Sunday, August 24, 2014

Rindu Ibu

Minggu pagi. Saya sedang menikmati rindu. Bersama satu botol minyak kayu putih pemberian ibu.

Wajah Ibu

Aku memantulkan wajah pada cermin. Kutemukan rupa ibu disana. Ada wajah milik ibu pada keseluruhan wajahku. Ya, aku memang anak perempuan ibu. Tidak percaya? Ini buktinya.


 
Saya ada karena cinta Ibu.
Ibu. Saya cinta.
Selalu.
Tak berbatas waktu.






Pagi adalah Memandangi Kalian

Pukul 8 pagi. Akitifitas pagi di rumahku biasanya akan dimulai pada pagi setelat ini. Aku yang terpaksa beranjak dari kasur empuk setelah dengan sengaja bermalas-malasan hingga jarum jam menunjuk ke angka 8. Si batita Bagas yang sudah anteng didepan tipi dengan siaran kartun animasi kesayangan. Sementara masnya masih betah berlama-lama menyandarkan kepalanya di bantal mickey mouse andalan. Ibu dan bapak yang akan segera bergegas turun dari belakang menuju kamar mandi. 

Ibu, bapak, dan aku biasanya akan mulai berebut kamar mandi. Berebut mandi pagi. Bergantian. Menunggu gilirian. Terkadang aku mempersilakan ibu masuk lebih dulu, tapi tak jarang pula aku tak mau kalah dari ibu. Sementara bapak, dengan langkah santai akan menuju kamar mandi paling belakang dengan handuk ditangan. Kamar mandi utama yang beberapa tahun lalu setelah dibangun hampir2 tak terjamah. Aku suka memandangi punggung bapak saat beliau melangkah ke kamar mandi belakang. Bapak kini banyak mengalah. Mengalah demi wanita2 kesayangannya. Terimakasih, Bapak.

Pagi setelat ini, biasanya aku akan mencium harum sabun milik ibu. Lalu beberapa menit kemudian akan melihat ibu sujud bersimpuh. Juga melihat bapak dengan baju koko putih bersiap melakukan hal serupa. Aku?? Aku yang dengan sengaja akan senang hati melihat mereka berlama-lama. Terpaku. Bersyukur. Aku suka berlama2 melihat ibu dan bapak sujud bersimpuh di atas sajadah pada pagi hari saat matahari beranjak naik. Aku sejuk melihat mereka berdoa dengan merintihkan suara. Sebab aku tahu, disana ada harap dan doa buatku. Terimakasih, Ibu dan Bapak.

Halo matahari, selamat pagi. Malaikat pagi masih ada di rumahku kan? Tolong sinari, terangi, berkahi. Tolong jaga ibu bapakku wahai Dzat yang Maha.


Pagi adalah memandangi kalian. Ibu. Bapak.
-Ucrit Violette-

Tersedak Rindu



"Terlalu banyak rindu yang menggantung. Tapi kekasih, aku tak ingin jatuh limbung."

Mencoba Lupa

Malam Minggu, atau dini hari. Aku tidak ingin lagi mengingat kamu.
Pergilah... sebebas yang kamu mau.

Saturday, August 23, 2014

Seiring berjalannya waktu,
aku sadar,
ada memang hal-hal yang seharusnya dilepaskan. Dilupakan.
Mimpi. Kenangan. Kamu.

Friday, August 22, 2014

Tulisan tak Bernama

Ada yang ingin kutumpahkan lewat tulisan-tulisanku di jurnal pribadiku ini. Tapi entah kenapa akhir2 ini aku enggan menulis. Enggan mengeksplorasi segala hal yang ada di kepala. Sekalipun aku ingin. Hmmm, rasanya aku kehilangan esensi dari menulis itu sendiri. Dulu aku bebas menulis apa saja. Peduli apa dengan komentar orang lain. Suka, alhamdulillah. Ga suka, ya gak apa2. Aku ga pernah ambil pusing.

Kini agaknya ingatanku mulai luntur dengan niatanku dulu sewaktu membuat akun ini. Ini semacam jurnal kehidupanku sehari-hari yang bebas bisa kuisi dengan apa saja.  Tulisan sampah. Foto bedebah. Dan segala macamnya. Ya, semacam diary lah. Kerennya, jurnal ini mampu merekam dengan sempurna setiap detil waktu kronologi. Mengalahkan memori otakku yang volumenya hanya sepersekian mililiter saja. Oh ya, dan itulah alasanku menulis. Karena aku sadar, amat sangat sadar dengan kemampuan otakku. Paling2 aku hanya mampu mengingat beberapa momen saja. Itu pun tidak pernah sedetil kejadian sebenarnya. Selalu ada hal2 yang terlupakan. Atau memang sengaja dilupakan. Dan aku memang seorang yang pelupa berat. Ga sedikit orang2 terdekatku yang kecewa sama beratnya karena aku kerangkali melupakan momen2 kebersamaan yang bagi mereka tidak terlupakan, atau mungkin tidak layak untuk dilupakan.

Aku sedih. Aku kehilangan greget untuk menulis. Oh damn, bahkan juga membaca. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku pergi ke toko buku dan membawa pulang sesuatu darisana. Lupa kapan terakhir kali aku membaca, juga lupa buku (si)apa yang kubaca. Tanpa aktifitas baca tulis, aku kosong. Sama kosongnya seperti jurnal ini tanpa tulisan. Dan otomatis akan menghadirkan kekosongan lain yang berantai. Kekosongan pembaca. Kekosongan rasa. Kekosongan jiwa.

Keenggananku untuk menulis memang beralasan. Paling tidak buat diriku sendiri. Aku yang akhir2 ini kelewat introvert menjadi alasan utama yang tak bisa kutepis. Ya, beberapa tahun belakangan aku memang ekstrim berubah. Paling tidak itulah penilaian jujur dariku tentang diriku sendiri. Ironis memang. Oke, lupakan. Kita tidak sedang membicarakan ini. Hmmm, lalu apa hubungannya introvert dengan dunia tulis menulis? Ini alasannya.

Dulu aku mengemas niatan menulis dengan formula yang sangat sederhana. Bahwa esensi menulis adalah untuk menulis. Menulis tanpa tendensi apa-apa. Tanpa pretensi apa-apa. Terserah mau menulis apa saja, toh ini satu2nya media yang kupunya untuk bersuara. Terserah mau nama sesiapa saja yang ingin kukristalkan di jurnal sampah ini. Menjadi abadi bersama tinta tak bercetak. Menjadi lestari bersama cerita sederhana yang sengaja kualurkan lewat bahasa rasa. Ya, seharusnya mereka berbangga. Tapi, justru disitulah alasannya. Keintrovertanku membuat tulisanku mandek.

Aku kehilangan esensi menulis itu. Aku kehilangan kata2. Aku kehilangan rasa. Segala rasaku direnggut paksa dariku. Tanpa permisi. Dan aku tak ingin membuat dia berbangga dengan tulisan yang sengaja kurangkai untuk dia. Rasa itu pada akhirnya membendungku. Membatasi kursor ketikku. Aku tak ingin menulis tentang seseorang. Ya, that's the problem. Oh no, in fact it's my problem.

Aku tak lagi bisa bebas berekspresi. Karena aku tahu, dia mengintaiku. Aku tak mungkin menulis tentang segala rasaku tentang seseorang yang kutahu ia selalu mencoba membaca aku. Ya, aku tak suka "dibaca". Aku tak ingin rahasiaku dibaca dan dianalisa langsung olehnya. Aku terpaksa harus mengingat kode etik menulis. Ga mungkin aku menumpahkan segala rasaku disini, di jurnal ini. Tetiba rasaku mendadak tumpul. Aku gagu. Padahal seperti yang sudah kukatakan, inilah satu2nya media yang kupunya. Lalu, kalau tidak disini kemana aku harus bersuara?? Efek sampingnya hatiku menjadi lebam. Membiru. Disini, aku hanya ingin menulis. Aku ingin bebas bersuara. Aku ingin bebas mengekslorasi segala isi hati dan kepala. Bukankah menulis itu tak berbatas? Tapi, disini dia ada. Dia hadir. Dia membaca. Dia tahu. Dia peduli, meski tidak cinta.