyaris tak bisa memilih karena
tak punya pilihan apapun. Terlebih lagi pilihan itu tidak menyenangkan.
Sejatinya saya bukan orang yang gemar dihadapkan dengan pilihan macam-macam
kalau toh satu pilihan saja sudah memusingkan. Sebab memilih bagi saya setara
dengan menentukan jalan buat hidup saya. Satu pilihan akan membuka
pilihan-pilihan lain. Satu jalan akan membawa langkah saya semakin jauh
menemukan jalan lain yang sayangnya saya tidak tahu apakah jalan itu benar
jalan yang ingin saya tuju. Saya sendiri bukan orang yang jago dalam hal
memilih. Bukan pula orang yang bisa diandalkan dalam menetapkan sebuah pilihan
dan keputusan. Saya seringkali pusing sendiri hanya karena selera rasa saya
yang aneh. Sering berganti-ganti. Saya seringkali “disesatkan” oleh perintah
otak saya sendiri. Begitulah, bagi saya memilih tak pernah terbilang mudah.
Apalagi saya tak punya kuasa untuk memilih, bahkan hanya untuk sekedar mengatakan
kata “tidak”. Sejatinya dalam proses pemilihan hanya ada dua pilihan. Iya atau
tidak. Namun ketika dalam peroses pemilihan tersebut jawaban kita nyaris tak
bakal diperhitungkan, apa guna kita mempunyai hak pilih? Apa guna kita
disodorkan pada pilihan iya dan tidak yang nilainya semu semata? Dalam hal ini
pilihan apapun nyaris tak berarti. Kuasa telah memegang kendali. Dan saya telah
mati tanpa pilihan yang bisa saya pertimbangkan. Karena dalam hal ini tak
pernah ada yang namanya proses pemilihan. Jual beli sudah dipatenkan. Tak boleh
ada tawar menawar. Tak boleh mengkalkulasi untung-rugi. Semua sudah beroperasi
layaknya pasar pagi.
Thursday, August 20, 2015
Mudah-mudahan Tidak Begitu
Tadi siang aku berkesempatan makan siang bersama seorang
teman setelah sekian lama kita gak spend time together even just for a little
thing. I love this moment, of course. Karena ketika kita makan, kita gak cuma
sekedar makan. Banyak cerita dan berita terkini yang bisa kita bagi. Bukan
tentang sesiapa, tapi tentang dunia kita sendiri. Kita gak ngomongin gossip
seleb karena aku bukan tipikal orang yang update akan hal itu. Dan itu gak
penting, tentu saja.
Cerita siang tadi berfokus pada pernikahan. Awalnya dia
bercerita tentang dirinya sendiri yang ianya adalah calon pengantin. Dia cerita
tentang ribetnya ngurus ini itu tentang pernikahan. Penentuan waktu juga
menjadi sumber ‘kepusingannya. Kemudian percakapan bergeser menjadi penyebutan
nama A, B, C, D yang baru aja nikah, dan yang akan nikah dalam waktu dekat.
Maka terdatalah mereka, orang2 terdekat yang kita kenal berlomba2 menuju
gerbang pernikahan.
Berbagai latar belakang pernikahan pun beragam. Dari 4 nama,
aku tuturkan 2 saja ya. Ada yang setelah sekian lama – lebih dari 3 tahun –
berhubungan sepasang kekasih tetapi tak direstui oleh pihak keluarga si perempuan,
tapi baru Minggu lalu akhirnya tersenyum senang karena perjuangannya kini
berbuah menang. Mereka akhirnya menikah. Kronologinya? Si lelaki nekat mendatangi
orang tua si perempuan, kemudian dia pun mendapat tantangan besar. Ortu si perempuan
menantang tamunya untuk menikahi anaknya esok hari. Voilaaaa… maka menikahlah
mereka. Sampai disini, saya harus bilang “itu hebat!”. Allah memang sang
Penjodoh terbaik.
Ada lagi, si B, baru minggu lalu dilamar dan akan menikah
selambat2nya akhir tahun ini, begitu rencananya. Kronologinya? Si B ini
perempuan ya. Asli Jogja, tapi setahun lalu dia tinggal di Kalimantan. Hubungan
mereka bermula lewat perkenalan, ajang perjodohan lebih tepatnya, dari seorang
teman. Ya teman makan siang saya ini, salah satunya. Hehe. Karena mereka
berdua. Tadinya teman makan siangku ini ngerekomendasiin aku buat temen
lelakinya itu. Tapi aku dinilai terlalu galak oleh temanku lainnya. Jadinya otomatis
di black list lah saya. Ahahaha. Oke, lupakan part ini. Kita focus ke mereka. Jadi,
berhubunganlah mereka ini secara jarak jauh. They had met before, but never know
deeper each other. They built their long distance relationship between Yogyakarta
and Kalimantan. Tapi sekarang tidak lagi. The woman has come to her homeland. It’s
great, right? Obviously. Kalau sudah jodoh, bisa bilang apa? Lagi2 cuma bisa bilang
Allah selalu punya cara.
Tapi dibalik cerita yang mengagumkan di atas, aku terkejut
dengan penuturan sisi lain cerita temenku. Menurut temenku, lelaki ini setahun
yang lalu punya pacar dan putus. Kini jadi mantan dong ya? Nah, mantannya si
lelaki itu kabarnya akan nikah bulan Desember tahun ini. Sementara si lelaki baru
ja ngelamar temenku dan nentuin bulan pernikahannya direncanakan bulan
November. Nah loh?? Aku sih sejujurnya ga mikir apa2 tentang kronologi ini. Apakah
ini semacam ajang balap2an nikahan atau apa. Tapi setelah denger argument temenku
jadinya aku ya gitu deh. Agak mikir kesitu juga. Bukan mikir tentang ajang
balapannya, tapi jadi semacam bercermin dan berdo’a dalam hati. Mudah2an aku dijauhkan
dari hal yang begini. Mudah2an aku cukup ‘baik’ untuk dijauhkan dari hal2 yang
begini. Aamiin.
Kesannya mengagumkan kalau kita baru deket sama seseorang,
kemudian dalam waktu singkat kita dilamar dan langsung diajakin nikah. Buat
yang gak tau, pasti it sounds amazing. Mungkin begitu cara Tuhan menjodohkan
kita. Tapi kalo ada kronologi begini kan jadi ngerasa gimana gitu. Kan semacam
korban. Nah, aku jadi agak mikir. Bercermin. Mudah2an kalau saatnya aku harus menikah,
tidak ada unsur aneh2 dibaliknya. Belajar jadi lebih mawas diri. Mudah2an calon
suamiku kelak cintanya tulus. Gak ada sisa cinta atau motif lain dari cintanya
yang lalu. It hurts, anyway. Pun, aku jadi bersyukur juga, untung aja lelaki
itu gak jadi dikenalin sama aku. Bukannya aku kegeeran bakal dinikahin dia
seandainya aku lah orang yang dikenalkan kepadanya, sungguh bukan itu. Ya, jadi
bersyukur aja. Buatku, bukan begitu caranya untuk menuju ke pernikahan. Aku masih
cukup sabar menunggu keajaiban Tuhan. Kenapa harus tidak percaya pada rencana
Allah?
Aku sih berdo’a, mudah2an si lelaki gak ada motif begitu. Kalau
beneran ada kan kasian ceweknya. Sebagai orang luar, aku doain semoga mereka
berdua berbahagia. Kini dan nanti. Nah dari cerita orang2 pun kita bisa
belajar. Kita selalu butuh cermin untuk ‘merias’ diri. Merias untuk mawas diri
itu perlu.
Tuesday, August 18, 2015
Just Perspective of Mine
Kebiasaan deh
gw, kalo udah di depan laptop jadi bingung mau nulis apa. Padahal tadinya udah
punya kerangka mau nulis apa. Ga cuma satu malah. Sejumlah moment pasca mudik
pengen gw kristalkan di jurnal ini. Moment2 terbaik sewaktu di rumah pengen gw
paparin lagi. Tapi ya gitu deh, namanya juga Ucrit, sifat pelupanya akut parah.
Jadi kalo nanti tulisan ini ga jelas alurnya ngomongin apa, ya harap dimaklumin
ya pemirsa.
Hmm… apa ya?
Gw beneran bingung mau nulis apa. Lol
Oke. I got
it. Kemarin pas lebaran di rumah, gw ketemu sama sohib gw semasa SMA. Cewek,
dan belum menikah. Kita seumuran. Gw sih bebas cerita ke sohib gw ini tentang
apa aja, khususnya tentang cowok. Nah, karena momennya lebaran, biasa kan ya
keluarga dan tetangga pada nanyain tentang sesuatu yang sebenarnya ga pengen
kita dengar. Apalagi kalo ga tentang pertanyaan seputar pernikahan, yang
ujung2nya jatuh ke lembah terror, pemirsa. Sebab pertanyaan demikian bikin
sakit telinga dan pening kepala.
Di umur kita
yang sudah layak menikah adalah bukan maunya kita masih sendiri. Siapa coba
yang ga mau menikah? Kita juga mau kali. Tapi mbok ya jangan diteror segitu
hebatnya lah. Kita berdua memang ga punya kekasih, tapi yang ngedeketin kita
banyak. Lol. Kita cuma agak berhati-hati milih yang terbaik untuk pendamping
hidup kita nanti. Karena untuk menuju kesana, ke pernikahan, banyak
pertimbangan yang harus ditakar seorang perempuan. Oke, gw agak susah ngomongin
perspektif tentang kita berdua, jadi akan gw persempit ke perspektif gw
sendiri.
Untuk menikah,
setiap orang punya pertimbangannya masing2. Laki2 dan perempuan. Gw sendiri
punya pertimbangan yang mungkin sama dengan pertimbangan orang kebanyakan. Dan kemungkinan
lain bisa saja berbeda. Barangkali ini cuma berbeda versi dan berbeda dalam cara
memaparkan.
Sejujurnya
di usia gw yang sekarang, perspektif gw tentang suami agak sedikit “bergeser”. Gw ga ngerti ini baik atau malah sebaliknya. Setahun
belakangan ini, lewat berbagai peristiwa yang gw hadapi, akhirnya gw ‘dituntun’
ke jalan ini. Kriteria suami sewaktu gw berumur 23 tahun misalnya berbeda
dengan kriteria suami ketika saya berumur sekarang ini. Kalo dulu rasanya gw
ngerasa cukup sama suami yang bisa bikin gw nyaman. Nah, kalo sekarang itu ga
cukup buat gw. Gw lebih condong berfokus kepada seorang imam. Gw sadar
pengetahuan agama gw minim, makanya gw ngerasa gw butuh payung yang meneduhkan
gw dalam sosok imam. Dia yang akan menjadi panutan gw dalam membangun rumah
tangga. Tentang cinta? Ga usah ditanyakan, buat gw itu mutlak ada. Karena gw
bukan orang yang mudah jatuh cinta. Kalo gw ga suka sama seseorang sulit sekali
buat gw memaksakan diri untuk mengenal orang itu lebih dekat. Atau bahkan
membalas pesan dan menjawab panggilan teleponnya. Tapi kalo gw nya udah cinta
sama seseorang, keadaan sesulit apapun gw percaya sama dia. Gw percaya kami
bisa melalui apa saja.
Ramadhan
kemarin, gw nyempatin diri sholat tarawih di masjid yang agak jauh. Bukan masjid
yang dekat dari lingkungan kos. Bersama teman gw, kami hunting masjid yang
sekiranya bacaan surahnya bagus. Disitu, gw takjub. Gw suka mendengar bacaan
imamnya, karena memang terdengar bagus dan merdu. Ternyata enak ya kalo
diimamin sama orang yang bacaan Al-Qur’annya bagus? Nah, imaji gw pun meluas. Gw
pengen punya suami yang kayak gitu. Yang tiap kali ngimamin gw sholat, gw bergetar
karenanya. Nah, pandangan gw tentang suami akhirnya agak bergeser ke imam. Gw pengen
dibimbing ke jannahnya Allah SWT. Gw ingin berjodoh sama suami gw bukan cuma di
dunia, tapi juga di akhirat. Nah, jadi lah gw ngerasa standar gw untuk calon
suami gw nanti bukannya menurun, tapi malah naik. Me?? I try my best to be his
choice.
Tetiba gw
ingat ada yang bilang tentang seni meningkatkan kualitas diri. Jadi, ketika
kamu berharap sesuatu, maka kamu juga harus melakukan perbaikan2 pada dirimu. Misalnya,
pasanganmu mungkin sekarang ini nilainya 8, kamu 6. Nah, ada beda kan? 6 tidak
sama dengan 8. Belum pantas, makanya belum dipertemukan dalam jodoh. Disinilah kamu
berkewajiban memantaskan diri dengannya. Syukur2 kamu bisa lebih baik darinya,
tapi minimal ya nilainya sama lah. Nah, gw mengadopsi teori itu. Gw ngarepin
sosok imam yang bisa membimbing gw dunia dan ukhrawi, jadi gw harus melakukan
perbaikan disana-disini. Gw suka banget liat cowok pake sarung. Rasanya lebih
adem dan enak di pandang. Standar ketampanannya pun rasanya meningkat tajam. Me?
Gw mau menyelaraskan itu. Kalau dia aja pake sarung, masa gw pake jeans? Ga cocok
kan? Makanya gw lagi belajar berubah. Perubahan kecil yang gw coba lakukan
sekarang ini, gw lagi mencoba stay away from jeans. Gw lagi belajar pake rok. Agak
susah memang, tapi gw coba pelan2. Gw juga berusaha meningkatkan kualitas diri gw yang lain. Dan semuanya
dimuai dengan bertahap dan pelan2. Semoga saja cara ini bekerja. Aamiin.
Jadi ya gitu,
tetap ngalor-ngidul kan tulisannya? Ahahha. Tak apa lah ya, yang penting udah
terapi nulis.
Nite, people…
Zzzzzzzzz
Monday, August 10, 2015
Never Stop Learning!!!
Sekolah hanyalah sebuah gedung. Sebuah bangunan fisik. Sejatinya, pada semesta lah kita belajar segala. Dan Tuhan adalah Mahagurunya. Selamat hari Senin...
Friday, May 15, 2015
Stay Away
Saya selalu heran tiap kali melihat anak berseragam sekolah,
kok ya sudah pandai merokok. Ironisnya, mereka merokok tanpa dosa. Dalam artian
mereka dengan gampangnya mengisap rokok di sembarang tempat. Seperti pagi tadi
misalnya, saat saya mau berangkat kerja.
Di perempatan lampu merah, saya menemukan dua anak lelaki berseragam
sekolah dengan santainya merokok di jalan raya. Dua-duanya. Yang dibonceng dan
juga yang membonceng. Saya melihat mereka dengan tatapan ironi. Mereka seakan tidak
lagi peduli dengan lingkungan sekitar. Tidak lagi mengindahkan seragam yang
sedang mereka kenakan. Padahal tentu saja seragam itu lah yang seharusnya mereka
banggakan. Seharusnya seandainya pun mereka pandai merokok, mereka mampu
beradaptasi. Mereka bisa melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Tidak terang-terangan
mengumbar kebiasaan buruk mereka di sembarang tempat. Sebab bagaimanpun, mereka
belum pandai menghasilkan uang sendiri. Mereka belum seharusnya mengenal erat
benda itu. Menurut saya, mereka belum pantas berprilaku seperti itu.
Saya selalu sedih tiap kali melihat orang yang gemar
merokok. Bahwa merokok telah menjadi bad habbit in their daily activities. Bahwa
mereka sulit sekali stay away dari dzat beracun itu. Bahwa mereka tak sanggup
melewatkan hari tanpa mengisap sebatang rokok pun. Bahwa mereka tak sanggup melampaui
hari tanpa meracuni organ-organ tubuh mereka sendiri. Saya sedih sekali tiap
kali melihat orang yang barangkali dengan bangganya mengisap rokok dan racun2 yang terkandung didalamnya.
Berpura-pura tak paham bahaya dari kebiasaan buruk yang sayangnya mereka sukai
. Berpura-pura menutup mata bahwa keluarga meraka sedih dengan kebiasaan
mereka. Kesedihan saya menjadi bertambah berkali-kali lipat jika mereka adalah
orang-orang yang saya sayangi. Lingkungan yang saya kenali dan kasihi. Bapak
adalah salah satunya.
Dari tiga lelaki di rumah kami, bapak satu-satunya lelaki
dewasa yang merokok di keluarga kecil kami. Bapak termasuk smoker berat. Dalam
sehari bapak bisa menghabiskan beberapa batang rokok. Saya sedih tiap kali
melihat bapak memindahkan kandungan racun di dalam rokok tersebut kedalam
tubuhnya. But, I can do nothing but praying that he will be okay. But I know, it’s
such kind of impossible, right? Saya hanya bisa berdo’a semoga banyak bisa
segera berhenti sekalipun saya tak pernah paham seberapa keras Bapak mencobanya.
But I thank God, dua adik lelakiku bukanlah seorang pecandu rokok. Tak
sekalipun aku pernah melihat mereka merokok di hadapanku. Bagaimana jika
dibelakangku? Dibelakang keluargaku? Tanpa sepengetahuan keluargaku? Saya
selalu berfikiran positif bahwa mereka tidak. Sebab setahuku, sulit sekali kan
bagi mereka yang perokok untuk terus-terusan sembunyi untuk tidak merokok? Sulit
sekali kan untuk terus-terusan menahan? Dua lelakiku ini, jika mereka di rumah,
mereka tak pernah dekat-dekat dengan korek api, atau pemantik api apapun.
Saya cerita begini, bukan bermaksud membuka aib keluarga
sendiri. Keterbatasan saya untuk menjauhkan bapak dari rokok, itu lah yang
paling saya sedihkan. Tapi berdasarkan dari apa yang saya lihat, saya membangun
mimpi bahwa nanti jikalau saya sudah bersuami, saya ingin suami saya bersih
dari asap rokok. Walaupun saya belum tahu sih siapa orang yang akan menjadi
suami saya nanti. Tapi paling tidak, saya ingin berperan aktif dalam
menghentikannya dari aktifitas merokok. Syukur2 saat nanti saya diperistri
olehnya, saya sudah panen. Saya tinggal terima beresnya. Lol
Tak peduli seberapa beratnya calon suami saya nanti di cap sebagai
smoker, saya optimis saya bisa membawa kebaikan pada hidupnya. Walaupun akan
dilakukan secara perlahan-lahan. Sebab tak ada yang berani jamin hasil
instan,bukan?
Bukannya saya mau besar kepala, tapi inilah faktanya. 2 dari
3 mantan kekasih saya mulai belajar stay away dari rokok. 2 dari mereka, saya
ikut mendampingi proses kenonaktifan mereka. Pernah sih mereka sesekali
curi-curi merokok di belakang saya, tanpa sepengetahuan saya, tapi berdasarkan
hasil interogerasi saya mereka akhirnya tak sanggup berbohong. Ada malah yang
karena curi-curi merokok, karena system tubuhnya sudah menolak, dia akhirnya
batuk2. Lumyan lama pula batuknya. Dan sejujurnya saya bersyukur atas respon
tubuhnya yang demikian. Jadinya kan dia mikir2 kalo mau merokok lagi. Dengan
atau tanpa saya larang. Tubuhnya otomatis sudah mendeteksi racun. Jadinya kan
beban saya lebih ringan. Hehe.
Tentang the other man, ini orang candunya menurut saya juga
lumayan berat. Kalo ga dibatasi mungkin saya lama-lama ikut dia racuni juga. Bukan
untuk mengisap rokok juga, bukan itu, sebab saya ga pernah tertarik untuk coba2
merokok, tapi dia bisa2 meracuni saya dengan kandungan dzat dalam rokok
tersebut. Kan jatuhnya saya jadi perokok aktif. Menghirup asap rokoknya juga
selagi saya ada di dekatnya. Ga maulah saya. Jaga kesehatan itu susah, eh malah
dia mau merusak usaha saya. Rugi lah saya. Akhirnya saya membatasi dia untuk ga
merokok di dekat saya. Paling tidak selagi dia bersama saya. Saya ga mau dia meracuni
tubuhnya sendiri, tapi lebih dari itu, saya ga mau diracuni olehnya. Akhirnya pelan-pelan dia mau mengikuti aturan
main saya. Lol *tersenyum bangga* But a bad news I a got this afternoon, nih
orang udah berani coba2 merokok lagi. Alasannya sih karena di gunung dingin. Cuma
di gunung doang kok. Huft. Agak kecewa saya. Komitmen orang ini kurang tebal
dan kurang kuat.
Ah, saya jadi mendadak ingat. Mantan kekasih saya yang lain
juga sedang usaha untuk stay away dari rokok. Tapi untuk lelaki satu ini, saya
tidak menemani prosesnya. Saya buta tentang usahanya. Saya bahkan ga tahu kalau
dia perokok. Solanya dulu kita LDR-an. Pun saat kita ketemu, dia pintar. Dia ga
pernah merokok di depan saya. Di dekat saya. What a cute man, right. Haha. Saya
tahunya dia merokok saat telponan sama dia, iseng2 tanya gitu. Eh dia jawabnya
gitu. Rasanya bersyukur banget dihargai sebegitu tingginya. Makasih loh ya,,,
Oh ya, ceritanya kan saya sekarang ini sedang jatuh hati
(sekaligus patah hati).Nah, lelaki yang saya jatuhi cinta ini ya sayangnya
termasuk smoker. Sedih deh saya. Apalagi saya ga punya kapasitas untuk
mengingatkannya. Apalah saya baginya. Siapalah
saya baginya. Saya bukan apa-apa. Saya cuma seseorang yang hanya berani
memandanginya dari jauh. Dari maya dan semu. Rasanya ada nyeri saat melihat dia
begitu akrabnya dengan lintingan rokok ditangannya. Menghisap asap kedalam
rongga paru-parunya. Mungkin juga jantungnya. Masuk kedalam serambi kanan dan
kirinya, bilik kanan dan kirinya. Rasanya saya gak kuat menyaksikan pemandangan
itu. Tiap kali liat dia merokok, saya melihat begitu banyak tekanan pada
dirinya. Mungkin baginya merekok semacam stress healing. Ada yang ingin dia
alihkan. Tanpa dia sadari, dia mengalihkan berbagai racun kedalam tubuhnya. Rasanya
pengen banget saya mematikan rokoknya dan membuangnya jauh2. Gak peduli dia ga
cinta sama saya, paling tidak dia cinta lah sama dirinya sendiri. Dia rawatlah
kesehatan fisiknya demi orang2 yang kini dan kelak ia kasihi cinta. Saya ingin
mengingatkan bahwa dia seharusnya mulai belajar untuk stay away dari rokok
sebelum ia kecanduan parah. Tapi lagi2, siapalah saya. Kalo bahasa kekiniannya “aku
mah apa atuh”.
Nah, gitu. Jadi pada intinya, saya gak tahu cerita ini
tentang apa. Tapi saya percaya bahwa kalian, para pembaca saya, lebih pintar
menangkap kesimpulannya. Lebih memahami makna yang tersirat dalam tulisan ini. Saya
hanya berharap, kelak lelaki yang saya kasihi termasuk orang yang mencintai
diri sendiri dan keluarganya. Mengasihi dengan hal sederhana, salah satunya
menjauhkan diri dari asap rokok. Aktif maupun pasif. Itu saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)