Showing posts with label Amazing Moments. Show all posts
Showing posts with label Amazing Moments. Show all posts

Sunday, May 15, 2016

Rumah yang Kembali Ditemukan


Bagiku hal yang paling menyedihkan dari sebuah kehilangan adalah kehilangan rumah. Sebab kehilangan rumah bukan saja kehilangan tempat tinggal. Kehilangan rumah lebih kepada kehilangan wadah untuk menjadi diri sendiri. Kehilangan kebebasan untuk berekspresi. Bagiku blog ini adalah rumah kedua dari rumah yang berbentuk bangunan fisik. Ini adalah ‘rumah’ku dalam berekspresi. Disini aku bisa menjadi diriku sendiri. Menjadi sejatinya diri tanpa ada perintah sana-sini, tanpa tendensi ini-itu, dan tanpa pretensi sesiapa.

Gegara ingatanku yang payah, beberapa bulan yang lalu aku kehilangan rumah mungilku ini. Aku sempat lupa dengan ‘kunci’ rumah ini yang tersusun dalam bentuk kata. Dan parahnya ini bukan kali pertama aku kehilangan ‘rumahku’. Beberapa akun yang kuabsahkan sebagai rumahku akhirnya resmi dihuni laba-laba hanya karena aku tidak ingat kata sandi untuk masuk ke akun tersebut. Berat buat ngikhlasinnya, karena beberapa tulisan hilang begitu saja. Tak bisa lagi ‘diziarahi’. Beruntung, akun ini bisa diselamatkan. Beruntung, pintu rumah blog ini masih bisa dibuka. So, here I am. Kembali lagi ke dalam rumahku. Kembali lagi ke dalam moment2 yang terkristalkan disana. Alhamdulillah.

So, welcome back to me. Welcome back to you, my readers (halah :D). Do’akan ingatan saya lebih tajam agar saya tak lagi kehilangan kunci. Do’akan pikiran saya lebih tajam agar tulisan saya menjadi sesuatu yang kalian tunggu-tunggu. Haha. Once again, welcome back dearest readers. And happy fifteenth, happy reading.. and also happy writing..

Sincerely love,
Ucrit Violette

Tuesday, August 11, 2015

Hunting is over

Selasa yang penuh asa. Buku yang dicari akhirnya ada. Selamat menikmati perjalanan, Rumah Tangga.

29(4)88. Noted!
:))))

Thursday, January 01, 2015

Resolusi Tahun Baru 2015

Tahun baru.
 Satu-satunya resolusi, saya hanya butuh mengeyahkan kamu.
 Ya, satu. Ya, kamu.
Selamat bergegas menyambut hari baru.

Wednesday, October 29, 2014

Nonton Pongki Barata Lagi



Sebelum aku lupa, aku mau nulis kisahku tentang nonton penampilan langsung musisi favoritku lagi. Kali ini Pongki Barata.

Jadi, malam Minggu kemarin aku sibuk nyari partner yang mau nemenin aku buat datang ke acara musical itu. H-5 aku udah bikin dating orang-orang yang sekiranya mau aku ajak. Belum ada yang mengiyakan. Sempat panik aku. Sempat berfikir untuk ga bakal nonton acara itu. Sempat gelisah juga. Segelisah tidak bertemu kekasih saat rindu begitu memuncak. Namun sampailah pada hari H, akhirnya aku pergi bersama teman lama. Nih orang sebenarnya ga ada ketertarikan apa-apa sama duniaku yang satu ini, tapi itu bukan  hal yang terpenting. Yang penting bagiku, dia cukup mau aku ajak ke acara itu yang dimana aku ga punya bayangan apa pun tentang acara itu. Dan sebenarnya nih orang tidak cukup menyenangkan buat diajak. Karena dia seorang yang bosenan dan lumayan sering komplen. But whatever, aku cuma butuh teman pergi dan pulang. Ngeri juga kalo pulang sendirian malam-malam dijalanan. Sssstt, selain itu aku butuh seorang penunjuk jalan. Hahaha.

Malam Minggu nonton konser sendirian? Hahaha, jelas sekali itu akan mengindikasikan bahwa dirimu seorang yang kesepian. Jadi daripada dituding kesepian- yang sayangnya sama diri sendiri- mending keluar cari hiburan. Apalagi kalo hiburannya penampilan Pongki Barata, bisa-bisa aku ga bisa tidur gegara gelisah diselimuti penyesalan. Well, kuputuskan pergi walaupun menikmati konser seorang diri.

Sebenarnya aku mau ngajakin temanku yang bernama Putri juga, nih orang termasuk partner in crime terbaikku. Sayang jadwal kerjanya tidak lowong pada malam itu. Padahal dia punya ketertarikan yang cukup besar sama mas Pongki. Lebih tepatnya karena kuracunin sih. Hahaha. Aku sih ngerasanya seru aja gitu kalo pergi nonton konser sama orang yang punya ketertarikan yang sama denganku. Nyanyi bareng sambil saling merangkul, jerit2 bareng, happy2 bareng, seru-seruan membunuh waktu bareng. Hmmm… itu akan jauh menyenangkan. Kita berdua bahkan punya wating lists buat nonton penampilan musical musisi2 favorit kita. Mudah-mudahan bisa terlaksana. Amin.

Acara diagendakan dimulai pukul 7. Aku dan temanku berangkat hampir setengah delapan dari kos. Kita nyampe sana sekitar jam 8. Pengunjung masih sepi. Waktu pertama kali masuk kampus itu, kita berdua ngerasa kayak orang kesasar. Ga kenal siapa-siapa. Sementara orang disekitaran kita pada muda-muda, keliatan banget masih anak kuliahan. Dandanannya modis, cuek, dan terkesan santai. Aku bahkan ngerasa kayak salah kostum. I forgot to tell you something, right? Venue musical ini diadakan di kampus mas Pongki semasa kuliah dulu. Sanata Dharma. Sebuah kampus Katolik di Yogyakarta. Tapi event mas Pongki ini tidak diadakan di kampus pusat, Mrican- melainkan di Sanata Dharma Paingan. Aku ngerasa kayak orang salah kostum karena tadinya aku ga ngeliat ada orang yang pake jilbab disana. Beruntung, setelah masuk ke venue dan menunggu sekitar lima belas menitan di dalam, barulah aku ngeliat lumayan cukup banyak yang pake jilbab. Tadinya aku takut2 kalo acara ini semacam acara yang berkaitan hari besar keagamaan mereka. Tapi mengingat event kalender hari itu malah sebaliknya. Waktu itu Pongki Barata diagendakan pada tanggal 25 Oktober, yang dalam cetakan kalender itu adalah peringatan 1 Muharram. Peringatan Tahun Baru Islam.

Ternyata ini acara musical kampus yang diisi dengan teatrikal, dancing, dan performance Band. Jadi lumayan lama buat nungguin mas Pongki naik panggung. 1,5 jaman lebih nungguin lumayan bosen juga.. Apalagi ga ada ketertarikan buat nikmatin pengisi acara sebelum mas Pongki on stage. Kita bahkan nunggu di bangku yang keluar dari arena panggung. Ga sabar rasanya untuk liat penampilan mas Pongki.

Time goes on. Sekitar pukul 9.45 PM akhirnya mas Pongki on stage. Semua orang yang hadir malam itu langsung buru-buru berebutan angle terbaik buat liat dari jarak sedekat mungkin. Tak terkecuali aku. Aku pun langsung lari mencari angle terbaik. Beruntung, aku dapat di garis depan, meskipun tidak tepat di tengah stage. Aku dapat angle kanan panggung. Cukup jelas lah ngeliatnya. Keriuhan pun mulai terjadi.

Sebagai lagu pembuka, mas Pongki memilih Aku Datang Untukmu. Oh damn, I love this song so much. Lagu yang sangat bagus. Aku mendadak jadi inget dan kangen Jikustik dengan formula awal. Jadi inget waktu jaman dulu aku muterin lagu-lagu mereka dari pita kaset melalui mesin tape recorder. Haha, ternyata aku udah selama itu ya mengagumi mereka. Dari aku SD, SMP, SMA, kuliah, dan paska kuliah aku masih menyukai mereka, sekalipun keutuhan mereka sekarang sudah tercacah. Kalo dipikir-pikir, aku menyukai mereka itu kayak terjebak cinta segitiga. Let me tell you. Yang tadinya mereka berdiri dibawah bendera Jikustik, kemudian bercerai dengan mas Pongki, lalu tahunan kemudian bercerai lagi dengan mas Icha, so keutuhan mereka tercacah menjadi 3 bagian. Dan aku masih begitu respectnya terhadap karya mereka. Masih begitu mengagumi. Meskipun mereka kini mengibarkan bendera masing-masing, aku tak mau ambil pusing harus memihak yang mana. I love them all with all of their creativity. Jikustik, Pongki Barata, or Aji Mirza Hakim. They are my favorite. Oh well, kini cintaku bercabang lagi ke TDC – The Dance Company. Aku lagi seneng2nya sma lagu Biadab mereka. Tapi tetap, my favorit is Pongki. Kalo di TDC aku memang suka parts yang diisi suara mas Pongki. It feels like listening pure Jikustik.

Kalo boleh aku bilang, dari 3 kali aku nonton penampilan mas Pongki, penampilan ini lah yang paling bikin aku puas. Serasa ekslusif karena beliau tampil cukup lama dan menyanyikan lagu lebih banyak dari 2 penampilan yang pernah kutonton sebelumnya. Play lists lagunya juga keren2, lagu yang jarang2 dinyanyiin. Apalagi mas Pongki baru aja ngeluarin album solo terbarunya. Some of them are my favorites. Atau jangan2 malah semua? Haha.

Sebut aja Aku Datang Untukmu, Aku Milikmu (Malam Ini) dimana pada promo peluncuran album Pongki Barata Meets the Stars di KFC Sudirman kemaren beliau ga bawain lagu ini, Untuk Dikenang, Pandangi Langit Malam Ini, Menangis Semalam, Setia, Maaf, Seribu Tahun, Seperti Yang Kau Minta, Selamat Malam Dunia, Papa Rock n Roll, Ada Kamu Disini, dan Puisi. Ini playlists yang dinyanyiin mas Pongki tempo hari. Puisi dinyanyikan secara ekslusif karena lagu ini bukan ciptaan mas Pongki. Oh Gosh, it reminds me to Jikustik. Aku jadi inget lagu2 mereka kayak Aku, Kau, dan Kereta, Relakan Aku, Tak Ada yang Abadi, Melupakanmu, Dia Harus Tahu, Tetap Percaya, Akhiri Ini Dengan Indah, Bahagia Melihatmu Dengannya, Lelaki Yang Tersisa, Samudera Mengering, Pulanglah Padanya, Melawan Kesepian, Kawan Aku Pulang, Teman Seperjuangan, Sudah Kehendaknya, Rencana Besar, Lanjutkan Hidupmu, Mentari Dikalahkan Malam, Dimana Kau Ada, dan banyak lagi. Semoga someday bisa liat mereka sebagai formula awal Jikustik reunian manggung bareng atau bikin project bareng. Amin.

Jadi inti cerita ini adalah aku ga nyesal nonton mas Pongki malam itu, walaupun awal-awalnya aku ngerasa kurang nyaman. Aku suka banget sama lagu Aku, Kau, dan Kereta saat bareng Jikustik dulu. Ngarep banget someday bisa lihat live performance mas Pongki nyanyiin lagu ini. And also Biadab. Semoga…

Wednesday, September 10, 2014

FKY-26

Sugeng ndalu pemirsa…

Aku baru aja pulang dari pagelaran Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang ke-26. Setelah menyempatkan mampir buat makan malam dulu sih sebenarnya. Hehe. Gila loh, FKY udah digelar sebanyak usiaku. Ga main2 cah, FKY sama tuanya dengan aku. Wuih keren!! Walaupun aku ga tau sih apakah pagelaran ini diadakan annually ataukah bukan. Tapi paling tidak beberapa tahun belakangan ini, setahuku FKY memang hanya diadakan setiap setahun sekali. So, jika memang benar begitu berarti FKY dan aku dilahirkan pada tahun yang sama. Tahun dimana semuanya masih serba murah.

Malam ini adalah malam puncak pagelaran FKY-26. Bisa dipastikan sebagai malam penutupan pagelaran ini akan rame pengunjung. Terbukti jalanan menuju lokasi padat merayap. Dan memang selalu begitu. Mesti sabar banget buat tiba dilokasi, bahkan untuk sekedar mencari lokasi parkiran kosong dan nyaman aja susahnya minta ampun. Harus berebut dengan para pengendara dan juga pengunjung lain. Bisa2 senggol bacok. Huft. Tapi perjuangan buat tiba di lokasi pagelaran memang terbayar sempurna. 

Aslinya aku ga terlalu berekspektasi tinggi pada acara penutupan FKY-26 malam ini. Sedikit banyak aku punya gambaran tentang acara sarat kesenian ini. Pasalnya beberapa tahun lalu aku pernah menghadiri acara serupa. Dan kejadian malam ini dengan malam beberapa tahun lalu itu tidak jauh berbeda. Venue dipastikan akan rame banget, bahkan untuk melalui pintu masuk dan jalan berkeliling aja harus rela berdesakan dengan pengunjung lain yang bejibun jumlahnya, belum lagi efek gerah dan pengap yang ditimbulkan dari berdesak-berdesakan ini bisa bikin tungkai kaki cepat lelah, atau bahkan pusing kepala mungkin.Tapi justru disitulah letak keistimewaan acara ini. Pengunjung yang rame2 datang adalah mereka yang mencintai kota Yogyakarta beserta keseniannya. Kalau boleh aku bilang mungkin inilah cara mereka mengapresiasi karya2 seniman kota Yogyakarta dan sekitarnya. Barangkali beginilah cara mereka menghadiahi sebuah apresiasi tinggi bagi kota berhati nyaman ini. Kota yang mereka tinggali. Kota yang barangkali hanya mereka tumpangi untuk beberapa waktu saja.

Pernah memang aku mengunjungi acara FKY ini pada malam puncak penutupannya. Ga ingat tapi FKY yang keberapa. Maklum udah tua. Haha.Tapi aku masih ingat betul dulu itu sebagai bintang tamunya adalah musisi Yogyakarta favoritku, Sheila on 7. Waktu itu aku sengaja datang ke FKY dan rela berdesak2an disana hanya untuk menonton mereka. Waktu itu aku terhanyut dengan alunan musik terbaik mereka. (Dan memang akan selalu begitu. Hehe) Walaupun saat itu sebenarnya aku hanya bisa mendengar merdu suara mas Duta saja. Itu pun dari jauh. Sama sekali ga kelihatan wajah2 tampan mas2 musisiku itu. Pengunjung yang udah kayak semut itu terpaksa bikin aku menyudut mencari angle ternyamanku. Yang kata kekasih terdahuluku sih bilangnya dia ketemu aku disudut itu. Haha. Tapi dia ga mau nyapa. Sombong dia. Tapi begitupun, meski hanya menikamati Sheila on 7 dari jauh aku puas. Eh ga disangka, malam ini di acara yang sama aku mendapat tempat yang jauh lebih baik. Syukur Alhamdulillah.

Jadi sebenarnya aku berkunjung ke acara FKY-26 ini cuma iseng aja. Pengen liat2 aja dan ngebandingin apa perbedaan pagelaran ini disetiap tahunnya. Datang berkunjung sebentar, kalau udah capek dan bosan tinggal angkat kaki pulang. Itu sih niat awalku, tadinya. Tappiiiiii, aku ceritain nih ya. 

Aku datang kesana bersama seorang temanku. Lelaki. Kita berangkat dari kosku setelah adzan Isya berkumandang. Tepatnya 7:20 pm. Bisa dipastikan dong ya jalanan menuju kesananya kayak apa? Macet total pemirsa. Kakiku bahkan sempat kesenggol motor tetangga saking macetnya. Gegara yang mengendarai ga sabar sih lebih tepatnya. Huft. Untungnya aku pake sepatu. Coba aja kalo aku pake sandal, hmmm… entah.  Jadi kakiku ga kenapa2. Setelah beberapa menit bermacet-macetan ria di jalan yang sama, akhirnya kita bisa keluar juga dari jebakan macet itu. Tapi ternyata belum selesai sodara2, karena kita harus berburu ruang parkir. Jadilah mata dan pandangan celingak-celinguk mencari ruang kosong dihatimu. Eh?? Maksudnya mencari ruang kosong di parkiran. Beberapa menit kemudian, dapatlah ruang parkir itu. Setelah markirin motor, kita langsung buru2 jalan menuju venue. Pasalnya kita sudah datang terlambat. Takut ga keburu. Waktu kira2 pukul 8 malam lebih.

Berjuang menuju pintu masuk persis secepat langkah siput, keliling stand dengan langkah lamban dan hirupan oksigen segar seadanya segera saja bikin kita berdua capek. Aslinya standnya ga bisa benar2 dilihat saking banyaknya orang2 mampir disana. Sayangnya bukan untuk berbelanja, tapi hanya untuk numpang berdiri demi mencuri-curi pandang ke stage utama. Siapa yang sedang berdiri disana, pun sedang apa. Tapi percuma. Sejauh yang bisa dilihat sih hanya kepala2 pengunjung lain. 4o menit disana dengan keadaan seperti itu, temanku minta pulang. Ga betah. Oke, aku penuhi. Kita pun jalan lagi, kali ini menuju yang sudah pasti, pintu keluar. Tapi dasar akunya bandel, ditengah perjalanan menuju pintu keluar yang ternyata malah lebih dekat ke panggung utama, aku memberhentikan diri. Mencoba mengulur waktu. Temanku mau ga mau mengikuti. Berhenti. Hihi. Tapi keisenganku ternyata tidak bikin rugi. 

Bertahan 15 menit di posisi berdiri yang agak dekat dengan panggung utama, ternyata penyelenggara FKY menghadirkan bintang tamu. Aku sama sekali ga kepikiran bakal ada seniman pengisi acara di pagelaran malam penutupan FKY ini sama seperti penutupan FKY pada saat diisi So7 dulu. Jadi sebenarnya aku berhenti disana ga tahu untuk apa. Ga ngarepin bakalan ada seniman a.k.a artist yang berseliweran di tv. Harapanku malah jauh lebih sederhana. Aku berharap bakal ada balon atau lampion yang diterbangkan dalam jumlah massif ke udara. Setelah balon terbang tinggi, selesailah acara. Aku bisa ringan melangkah pulang. Tapi ternyata lebih dari itu. Kira2 pukul 9:15 pm. Tungkai kaki yang capek disuguhi seniman yang lebih kepada musisi yaitu Jogja Hip Hop Foundation. Mereka yang menggaungkan lagu tentang keistimewaan Yogyakarta. Pun dengan bahasa Jawa. Sontaklah pengunjung mulai bergeliat. Suara mulai gaduh dan bergemuruh. Acara ini menyajikan acara musik bagi pengunjungnya. Resmi, pecahlah suara entah dengan jenis nada apa saja. Mereka mempersembahkan beberapa lagu terbaik mereka yang kebanyakan atau malah kesemuanya berbahasa Jawa. Itu kejutan pertama. 

Ga berhenti disitu, ternyata mereka (pihak penyelenggara) menyiapkan kejutan kedua. Mereka menghadirkan band The Everyday. Single mereka yang paling hits adalah yang berjudul Kapan ke Jogja Lagi. Lagu ini sangat easy listening di telingaku. Musiknya juga asik. Ini adalah sebuah lagu yang menceritakan tentang keistimewaan kota Yogyakarta. Ya, Yogya memang istimewa. Ga Cuma Kla Project aja yang nyiptain lagu tentang Yogyakarta. Mereka kini punya peniru sebagai lapis regenerasi yang mengistimewakan Yogyakarta. It’s great by the way. Salut!!!
Setelah band The Everyday perform, aku kira inilah ujung dari pagelaran ini. Pasalnya waktu sudah semiakin malam. Herannya para pengunjung belum banyak yang beranjak. Masih betah berdiri di tempat masing2. Entah menunggu apa. Aku mendadak latah, jadi nungguin juga. Temanku yang tadi ngajakin pulang udah ga kudengar lagi rengekannya. Haha. Sudah lupa dia. Sampai-sampai host-nya kebingungan gimana “ngusir” tetamu kebanggaan mereka ini. Tapi itu sih cuma akal2an mereka aja. Acara belum mencapai puncaknya. Eh tahu ga host nya siapa? Mungkin yang bikin aku betah berlama2 menahan lelah tungkai kaki adalah hostnya ini. Mereka adalah si Alit2 Jabang Bayi dan mas Gundi. Haha, tahu dong ya aku lebih condong ke siapa? Mas Gundi yang mirip mas Pongki, lain tidak. 

Acara belum selesai. Daaaaaan… kejutan masih berlanjut pemirsa. 15-20 menit pasca The Everyday ke belakang panggung, pengunjung masih setia berdiri aja. Selama itu pula beberapa orang berseliweran menyentuh alat2 musik di atas panggung dengan lampu padam. Jadi biar dikira acara beneran rampung. Pinter banget sih mereka itu? Padahal mereka sedang check sound untuk satu penampilan musisi terakhir. Setelah rampung check sound, akhirnya host ga mau bikin pengunjung eh penonton menunggu lebih lama lagi. Mempersembahkanlah mereka musisi kebanggaan Yogyakarta, Shaggy Dog. Inilah kejutan ketiga sekaligus kejutan puncak. Segera saja menonton pada berdiri dan siap berdendang. Apalagi penyanyinya memerintahkan. Sampe2 banyak banget orang yang manjat pembatas besi. Mereka persis disebelahku. Polisi dan panitia terlihat kewalahan. 

Aku pribadi sih ga terlalu familiar dengan musikalitas Shaggy Dog, but I appreciate them. Beberapa lagu mereka pernah terdengar di radio. Satu dua lagu mereka kudengar di ruang karaoke karena dinyanyikan temanku. Hanya beberapa potongan bait saja yang bisa kuingat dan kunyanyikan. Sisanya bungkam. Tapi malam ini, melihat mereka tampil live untuk pertama kali seru juga. Back-up singer mereka juga keren. Semangat plus pake goyang. Kuakui musik mereka keren, hanya saja itu bukan genreku. Jadilah aku tidak terlalu menikmati. Padahal posisi tempatku berdiri jauh lebih strategis daripada posisiku dulu sewaktu lihat mas2 So7. Malam ini aku bisa melihat dengan jelas wajah mereka di panggung. Tapi sayangnya gegara tidak pecinta music genre mereka, jadilah aku salah fokus. Ditepi panggung aku melihat wajah imitasi mas Pongki. Dari tepi panggung kulihat dia bernyanyi mengikuti alunan music Shaggy Dog. Pandanganku tak bisa beralih lagi. Haha. Padahal beberapa hari lalu aku udah ketemu mas Pongki. Yang asli, bukan imitasi. Oh damn, tetiba aku ingat aku punya utang untuk menuliskan meet and greetku dengan mas Pongki. Bukan untuk sesiapa, lebih kepada menepati janji kepada diri sendiri. Tapi kangen aja sama mas Pongki imitasi ini. Jadi ingat kebaikan dia dulu sewaktu meet and greet with Dee. Semoga nanti bisa bertemu lagi sewaktu promo tour novel terbaru mbak Dee. Amin.

Beberapa lagu dinyanyikan Shaggy Dog dengan dibantu fans2 mereka, dibantu joged2 entah ala2 apa, akhirnya tibalah waktunya mereka turun panggung. Ini adalah pertanda rangkaian acara FKY-26 ini berakhir sudah. Tapi apa yang salah dengan harapan? Penonton berharap ada kejutan tambahan. Bonus. Alhasil penonton tak kunjung beranjak juga. Tak kunjung meninggalkan venue. Tetap setia pada harapan mereka. Mereka manggil2 Shaggy Dog buat tampil lagi. Tapi nihil. Sampe2 panitia penyelenggara kebingungan beneran “mengusir” tetamu kehormatan yang menyukseskan acara mereka ini. Tapi kali ini beneran. Bukan sandiwara. Mereka sampe salah tingkah mengapresiasi penonton malam ini. Berkali2 terimakasih dihaturkan, penonton tak juga bergeming. Mereka bingung. Host yang udah turun panggung sedari tadi terpaksa naik lagi mengingatkan acara beneran udah berakhir. Nyambung lagi Insya Allah tahun depan. Mereka mengusir dengan cara ngingetin jam parkir yang hanya berlaku sampai jam 11 malam aja. Padahal mereka ngomongin begitu aja udah jam sebelas kurang 10 menitan. Tapi memang sih, aku aja yang ngeliat bingung sekaligus geli, konon lagi mereka? Haha. Kok bisa ya penonton sampe “diusir” supaya pulang? Mereka berdalih mereka capek, mereka butuh istirahat, mereka masih harus briefing, mereka secepatnya harus bikin laporan pertanggungjawaban. Sampe2 mereka bawa2 para penjaga parkiran segala demi mengusir pengunjung setia. Bilang kalau penjaga parkir sudah complain dengan rundown yang kemalaman. Beh, penonton malam ini luar biasa. Bangga saya. So, sampai jumpa di FKY-27 tahun depan ya…

My Deep Appreciate

Ucrit Violette



Sunday, September 07, 2014

Edisi Gagap Bersuara

Sejenak melupakan tentang patah hati. Tentang putus cinta, walaupun udah sejak beberapa bulan yang lalu sih. hehe. Seharusnya rasa itu sudah jauh enyah, tapi entahlah.

Sejatinya, aku ga tahu harus nulis apa. Senang yang berlimpah ternyata bisa bikin manusia gagap dalam berkata-kata. Ya, seperti aku hari ini. Sekarang ini. 

Hari ini, di Yogyakarta 7 September 2014, syukur alhamdullilah aku masih diberi kesempatan untuk bertemu dan bersapa ria dengan salah satu musisi favoritku, Pongki Barata. Bisa bertemu wajah dan mendengar langsung indah suaranya merupakan satu diantara hari baik yang pernah kupunya. Aku ga punya kata2 yang tepat untuk mengilustrasikan dan menarasikan perasaanku hari ini. Pokoknya hari ini aku senaaaaaaaaang tak terkira. Hari ini berbeda, Hari ini luar biasa. Terimakasih ya Allah.

Sebagai tanda syukurku pada-Mu wahai Dzat yang Maha, mungkin aku harus menulis kisah ini dengan sesuatu yang lebih baik dari tulisan yang sekarang ini sedang kurangkai seadanya. Lain waktu. Oh semoga Kau tidak melunturkan kebahagiaanku hari ini, agar esok atau lusa aku masih punya kenangan tentang hari ini supaya bisa kukisahkan dengan lebih baik. Semoga.



Sunday, August 24, 2014

Rindu Ibu

Minggu pagi. Saya sedang menikmati rindu. Bersama satu botol minyak kayu putih pemberian ibu.

Pagi adalah Memandangi Kalian

Pukul 8 pagi. Akitifitas pagi di rumahku biasanya akan dimulai pada pagi setelat ini. Aku yang terpaksa beranjak dari kasur empuk setelah dengan sengaja bermalas-malasan hingga jarum jam menunjuk ke angka 8. Si batita Bagas yang sudah anteng didepan tipi dengan siaran kartun animasi kesayangan. Sementara masnya masih betah berlama-lama menyandarkan kepalanya di bantal mickey mouse andalan. Ibu dan bapak yang akan segera bergegas turun dari belakang menuju kamar mandi. 

Ibu, bapak, dan aku biasanya akan mulai berebut kamar mandi. Berebut mandi pagi. Bergantian. Menunggu gilirian. Terkadang aku mempersilakan ibu masuk lebih dulu, tapi tak jarang pula aku tak mau kalah dari ibu. Sementara bapak, dengan langkah santai akan menuju kamar mandi paling belakang dengan handuk ditangan. Kamar mandi utama yang beberapa tahun lalu setelah dibangun hampir2 tak terjamah. Aku suka memandangi punggung bapak saat beliau melangkah ke kamar mandi belakang. Bapak kini banyak mengalah. Mengalah demi wanita2 kesayangannya. Terimakasih, Bapak.

Pagi setelat ini, biasanya aku akan mencium harum sabun milik ibu. Lalu beberapa menit kemudian akan melihat ibu sujud bersimpuh. Juga melihat bapak dengan baju koko putih bersiap melakukan hal serupa. Aku?? Aku yang dengan sengaja akan senang hati melihat mereka berlama-lama. Terpaku. Bersyukur. Aku suka berlama2 melihat ibu dan bapak sujud bersimpuh di atas sajadah pada pagi hari saat matahari beranjak naik. Aku sejuk melihat mereka berdoa dengan merintihkan suara. Sebab aku tahu, disana ada harap dan doa buatku. Terimakasih, Ibu dan Bapak.

Halo matahari, selamat pagi. Malaikat pagi masih ada di rumahku kan? Tolong sinari, terangi, berkahi. Tolong jaga ibu bapakku wahai Dzat yang Maha.


Pagi adalah memandangi kalian. Ibu. Bapak.
-Ucrit Violette-

Monday, May 27, 2013

Tentang Ahmad Tohari

Lagi ngubek-ngubek isi lepi, eh nemu tulisan ini. Ternyata aku pernah bikin catatan tentang Ahmad Tohari. Posting ah! :)

***
Aku suka pada ketampanannya. Wajah lelaki jawa. Ah tidak! Aku suka senyumnya. Oh bukan, aku suka binar matanya. Tatap matanya lembut. Ah, tutur katanya juga halus. Barangkali seperti hatinya. Aku bersyukur bertemu dengannya. Amat sangat bersyukur.


Meski telah tampak kerutan halus pada wajahnya, juga kulit tubuhnya, tetapi ia masih terlihat gagah. Juga bergelora. Dan aku masih berbangga memilikinya. Lihatlah, betapa lembut hatinya. Aku sejenak menahan napas dan merasakan tenggorokanku tersekat sesaat ketika ia menunjukkan kelembutan hatinya. Aku hampir tak percaya bisa melihatnya langsung di depan mataku. 


Sepertinya ia seorang yang pernah terlukai oleh sejarah. Entah oleh apa. Tampak lewat tatapan matanya yang kosong saat ia bercerita tentang kehidupannya, tentang dunianya. Padahal aku sedang menikmati sepotong ceritanya. Lalu ceritanya terhenti, tiba-tiba kudengar serak suara, mata basah, juga butiran airmata satu-satu tumpah. Miliknya. Pemandangan berikutnya kulihat ia merogoh saku celananya demi menemukan selembar sapu-tangan. Ia menghapus airmatanya. Ia berusaha menjaga kestabilan emosi, lalu ia berusaha bercerita lagi. Namun, airmata satu-satu itu sesekali tampak jatuh. Aku terharu. Ah, tak kusangka ia seorang yang berhati lembut.


Pertama kali aku mengenal namanya dari seorang guru. Saat itu umurku kira-kira 15 tahun. Entah oleh keberanian apa aku berani bersuara pada guruku bahwa aku ingin meminjam buku susastra. Lalu guruku memilihkan karyanya. Sebuah buku sastra berjudul Kubah. Padahal guruku itu menyebut nama pengarang asing yang beliau favoritkan, yang kini juga menjadi pengarang favoriku, Sidney Sheldon. Dari cerita singkat yang guruku paparkan terdengar amat menarik ditelingaku. Ingin rasanya aku membaca buku itu. Tapi tidak, guruku tidak meminjamkan karya Sheldon, guruku memilihkan karya penulis nasional. Penulis itu bernama Ahmad Tohari. Seingatku, itulah pertama kali aku membaca buku susastra, klasik pula. Darisana lah barangkali tumbuh bibit cinta dihatiku. Pada buku pada umumnya, juga pada karya Ahmad Tohari pada khususnya. Untuk Sidney Sheldon itu menjadi kekhususan berikutnya.


29 April 2012. Sebuah tanggal yang akan ku kenang dan tak ingin kulupakan. Sebuah tanggal yang membuktikan bahwa Tuhan sangat baik padaku sebab Dia berkenan mempertemukan aku dengannnya. Mendengar sepenggal kisah dari lembar perjalanan hidupnya. Juga mengenal sedikit karakter dari sekian karakter yang melekat padanya. Sebuah nama dan sosok yang dulu sama sekali tak pernah terfikir bahwa aku bisa bertemu langsung dengannya, seorang penulis ternama. Ia bernama Ahmad Tohari. Penulis yang kukagumi karena kesederhanaannya. Alasan lain setelah aku bertemu dengannya, aku suka pada senyumnya, lihatlah manis sekali. Juga binar matanya, binar mata yang begairah memperbaiki peradaban manusia.





Segudang Alasan

Ini nih salah satu alasan, yang sialnya selalu aku jadiin segudang alasan, kenapa aku berat sekali buat ninggalin Jogja. Gimana gak coba? Nyawa cintaku hampir-hampir semua ada disini. Keajaiban-keajaiban pada hidupku susul-menyusul terjadi di kota berhati nyaman ini. Nih aku mau pamerin beberapa bukti dari hal-hal sederhana yang aku dapetin di Jogja, yang barangkali buat sebagian orang tidak penting - sangat tidak penting bahkan! Tapi buatku semua itu menjadi embun-embun mimpi yang sudah menjalar ke seluruh sel-sel tubuhku, sudah mengakar hingga ke ubun-ubun, nyaris melekat pada keseluruhan jiwaku. Ibarat kata semua itu sudah menyatu dengan kulit, dan ketika aku dipisahkan dari kota ini seakan seluruh tubuhku dikuliti. Tau dong rasanya dikuliti seperti apa? Walaupun kita tidak pernah tau persis rasanya dikuliti itu seperti apa, tapi dengan akal kita, kita bisa membayangkan seperti apa rasanya. Bahkan ngebayanginnya aja udah bikin ngeri. Dikuliti, mau dilakukan secara perlahan-lahan ataupun tanpa perasaan, pada akhirnya tetap saja rasanya ga karuan. 

Ini nih moment demi moment, keajaiban demi keajaiban yang berbaik hati menyapaku di Jogja Berhati Nyaman ini. Check these out yeah:

1. With Sheila on 7 (2009 until now)

























 2. With Jikustik (2009 until now)






























 3. With Pongki Barata (December 2010)





 4. With Dee (January 12th, 2012 & December 2012)



5. With Ahmad Tohari (April 29th, 1988; eh 2012 maksudnya*kelupaan, serasa ngisi biodata :))




 6. With Nestor Rico Tambunan  (April 29th, 2012)


 7. With Sudjiwo Tejo (May 26th, 2013)



 8. With Andrea Hirata (May 26th, 2013)