Showing posts with label Entah. Show all posts
Showing posts with label Entah. Show all posts

Saturday, February 25, 2017

Lingkar Jodoh

Kita tidak tahu nantinya akan menikah dengan siapa.  Orang lama yang pernah kita cinta atau dengan orang yang sama sekali baru hatinya. Sama aja. Bagaimanapun caranya menikah, bagi saya tetap saja itu anugerah. Asalkan tidak melanggar norma-norma.

Adalah lumrah jika manusia diliputi gelisah karena belum juga menikah diusianya yang sudah pantas untuk manapaki itu. Tapi jangan khawatir, Tuhan tidak pernah meninggalkanmu sendiri. Tuhan hanya memintamu bersabar lebih. Tuhan memantau kesiapan yang sedang kau pupuk setiap hari. Tuhan ada dalam tadahan tangan yang kau susun atas jemari. Tuhan mendengar semua do'amu. Perkara kapan do'amu dijawab itu perkara nanti.

Hari ini saya mendapat satu undangan pernikahan dari salah seorang sahabat saya. Dia yang lumayan tenggelam kabarnya, tahu2 megirimi saya sebuah undangan pernikahan. Ia akan melangsungkan pernikahan minggu depan. Nggak pernah cerita2 sebelumnya, eh tahu2 memberi kabar bahagia yang tanpa aba2. Saya mendadak galau? Nggak juga. Justru sebaliknya, saya berbahagia.

Sahabat saya ini seumuran dengan saya. Ia yang setahun yang lalu gelisah karena tak punya kekasih, tahu2 mendadak memberi kabar ia ingin menikah. Saya nggak tahu detil hubungan asmaranya, tapi setelah resmi menerima undangan akhirnya sebagai sahabat saya kepo maksimal. Mulai lah tanya2 rempong ke dia. Hahaha. Ternyata ia akan menikahi seorang yang mati2an pernah ia tolak cintanya. Sejak lama.

Selalu ada kisah menarik mengenai jodoh. Dengan kadar bumbunya masing2. Dengan kadar 'rasanya' sendiri-sendiri. Jodoh selalu menjadi kisah ajaib untuk ditelusuri. Tak ada penolakan yang sia-sia. Tak ada penerimaan yang biasa-biasa saja. Semua telah diatur dan ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Bagaimanapun kita berjalan santai kalau memang jodoh toh ia akan sampai digenggaman. Bagaimanapun kita berlari dengan 1000 kaki kalau Allah takdirkan tidak berjodoh toh tidak akan terjadi. Jadi, perkara jodoh tak perlu terlampau dibikin rumit. Ikuti saja alurnya. Nikmati prosesnya. Percayalah tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Segala hal sudah berjalan pada track-nya. Asalkan kita percaya. Lalala lalala... (mantra jiwa)

Friday, February 03, 2017

Bekal Perjalanan

Adalah kesalahan besar jika dalam perjalanan atau dalam bepergian tidak membawa minyak kayu putih, pena dan buku catatan. Dalam hal minyak kayu putih jarang sih ketinggalan, karena ini sudah menjadi obat wajib sehari-hari, tapi kalau buka catatan ya ini yang sering kelupaaan.

Saya sih orangnya kalau diperjalanan suka berimajinasi. Jangankan naik pesawat, naik motor aja saya seringkali nggak fokus. Isi kepala seringkali berantakan. Sering kepikiran hal2 lain diluar berkendara. Ini kalau pihak kepolisian tahu bisa2 SIM C saya dicabut, jadinya gak boleh berkendara.  Tapi syukurlah mereka nggak tahu. Hahaha.

Perjalanan kali ini kurang lengkap rasanya tanpa coret-coret sesuatu. Kepala jadinya makin gak karuan. Banyak yang bertebaran liar disana. Yang sayangnya tidak bisa saya kristalkan. Syukur Alhamdulillah perjalanan kali ini ada jaringan signal WiFi-nya jadi masih bisa nulis di blog. Enyiwei, kalau diperjalanan ada jaringan WiFi gini rasanya surga. Alhamdulillah cuaca siang ini lumayan cerah berawan. Do'akan perjalanan ini barokah ya..



Sunday, January 29, 2017

Harapan

Tak ada yang salah dengan harapan. Harapan
menjadi oase penyejuk bagi mereka yang letih berkelana. Harapan menjadi jembatan untuk sampai pada tujuan. Harapan membawa kita dekat dengan akhir perjalanan yang kita idamkan.

Sekonyol apapun harapan, ianya tak pernah salah. Harapan tidak dipandang dari sudut benar dan salah. Harapan boleh dihidupkan oleh siapa saja. Harapan ada untuk menyegarkan mereka yang letih berkelana, sekaligus menjadi jembatan pemberitahuan bahwa belum saatnya berhenti. Belum saatnya menyerah kalah. Belum tiba waktunya menghentikan langkah.

Harapanmu tidak ditentukan oleh orang lain. Harapanmu mutlak menjadi milikmu sendiri. Harapanmu tidak seharusnya dipatahkan orang lain. Harapanmu semestinya tetap hidup didalam dirimu. Harapanmu tak boleh mengecil sekalipun dunia tak selalu ramah padamu. Harapanmu tak boleh pupus. Harapanmu harus tetap ada. Harapanmu harus tetap menyala. Harapan harus menjadi nyata. Mungkin memang tidak semua, paling tidak pastikan beberapa.





Sunday, January 22, 2017

Cerita Embuh

Iseng-iseng kirim pesan ke mantan "hei, aku nge-blog lagi loh. Aku mulai nulis lagi".
Jawaban dia "Iyakah? Palingan ga sebagus dulu nulisnya"

Dari jawabannya atas pertanyaanku diatas akhirnya membuatku berpikir benarkah kualitas menulisku semakin entah? Hmm...
Jawabanku ke dia ya aku akhirnya pilih ngegombalin dia. Aku bilang ke dia bahwa tulisanku gak sebagus dulu krn objeknya bukan dia 😄. Padahal ya akunya sedikit terusik juga sama jawaban cerocosnya. Hahaha.

How come? Nih anak mulutnya suka sak penake dewe. Suka2 dia aja gitu mau ngomong apa aja ttg aku. Gak mikir apakah aku tersinggung apa gak, apakah aku bakalan terusik dgn ucapannya apa nggak. Dia udah kehilangan etika berbicara kalau ngomong sama aku. Mudah2an sih cuma sama aku aja sih dia kek gitu. Tapi aku kok gak yakin ya? Haha

Oke, lanjut ke poin di atas. Kenapa bisa aku sedikit terusik dgn ucapannya di atas? Sebenarnya ya aku sih ngerasa tulisanku emang gak bagus. Tulisan isinya sampah semua. Lol. Tapi karena dia bilang paling2 tulisanku gak sebagus dulu, aku jadi agak ge-er juga, berarti tulisanku dulunya buat dia bagus. Berarti dia dulu suka caraku bercerita (tersenyum bangga 😄). Tapi efek dari bilang kek gitu aku jadi lihat2 arsip tulisanku, mencoba mengukur perbedaan tulisan beberapa tahun lalu dengan tulisan yg beberapa hari lalu aku posting di blog ini. Sialnya pada awal aku nulis blog ini, itu sudah melewati masa menjalin hubungan dengannya. Tulisanku ttgnya ada di Facebook. Dan sayangnya akun Facebookku sudah lama menjadi almarhumah. Si empunya kehilangan akses untuk masuk ke fb. Udah gak bisa diziarahi lagi tulisan2 yg ada di akun itu. Syedih. Jadilah awal cerita di blog ini adalah tentang lelaki lain. Lol (Habis ini akunya di unfriend oleh mereka,  eh apa mending aku dahului mereka ya 😂)

Terus kesimpulannya apa? Nggak ada. Hahaha. Karena gak berhasil nemuin arsip tulisan jaman dulu waktu bareng dia, jadinya gak ada kesimpulan. Tulisanku dari dulu hingga kini bagus2 aja sih menurutku (ini sih akunya narsis parah, haha). Tapi ya yang namanya proses kreatif menulis itu kan naik turun, berkembang gitu, jadi ya setiap tulisan punya esensi dan cerita masing2, tergantung pembaca sih menilainya dari sudut mana. Tapi menurutku pribadi akunya males kalau tulisanku dinyinyirin. Dikira enak apa2 yg kita kerjakan dinyinyirin orang? Lah orang yg nyinyirin itu udah kasih kontribusi apa buat pemolesan karya tulisku? (alamak, bahasanya!) Nih ya aku kasih tahu, yang namanya penulis amatir kayak aku gini gak usah dinyinyirin karena emang ini tulisan cm cerita, belum ke ranah fiksi. Jadi gak usah prematur juga mengkritik ini itu. Harusnya disupprot terus biar rajin cerita, pembebasan jiwa lah. Biar balance antara rasa dan jiwanya. Biar gak gila. Syukur2 kalau berhasil bikin tulisan di blog dikasih coklat 1 kg sebagai award. Kan biar penulisnya semangat nulis sampah terus. Ala biasa karena biasa, men! Semuanya proses. Jadi better orang kayak aku gini didukung terus, disayangin, dinikahin. Eh?? 😄

Saturday, January 21, 2017

Cerita di Malam Minggu

"I love reading. I just hate having so many books to read and yet never having enough time to read them."

Kali ini ngebahas quote lagi. Hehe. Saya termasuk orang yang gemar membaca, dulunya. Kenapa saya bilang dulu? Karena kini intensitas saya pacaran sama buku jauh berkurang. Biasanya saya gemar mampir ke tokobuku, bawa sesuatu darisana, lalu membacanya beberapa waktu kemudian. Jangan kira 'beberapa waktu' disini dalam waktu yg relatif dekat dari tanggal dan waktu ketika saya membeli buku tersebut. Kenyataannya saya membaca sesuai mood saya. Seselonya (sesuai waktu selapangnya) saya.

Dulu, ketika saya masih hobi2nya membaca saya seringkali menimbun buku. Jadi saya sering mampir ke tokobuku dan membeli beberapa buku, lalu sesampainya di rumah mereka (buku2) tidak langsung dibaca. Disimpen dulu di rak buku, plastiknya aja gak langsung dibuka, ya asli diabaikan gitu aja. Mungkin kalau mereka bisa teriak mereka gak terima kali diperlakukan begitu. Haha. Mereka saya baca benar2 tergantung mood dan minat baca saya. Tergantung waktu lapangnya saya juga. Sebenarnya ya waktu lapang itu hanya alibi, kalau memang prioritas ya kapan aja bisa dikedepankan, ya kan? Ibarat PR waktu sekolah dulu, mau kegiatan kita seabrek pun tetap harus ngelirik PR sekolah. Tapi mungkin itulah yg membedakan PR dengan kegiatan baca tulis, PR menjadi mendekati wajib untuk dikerjakan sementara kegiatan baca tulis tidak. Mereka hanya utk mengisi waktu luang. Mereka hanya sebagai pleasure dan entertainment. Dengan kegiatan yang seperti inilah yang menyebabkan buku2 saya banyak sekali yang belum terbaca padahal mereka sudah lama sekali halal menjadi milik saya. Buku2 semenjak 1 atau 2 tahun yang lalu saya beli, atau barangkali 3 atau 4 tahun yg lalu masih ada loh yg belum saya sentuh, belum saya pacari, belum saya baca dan akrabi. Semoga saya tidak termasuk orang mendzolimi mereka. Amiin.

Akhir2 ini kegemaran saya dalam membaca jauh berkurang, saya tak tahu mengapa. Saya jarang berkunjung ke tokobuku, konon pula beli ya kan, mampir aja gak pernah? :(
Saya menjadi tidak terlalu hobi berbelanja buku. Biasanya ketika event tahun baru, minggu pertama awal tahun salah satu bookstore di Yogyakarta kerap mengadakan diskon special awal tahun. Gak tanggung2, all items men! Semua buku apapun yg ada di bookstore itu dibandrol promo diskon lumayan gede 30%. biasanya sih pada hari2 biasa hanya 10-15 %, tapi rata2nya 10%, gak heran pada event special awal tahun menjadi promo yg dinanti2 penikmat buku. Dulu saya sangat excited dgn promo ini. Gak jarang juga jd rajin menabung beberapa bulan sebelum hari H untuk kemudian pada hari H siap2 membobol tabungan. Pada event kayak gini suka khilaf sayanya. Belanja lumayan banyak cm krn promo, bacanya kapan? Entar2 deh, yang penting punya dulu. Gak jarang juga kebablasan gak dibaca sampai tahun berikutnya. Haha. Inilah yang dinamakan penimbun buku. 😄

Tapi semenjak mood baca saya berkurang, tahun ini menjadi tahun pertama saya tidak ikut serta pada event promo di atas. Dan seriously saya gak merasa menyesal. Saya gak lagi menggebu2 buat bolak-balik ke tokobuku untuk sekedar lihat2 atau searching buku tertentu. Sepertinya memang ada yang salah dengan saya ya? Jawabannya iya, tapi mungkin juga nggak. Saya sekarang lebih rileks mengenai buku. Gak cuma buku sih sebenarnya, dalam hal musik juga. Biasanya saya selalu 'maksain' untuk nonton konser musik musisi favorite saya. Tapi sebenarnya nggak juga sih, dari dulu memang agak membatasi. Kalau sekiranya jarak dari rumah menuju venue konser itu jauh dan sepi jalanannya, atau kalau venue nya di lapangan terbuka, saya pilih gak nonton. Apalagi kalau gak ada temen buat nonton barengnya, mending stay saved aja deh di-kosan. Saya kasih sampel. Bulan depan musisi favorite saya ada jadwal manggung, dan itu di kota. Di tempat yg representatif buat nonton konser, jarak rumah - venue gak jauh, gak terlalu sepi juga, namun saya agaknya pilih gak nonton. Gak tahu ya? Saya kok rasanya udah mendekati "males" untuk mengakrabi hobi2 saya dulu. Seperti ada yg menggerakkan, seperti ada yg berbisik itu tidak lagi menjadi prioritas saya. Prioritas saya kini hanya ingin segera menjadi Ibu, ehhh?? *kecolongan*

Sebenarnya saya gak nyesel karena mulai meninggalkan konser musik, yg agak saya sesalin ya hobi baca tulis saya ini. Saya merasakan banyak sekali manfaat membaca buku, sebab saya percaya buku itu gudang ilmu. Pepatah juga bilang bahwa buku adalah jendela dunia. Kita bisa mengetahui cakrawala dunia tanpa harus kita menetap disana, kita bisa mengetahui apa saja mengenai semesta dengan membaca. Yang terpenting manfaat membaca bagi saya adalah kita jadi bisa mengukur "kepekaan rasa" kita. Kita jd mengenali diri sendiri dan lebih mengakrabi semesta. Manfaat inilah yang tidak ingin saya hilangkan dari diri saya. Semoga semua ini kan cepat berlalu, semoga semua ini hanyalah persinggahan sementara bagiku... (revisi lirik musisi saya nih, hehe)

Jadi sebenarnya saya ingin sekali punya mood untuk bermesraan dengan pacar2 (baca: buku2) saya. Saya gak ingin mengabaikan mereka lebih lama lagi, saya ingin kembali merasakan jatuh cinta kepada buku. Semoga mereka bisa membimbing saya kembali...



Thursday, January 19, 2017

I Won Myself

Naluri malam Jum'atnya lagi "keluar" harap maafkeun kalau ngomongnya ngelantur. 😁

"If your ex blocks you, you won".
👆
First time I read it, I laughed out loud. Because what? Because I had a kind-hearted ex, but I did it to my special ex. I did what? I blocked him from all social media accounts. I blocked him from my life. But, did I loose? No, I won. I won to fight myself to remember him, to pass away everything about him. Yeay! 🎉🎉🎉

Menjalin hubungan baik dengan masa lalu kita itu ibarat mengenali diri sendiri. Mengenali kekuatan yang kita punya. Ada memang hal2 yg perlu dan harus diingat dan dikenang, seperti wejangan norma2 kehidupan dari orang tua kita misalnya, namun disisi lain ada pula hal2 yg sengaja harus kita lupakan, ya misalnya perkara ex ini. Haha. Buatku masalah block menge-block ini bukan masalah menang kalah, tetapi lebih kepada melanjutkan hidup (lalu mengalunlah lagu Lanjutkan Hidupmu oleh Jikustik 😁). Kenapa begitu? Ya karena saya sadar, fase kehidupan saya dengannya hanya sampai di titik itu. Harus terhenti dan tidak mungkin dipaksakan untuk diteruskan. Seperti lembaran pada sebuah buku, ceritanya telah usai hingga halaman terakhir, tidak ada kelanjutan cerita karena penulis telah menamatkannya. Untuk melanjutkan cerita, kita hanya butuh lembaran baru, buku baru, orang baru. Eloknya dalam kisah kehidupan kita, penulisnya adalah Allah SWT. Dzat yang Maha Segala. Dia yang paling tahu apa2 yg terbaik buat kita. Sebagai hamba kita hanya perlu bersabar dengan cara kerja-Nya. Karena sesungguhnya dialah sebaik-baik Perencana.

Kembali ke masalah blok-memblok. Saya sedikitpun tidak merasa kalah karena telah memblok semua akunnya. I did unfriend, delete contact, unshared toward him. Honestly I'm free after did it. Alur hidup saya udah gak perlu lagi buat dia ketahui, begitupun sebaliknya. Gak penting lagi buat saya dia mau ngapain atau mau posting apapun karena ya itu tadi, kehidupan kita tdk lagi beririsan. Yang tadinya saling butuh kabar, ketika tdk lagi bersama kembali menjadi asing. Totally. Buatku memang lebih baik ga ada kontak sama sekali. Bukan karena masih nyeri, tapi lebih kepada penerimaan diri. Biar sama2 bisa melanjutkan hidup masing2. Gak saling mengetahui kan jadinya gak saling kepingin tahu detil lebih jauh. Biar kalau mau posting apa2 gak harus dikomentari. Kalau mau posting gebetan juga gak perlu jaga hati. Lol

Hal lain yang lebih penting dari sekedar penerimaan diri adalah menjaga hati. Kali ini tidak menjaga hati ex kita, tapi menjaga hati calon pasangan kita. Pasangan kita kan juga punya hati, nah hatinya itu yg kini harus dijaga. Yang namanya hati laki2 sekuat apa juga tetap aja bisa patah. Salah satu kekuatan  lelaki itu runtuh karena wanita. Masa iya sih kita tega biarin pasangan kita yg baru hatinya patah? Ntar yg repot siapa? Ntar yg nyembuhin siapa? Ya kita juga. Jd better kita ga bersinggungan lagi dengan masalalu (ex), kesian ntar dianya senewen, gak bisa tidur, camberuan, ujung2nya jd nyinyir dan curigaan sama kita. Gak mau kan? Intinya kalau mau membangun hubungan baru jangan lagi ada sisa apapun dari orang masalalu kita. Buat saya sih gak nyaman. Saya pun gak mau diperlakukan demikian. Nah, sebenarnya rumus paling sederhana dalam kehidupan adalah "jika kamu tak ingin diperlakukan seperti yg tidak kamu mau, ya jangan memperlakukan orang lain seperti itu". Intinya hidup itu timbal balik. Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Begitupun sebaliknya.

Enyiwei, saya cuma ngeblok satu ex saya. Gak semua ex saya blok. Saya juga ada yg masih temenan sm ex di akun media sosial. Belum sampai pada tahap blok-memblok. (cuma belum aja nih, haha). Sejauh ini mereka masih dlm tahap normal, sesekali masih berkabar, kita juga gak ada dendam, dan udah gak punya rasa apa2, kadang2 kepo juga dgn urusan asmara masing2. Masih bisa dikatakan harmoni lah, masih bersilaturrahim dengan cara baik meskipun sudah beda frame. Nah, tetiba ada pertanyaan yg mengusik "lah terus apa yg membedakan masih bisa berhubungan dengan mantan atau tidak?". Hmm, mungkin kadar cintanya. Kadar cinta yg seperti apa? Ya gitu deh.

Tapi ya gak cuma sm mantan aja loh hukum blok-memblok itu berlaku di saya. Sama gebetan juga. Lol. Jadi ceritanya saya pernah jatuh cinta sm seseorang, tapi ya gitu ritmenya cinta dalam diam lagi, cinta dalam do'a lagi. (saya sih emang pecinta yg payah, gak berani jatuh cinta terang2an). Beberapa bulan kalau gak mau dibilang setahun, saya bisa menikmati kisahnya dari jauh. Awalnya sih fine2 aja tau aktivitas dan keberadaannya, tapi lama2 nyesek juga. Bobol juga pertahanan saya. Belajar dr yg kemarin gak boleh jatuh cinta diam2 lagi dlm waktu yg relatif lama, jdnya ambil short cut. Maka menarilah jari tekan tombol removed friend, delete contact, unfriend, unshared, and unfollow. Meskipun setelah itu sesal datang kemudian. Cerita ke temen adanya cuma diketawain. Syedih, teman macam apa dia ya? Haha.

Tapi ya itu, saya sadar bahwa setiap pilihan punya konsekuensi. Adalah kita yg memutuskan pilihan maka kita harus berani menanggung segala akibatnya. Kadang2 kita perlu pura2 tangguh untuk mengundang ketangguhan itu pd kita. Saya orangnya gitu. Saya sering ngomong sm cermin, ngomong sama diri saya sendiri agar diberikan kekuatan dan kemudahan dlm menghadapi warna-warni rasa, saya kenali diri saya dengan monolog supaya jiwa saya tau dia punya raga yg sejalan rasanya. Bahwa segala yg ada didalam diri saya harmoni adanya. Jiwa dan raga menanggungnya bersama.

Sekian.



Tuesday, August 23, 2016

Fokuslah Pada Dirimu


“Being selfish isn’t always a bad thing. Sometimes it just means that you know you have to focus on yourself to get to where you want to be”

Kadang-kadang kita perlu fokus pada diri kita sendiri tanpa mempertimbangkan apa yang orang pikirkan dan apa yang orang katakan. Kita hidup di dunia tidak untuk menyenangkan dan membahagiakan semua orang yang kita jumpai, semua insan yang terkoneksi dalam lingkaran kehidupan kita. Bukan. Bukan itu tujuan kita hadir ke dunia. Setiap insan punya misinya masing-masing, punya tugasnya masing-masing. Bagaimana ia menjalani tugasnya juga menjadi tolak ukur yang berbeda-beda. Jangan buru-buru menghakimi seseorang tanpa pernah kita tahu bagaimana perjuangan ia sampai ke titik tersebut. Masing-masing bergelut dengan dirinya sendiri dengan cara dan kadar yang berbeda-beda. Tidaklah bijak jika kita menghakimi mereka tanpa kita pernah mencoba mengerti posisi dan kesulitan mereka, tanpa pernah kita berdiri di “sepatu” yang mereka kenakan. Sepatu yang mereka kenakan belum tenti fit untuk setiap medan perjalanan. Ada kalanya kita perlu bertukar sepatu untuk dikenakan di medan jalan tertentu. Begitulah, ada kalanya kita perlu mencoba memahami mereka dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan cara sebijak mungkin yang kita bisa. Tidak ada orang yang ingin dirinya diremehkan, direndahkan, dikerdilkan, atau di-diskreditkan oleh orang lain. Semua orang ingin hidup dan karyanya dihargai. Meski hanya lewat  sedikit apresiasi. 

Saya belakangan hari ini sejujurnya merugi karena meratapi diri saya yang sedemikian tidak dihargai. Saya sudah lama memahami bahwa terkadang kita berkonflik dengan orang yang justru sangat dekat dengan kita, dulunya, tapi toh beberapa peristiwa terulang juga. Sejujurnya saya ga habis mengerti kenapa masalah ini menjadi begitu penting untuk saya pikirkan, untuk coba saya jernihkan. Saya tidak mau berburuk sangka, yang saya bisa hanya menyimpan konflik ini sedapat-dapatnya saya. Saya seperti terjebak pada hubungan persahabatan Kugy dan Noni dalam novel Perahu Kertas karya Dee. Saya akhirnya mengerti posisi Kugy yang sebenarnya tidak ingin mengasingkan diri dari Noni, hanya saja jarak itu kian meruncing. Kugy akhirnya benar-benar memilih mengasingkan diri. Bukan karena tak ingin meminta maaf atau memperbaiki silaturrahmi, tapi karena dinding ego dalam konflik itu kian menebal dan meninggi. Tak ada celah untuk menembus ego itu. Kugy terkucilkan karena mungkin posisinya memang lemah atau mungkin juga ia tak punya cara untuk bertatap wajah karena tertuduh sebagai pihak yang salah. Begitulah posisi saya, keengganan tampaknya sudah mulai mengakar, merimbun, dan merindang. Saya terlalu takut untuk kembali mendekatinya. Saya terlalu kecil untuk menampakkan wajah dihadapannya. Tapi aslinya saya stress, jujur saja. Belakangan saya jadi sulit tidur karena terbawa perasaan. Terbawa permasalahan.

But it is enough for me. Saya tak butuh pengakuan. Saya bukanlah orang yang haus pujian. Saya aslinya tak suka tampil di depan, karena sungguh tak ada yang bisa saya banggakan. Tak ada keuntungan tertentu yang saya dapatkan darisana. Jadi saya memutuskan untuk “memanggil” alter ego saya yang lain. Cuek kepada apapun. Terlebih pada hal-hal yang sekiranya mengurangi jam tidur dan ukuran berat badan saya. Saya tidak ingin terbebani karena harus menjaga perasaan si A, B, C, D, E, atau Z. Saya tidak ingin tampil tanpa jiwa. Saya tak ingin menjadi orang yang penuh kamuflase. Saya tidak ingin bercermin tanpa pantulan diri saya disana. Saya tidak ingin menjadi seperti yang orang lain inginkan tetapi aslinya itu bukanlah diri saya. Saya gapapa dibenci orang asalkan tetap menjadi diri saya daripada saya menjadi tipe orang yang mereka senangi tapi itu bukan saya. Ya, bukanlah sesuatu yang egois jika kita memilih untuk” menghidupi” diri kita sendiri tanpa terbebani oleh pihak lain, tanpa interfensi dari pihak manapun juga.

Bukanlah hal yang buruk jika kita ingin fokus pada diri kita, pada apa-apa yang ingin kita capai, pada apa-apa yang ingin kita genggam. Kebahagiaan bisa kita ciptakan sendiri. Bodo amat dengan penghakiman orang lain, belum tentu mereka benar juga. Belum tentu kita sepenuhnya salah. Bagaimana kita menjalani hari-hari benar-benar tergantung pada cara kita melabeli sudut pandang kita. Apakah kita mau melabeli sudut pandang tersebut dengan sesuatu yang baik ataukah dengan sudut pandang yang buruk. Yang pasti, sudut pandangmu terhadap sesuatu itu memperngaruhi bagaimana kamu melihat dan menilai sesuatu. Kabahagianmu tidak ditentukan oleh orang lain. Buat saya adalah dosa besar menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain. You can create your own happiness. Don’t be so much fragile. Jadi pada akhirnya saya memilih mengakrabi alter ego saya yang lain. Alter ego yang mengajarkan saya untuk cuek sejadi-jadinya pada orang lain dan lebih mementingkan fokus pada kebahagiaan diri sendiri. Sebab saya tak ingin merugi dalam menghargai diri saya sendiri. Saya ingin menyetir diri saya ke arah yang ingin saya tuju, bukan ke arah yang orang lain mau.



Wednesday, August 03, 2016

Ketakutan Yang Berulang


Hari ini aku menyadari sesuatu. Ada satu hal yang paling bikin aku iri setengah mati pada orang lain. Yakni tentang memantapkan sebuah pilihan. Seperti yang sudah pernah kutuliskan pada tulisan2 sebelumnya, aku punya masalah berat dalam hal memilih. Memilih tak pernah menjadi perkara mudah bagiku. Memilih apa pun. Memilih barang, terlebih lagi memilih “orang”, memilih teman hidup.

Tadi siang seorang teman bercerita tentang rencana pernikahannya kepadaku. Aku senang dia berkenan berbagi cerita bahagianya kepadaku, tapi di sisi lain rasanya ada yang “menghantamku”. Bejibun tanya pun seketika menyerangku. Kenapa orang-orang begitu mudahnya menentukan dan memantapkan sebuah pilihan? Kenapa sangat berbanding terbalik denganku? Kenapa mereka begitu yakin sementara aku begitu peragu?

Tentang pernikahan, entah mengapa aku begitu takut melangkah kesana. Setelah berkali-kali mencoba berhubungan dengan lelaki dan akhirnya gagal, mentalku kian terpuruk. Ketakutanku kian menumpuk. Kabut ketakutanku kian menebal. Aku kian kecil dihantam mimpi besar yang dulu kubangun. Ketakutanku terjebak pada pemantapan pilihan. Aku takut aku menikahi orang yang salah. Aku takut tidak bisa mempersembahkan apa yang seharusnya menjadi haknya. Yang pada intinya aku takut aku tidak bahagia.

Siapapun, tolong ajari aku cara memilih. Memilih yang terbaik diantara yang baik. Ajari aku bagaimana caranya melangkah tanpa rasa takut. Tolong ajari aku menghadapi dunia. Percayalah, aku hanya ingin bahagia. Tapi entah, apa itu bahagia?

Wednesday, June 01, 2016

I Choose Nothing


Begini ya rasanya terjebak pada pilihan? Bukan karena dihadapkan begitu banyak pilihan tetapi karena nyaris tak bisa memilih karena tak punya pilihan apapun. Terlebih lagi pilihan itu tidak menyenangkan. Sejatinya saya bukan orang yang gemar dihadapkan dengan pilihan macam-macam kalau toh satu pilihan saja sudah memusingkan. Sebab memilih bagi saya setara dengan menentukan jalan buat hidup saya. Satu pilihan akan membuka pilihan-pilihan lain. Satu jalan akan membawa langkah saya semakin jauh menemukan jalan lain yang sayangnya saya tidak tahu apakah jalan itu benar jalan yang ingin saya tuju. Saya sendiri bukan orang yang jago dalam hal memilih. Bukan pula orang yang bisa diandalkan dalam menetapkan sebuah pilihan dan keputusan. Saya seringkali pusing sendiri hanya karena selera rasa saya yang aneh. Sering berganti-ganti. Saya seringkali “disesatkan” oleh perintah otak saya sendiri. Begitulah, bagi saya memilih tak pernah terbilang mudah. Apalagi saya tak punya kuasa untuk memilih, bahkan hanya untuk sekedar mengatakan kata “tidak”. Sejatinya dalam proses pemilihan hanya ada dua pilihan. Iya atau tidak. Namun ketika dalam peroses pemilihan tersebut jawaban kita nyaris tak bakal diperhitungkan, apa guna kita mempunyai hak pilih? Apa guna kita disodorkan pada pilihan iya dan tidak yang nilainya semu semata? Dalam hal ini pilihan apapun nyaris tak berarti. Kuasa telah memegang kendali. Dan saya telah mati tanpa pilihan yang bisa saya pertimbangkan. Karena dalam hal ini tak pernah ada yang namanya proses pemilihan. Jual beli sudah dipatenkan. Tak boleh ada tawar menawar. Tak boleh mengkalkulasi untung-rugi. Semua sudah beroperasi layaknya pasar pagi.


Monday, October 12, 2015

Derita Perempuan

Ada derita yang harus ditanggung seorang perempuan. Derita jatuh cinta tapi tak bisa berbuat apa2. Bintang, tolong tunjukkan kami jalan. 🌌🌟🌠🌌🌟🌠

Thursday, August 20, 2015

Mudah-mudahan Tidak Begitu



Tadi siang aku berkesempatan makan siang bersama seorang teman setelah sekian lama kita gak spend time together even just for a little thing. I love this moment, of course. Karena ketika kita makan, kita gak cuma sekedar makan. Banyak cerita dan berita terkini yang bisa kita bagi. Bukan tentang sesiapa, tapi tentang dunia kita sendiri. Kita gak ngomongin gossip seleb karena aku bukan tipikal orang yang update akan hal itu. Dan itu gak penting, tentu saja.

Cerita siang tadi berfokus pada pernikahan. Awalnya dia bercerita tentang dirinya sendiri yang ianya adalah calon pengantin. Dia cerita tentang ribetnya ngurus ini itu tentang pernikahan. Penentuan waktu juga menjadi sumber ‘kepusingannya. Kemudian percakapan bergeser menjadi penyebutan nama A, B, C, D yang baru aja nikah, dan yang akan nikah dalam waktu dekat. Maka terdatalah mereka, orang2 terdekat yang kita kenal berlomba2 menuju gerbang pernikahan.

Berbagai latar belakang pernikahan pun beragam. Dari 4 nama, aku tuturkan 2 saja ya. Ada yang setelah sekian lama – lebih dari 3 tahun – berhubungan sepasang kekasih tetapi tak direstui oleh pihak keluarga si perempuan, tapi baru Minggu lalu akhirnya tersenyum senang karena perjuangannya kini berbuah menang. Mereka akhirnya menikah. Kronologinya? Si lelaki nekat mendatangi orang tua si perempuan, kemudian dia pun mendapat tantangan besar. Ortu si perempuan menantang tamunya untuk menikahi anaknya esok hari. Voilaaaa… maka menikahlah mereka. Sampai disini, saya harus bilang “itu hebat!”. Allah memang sang Penjodoh terbaik.

Ada lagi, si B, baru minggu lalu dilamar dan akan menikah selambat2nya akhir tahun ini, begitu rencananya. Kronologinya? Si B ini perempuan ya. Asli Jogja, tapi setahun lalu dia tinggal di Kalimantan. Hubungan mereka bermula lewat perkenalan, ajang perjodohan lebih tepatnya, dari seorang teman. Ya teman makan siang saya ini, salah satunya. Hehe. Karena mereka berdua. Tadinya teman makan siangku ini ngerekomendasiin aku buat temen lelakinya itu. Tapi aku dinilai terlalu galak oleh temanku lainnya. Jadinya otomatis di black list lah saya. Ahahaha. Oke, lupakan part ini. Kita focus ke mereka. Jadi, berhubunganlah mereka ini secara jarak jauh. They had met before, but never know deeper each other. They built their long distance relationship between Yogyakarta and Kalimantan. Tapi sekarang tidak lagi. The woman has come to her homeland. It’s great, right? Obviously. Kalau sudah jodoh, bisa bilang apa? Lagi2 cuma bisa bilang Allah selalu punya cara.

Tapi dibalik cerita yang mengagumkan di atas, aku terkejut dengan penuturan sisi lain cerita temenku. Menurut temenku, lelaki ini setahun yang lalu punya pacar dan putus. Kini jadi mantan dong ya? Nah, mantannya si lelaki itu kabarnya akan nikah bulan Desember tahun ini. Sementara si lelaki baru ja ngelamar temenku dan nentuin bulan pernikahannya direncanakan bulan November. Nah loh?? Aku sih sejujurnya ga mikir apa2 tentang kronologi ini. Apakah ini semacam ajang balap2an nikahan atau apa. Tapi setelah denger argument temenku jadinya aku ya gitu deh. Agak mikir kesitu juga. Bukan mikir tentang ajang balapannya, tapi jadi semacam bercermin dan berdo’a dalam hati. Mudah2an aku dijauhkan dari hal yang begini. Mudah2an aku cukup ‘baik’ untuk dijauhkan dari hal2 yang begini. Aamiin.

Kesannya mengagumkan kalau kita baru deket sama seseorang, kemudian dalam waktu singkat kita dilamar dan langsung diajakin nikah. Buat yang gak tau, pasti it sounds amazing. Mungkin begitu cara Tuhan menjodohkan kita. Tapi kalo ada kronologi begini kan jadi ngerasa gimana gitu. Kan semacam korban. Nah, aku jadi agak mikir. Bercermin. Mudah2an kalau saatnya aku harus menikah, tidak ada unsur aneh2 dibaliknya. Belajar jadi lebih mawas diri. Mudah2an calon suamiku kelak cintanya tulus. Gak ada sisa cinta atau motif lain dari cintanya yang lalu. It hurts, anyway. Pun, aku jadi bersyukur juga, untung aja lelaki itu gak jadi dikenalin sama aku. Bukannya aku kegeeran bakal dinikahin dia seandainya aku lah orang yang dikenalkan kepadanya, sungguh bukan itu. Ya, jadi bersyukur aja. Buatku, bukan begitu caranya untuk menuju ke pernikahan. Aku masih cukup sabar menunggu keajaiban Tuhan. Kenapa harus tidak percaya pada rencana Allah?

Aku sih berdo’a, mudah2an si lelaki gak ada motif begitu. Kalau beneran ada kan kasian ceweknya. Sebagai orang luar, aku doain semoga mereka berdua berbahagia. Kini dan nanti. Nah dari cerita orang2 pun kita bisa belajar. Kita selalu butuh cermin untuk ‘merias’ diri. Merias untuk mawas diri itu perlu.

Tuesday, August 18, 2015

Just Perspective of Mine



Kebiasaan deh gw, kalo udah di depan laptop jadi bingung mau nulis apa. Padahal tadinya udah punya kerangka mau nulis apa. Ga cuma satu malah. Sejumlah moment pasca mudik pengen gw kristalkan di jurnal ini. Moment2 terbaik sewaktu di rumah pengen gw paparin lagi. Tapi ya gitu deh, namanya juga Ucrit, sifat pelupanya akut parah. Jadi kalo nanti tulisan ini ga jelas alurnya ngomongin apa, ya harap dimaklumin ya pemirsa.

Hmm… apa ya? Gw beneran bingung mau nulis apa. Lol
 
Oke. I got it. Kemarin pas lebaran di rumah, gw ketemu sama sohib gw semasa SMA. Cewek, dan belum menikah. Kita seumuran. Gw sih bebas cerita ke sohib gw ini tentang apa aja, khususnya tentang cowok. Nah, karena momennya lebaran, biasa kan ya keluarga dan tetangga pada nanyain tentang sesuatu yang sebenarnya ga pengen kita dengar. Apalagi kalo ga tentang pertanyaan seputar pernikahan, yang ujung2nya jatuh ke lembah terror, pemirsa. Sebab pertanyaan demikian bikin sakit telinga dan pening kepala.

Di umur kita yang sudah layak menikah adalah bukan maunya kita masih sendiri. Siapa coba yang ga mau menikah? Kita juga mau kali. Tapi mbok ya jangan diteror segitu hebatnya lah. Kita berdua memang ga punya kekasih, tapi yang ngedeketin kita banyak. Lol. Kita cuma agak berhati-hati milih yang terbaik untuk pendamping hidup kita nanti. Karena untuk menuju kesana, ke pernikahan, banyak pertimbangan yang harus ditakar seorang perempuan. Oke, gw agak susah ngomongin perspektif tentang kita berdua, jadi akan gw persempit ke perspektif gw sendiri.

Untuk menikah, setiap orang punya pertimbangannya masing2. Laki2 dan perempuan. Gw sendiri punya pertimbangan yang mungkin sama dengan pertimbangan orang kebanyakan. Dan kemungkinan lain bisa saja berbeda. Barangkali ini cuma berbeda versi dan berbeda dalam cara memaparkan.
Sejujurnya di usia gw yang sekarang, perspektif gw tentang suami agak sedikit “bergeser”.  Gw ga ngerti ini baik atau malah sebaliknya. Setahun belakangan ini, lewat berbagai peristiwa yang gw hadapi, akhirnya gw ‘dituntun’ ke jalan ini. Kriteria suami sewaktu gw berumur 23 tahun misalnya berbeda dengan kriteria suami ketika saya berumur sekarang ini. Kalo dulu rasanya gw ngerasa cukup sama suami yang bisa bikin gw nyaman. Nah, kalo sekarang itu ga cukup buat gw. Gw lebih condong berfokus kepada seorang imam. Gw sadar pengetahuan agama gw minim, makanya gw ngerasa gw butuh payung yang meneduhkan gw dalam sosok imam. Dia yang akan menjadi panutan gw dalam membangun rumah tangga. Tentang cinta? Ga usah ditanyakan, buat gw itu mutlak ada. Karena gw bukan orang yang mudah jatuh cinta. Kalo gw ga suka sama seseorang sulit sekali buat gw memaksakan diri untuk mengenal orang itu lebih dekat. Atau bahkan membalas pesan dan menjawab panggilan teleponnya. Tapi kalo gw nya udah cinta sama seseorang, keadaan sesulit apapun gw percaya sama dia. Gw percaya kami bisa melalui apa saja.

Ramadhan kemarin, gw nyempatin diri sholat tarawih di masjid yang agak jauh. Bukan masjid yang dekat dari lingkungan kos. Bersama teman gw, kami hunting masjid yang sekiranya bacaan surahnya bagus. Disitu, gw takjub. Gw suka mendengar bacaan imamnya, karena memang terdengar bagus dan merdu. Ternyata enak ya kalo diimamin sama orang yang bacaan Al-Qur’annya bagus? Nah, imaji gw pun meluas. Gw pengen punya suami yang kayak gitu. Yang tiap kali ngimamin gw sholat, gw bergetar karenanya. Nah, pandangan gw tentang suami akhirnya agak bergeser ke imam. Gw pengen dibimbing ke jannahnya Allah SWT. Gw ingin berjodoh sama suami gw bukan cuma di dunia, tapi juga di akhirat. Nah, jadi lah gw ngerasa standar gw untuk calon suami gw nanti bukannya menurun, tapi malah naik. Me?? I try my best to be his choice.

Tetiba gw ingat ada yang bilang tentang seni meningkatkan kualitas diri. Jadi, ketika kamu berharap sesuatu, maka kamu juga harus melakukan perbaikan2 pada dirimu. Misalnya, pasanganmu mungkin sekarang ini nilainya 8, kamu 6. Nah, ada beda kan? 6 tidak sama dengan 8. Belum pantas, makanya belum dipertemukan dalam jodoh. Disinilah kamu berkewajiban memantaskan diri dengannya. Syukur2 kamu bisa lebih baik darinya, tapi minimal ya nilainya sama lah. Nah, gw mengadopsi teori itu. Gw ngarepin sosok imam yang bisa membimbing gw dunia dan ukhrawi, jadi gw harus melakukan perbaikan disana-disini. Gw suka banget liat cowok pake sarung. Rasanya lebih adem dan enak di pandang. Standar ketampanannya pun rasanya meningkat tajam. Me? Gw mau menyelaraskan itu. Kalau dia aja pake sarung, masa gw pake jeans? Ga cocok kan? Makanya gw lagi belajar berubah. Perubahan kecil yang gw coba lakukan sekarang ini, gw lagi mencoba stay away from jeans. Gw lagi belajar pake rok. Agak susah memang, tapi gw coba pelan2. Gw juga berusaha meningkatkan kualitas diri gw yang lain. Dan semuanya dimuai dengan bertahap dan pelan2. Semoga saja cara ini bekerja. Aamiin.

Jadi ya gitu, tetap ngalor-ngidul kan tulisannya? Ahahha. Tak apa lah ya, yang penting udah terapi nulis.

Nite, people…
Zzzzzzzzz

Saturday, August 15, 2015

Pengakuan Semu



Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah sebuah pengakuan.


Kemarin saya mendapat kiriman buku dari seorang sahabat. Rasanya senang luar biasa. (So, I thank to Ika who bought and sent this book as a gift to me. I got it free. Hurraaaaay! :* ) Gimana nggak coba? Buku ini adalah buku karangan penulis favorit saya, Fahd Pahdepie. Pasalnya berbulan-bulan saya hunting buku ini di semua cabang Gramedia di Yogyakarta, tapi tak juga kunjung menemukan. Buku ini kehabisan stock di semua cabangnya. Padahal saya terhitung rajin banget ‘ngapel’ ke tempat ini. Alhasil pencarian saya pun berbuah sia-sia. Makanya pas teman saya kirim pesan melalui whatsApp messenger dan menawarkan buku ini, saya ga ragu untuk nitip dia. Eh, taunya dia baik banget ngasih buku ini sebagai hadiah buatk saya. Thanks for this friendship, Ika. If you were a guy, I ensure myself that I will fall in love with you easily. Lol


Karena buku ini sudah sekian lama saya cari jadi saya gak menunggu waktu lebih lama untuk membuka dan membacanya. Langsung aja saya buka buku itu dan menjelajahi halaman demi halamannya. Tadaaaa… baru buka halaman pertamanya aja buku ini berhasil membuat saya entah. Tetiba ngerasa cemburu luar biasa sama istri penulisnya. Sejauh yang saya baca, penulis mendedikasikan tulisannya untuk istrinya. Ada nyawa dan cinta luar biasa untuk istrinya di setiap tulisannya. Saya bisa menangkap getar itu. Huhu, saya mendadak iri setengah mati baca buku itu. Saya kan juga mau dibikinin tulisan bagus kayak gitu. Tapi siapa coba yang mau bikinin saya tulisan dan menjadikan saya sebagai subyek dalam tulisannya? Nope! *Poor me*


Membaca buku ini benar2 membuat saya bercermin. For some parts, I find myself in loving someone. Terkadang saya merasa saya berperan sebagai Fahd Pahdepie, saya punya rasa yang kurang lebih sama dengan pengarang. Saya suka menulis, meskipun tidak sebagus milik Fahd. Sesekali tulisan saya berporos atas nama cinta. Tertuju untuk satu nama yang ianya ada di kedalaman hati saya. In other parts, I feel like I was Rizqa Abidin, her beloved wife. Saya bisa mencintai lelaki sebesar cinta Rizqa pada Fahd. Saya bersedia mendukung lelaki terkasih saya dalam keadaan apapun demi keutuhan cinta dan jalan menuju bahagia.


Buku ini mendorong saya untuk jujur dalam mencintai seseorang. Betapa segala hal terasa jauh lebih mudah ketika kita akrab dengan kejujuran. Tak perlu ada yang disembunyikan. Apalagi dalam cinta. But Me?? Saya adalah orang yang paling sulit mengaku bahwa saya jatuh hati pada seeorang. Saya lebih memilih memendam rasa ini entah di alam mana. Sekalipun saya tahu, itu sakit. Saya memilih menanggungnya. Rasanya lebih baik begitu. Tapi lewat  buku ini saya seakan diingatkan sesuatu, saya didorong untuk melakukan sesuatu. Entah kenapa saya terus-terusan didorong untuk jujur. Saya dipaksa untuk mengatakan saya cinta dia. Ingin sekali saya  mengetik pesan atas nama pengakuan dan mengirimkan pesan itu padanya. Akhirnya berperanglah saya dengan diri saya sendiri. Saya hampir gila karena ini. Saya mengakui bahwa saya cinta, tapi toh tak bisa juga saya jujur kepadanya. Saya menyerah. Saya kalah. Saya tak pernah ahli dalam berbahasa cinta. Akhirnya saya tak menulis dan mengirimkan apa-apa padanya. Begitulah, saya selalu kalah. Dan rasa ini tetap merdeka di alam maya.


Dorongan untuk sebuah pengakuan, imbauan untuk berekpsresi jujur akhirnya cuma menjadi moral lesson buku itu yang gagal saya terapkan. 

Sekian.

Tuesday, August 11, 2015

Hunting is over

Selasa yang penuh asa. Buku yang dicari akhirnya ada. Selamat menikmati perjalanan, Rumah Tangga.

29(4)88. Noted!
:))))

Monday, August 10, 2015

Never Stop Learning!!!

Sekolah hanyalah sebuah gedung. Sebuah bangunan fisik. Sejatinya, pada semesta lah kita belajar segala. Dan Tuhan adalah Mahagurunya. Selamat hari Senin...