Kita tidak tahu nantinya akan menikah dengan siapa. Orang lama yang pernah kita cinta atau dengan orang yang sama sekali baru hatinya. Sama aja. Bagaimanapun caranya menikah, bagi saya tetap saja itu anugerah. Asalkan tidak melanggar norma-norma.
Adalah lumrah jika manusia diliputi gelisah karena belum juga menikah diusianya yang sudah pantas untuk manapaki itu. Tapi jangan khawatir, Tuhan tidak pernah meninggalkanmu sendiri. Tuhan hanya memintamu bersabar lebih. Tuhan memantau kesiapan yang sedang kau pupuk setiap hari. Tuhan ada dalam tadahan tangan yang kau susun atas jemari. Tuhan mendengar semua do'amu. Perkara kapan do'amu dijawab itu perkara nanti.
Hari ini saya mendapat satu undangan pernikahan dari salah seorang sahabat saya. Dia yang lumayan tenggelam kabarnya, tahu2 megirimi saya sebuah undangan pernikahan. Ia akan melangsungkan pernikahan minggu depan. Nggak pernah cerita2 sebelumnya, eh tahu2 memberi kabar bahagia yang tanpa aba2. Saya mendadak galau? Nggak juga. Justru sebaliknya, saya berbahagia.
Sahabat saya ini seumuran dengan saya. Ia yang setahun yang lalu gelisah karena tak punya kekasih, tahu2 mendadak memberi kabar ia ingin menikah. Saya nggak tahu detil hubungan asmaranya, tapi setelah resmi menerima undangan akhirnya sebagai sahabat saya kepo maksimal. Mulai lah tanya2 rempong ke dia. Hahaha. Ternyata ia akan menikahi seorang yang mati2an pernah ia tolak cintanya. Sejak lama.
Selalu ada kisah menarik mengenai jodoh. Dengan kadar bumbunya masing2. Dengan kadar 'rasanya' sendiri-sendiri. Jodoh selalu menjadi kisah ajaib untuk ditelusuri. Tak ada penolakan yang sia-sia. Tak ada penerimaan yang biasa-biasa saja. Semua telah diatur dan ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Bagaimanapun kita berjalan santai kalau memang jodoh toh ia akan sampai digenggaman. Bagaimanapun kita berlari dengan 1000 kaki kalau Allah takdirkan tidak berjodoh toh tidak akan terjadi. Jadi, perkara jodoh tak perlu terlampau dibikin rumit. Ikuti saja alurnya. Nikmati prosesnya. Percayalah tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Segala hal sudah berjalan pada track-nya. Asalkan kita percaya. Lalala lalala... (mantra jiwa)
Showing posts with label Rasa. Show all posts
Showing posts with label Rasa. Show all posts
Saturday, February 25, 2017
Friday, February 10, 2017
Tentang Perempuan
Berbahagialah kalian wahai kaum lelaki karena tidak pernah merasakan sakit bulanannya kaum perempuan. Kalau bulanannya aja ada sakitnya lalu bayangkan bagaimana sakitnya perempuan hamil selama 9 bulan? 🌜🌵
Sakit bulanan itu disebut PMS (Pra Menstruation Syndrome). Sakit yang rasanya nyeri tak terkira sebab menjelang atau datangnya haidh. Sakit tipe ini memang gak setiap bulan datang, hanya sesekali. Tidak setiap datangnya haidh disertai nyeri perut seperti ini. Tapi jika ia datang, rasanya gak karuan. Rasanya tak ada perumpaan yang tepat ataupun bahasa yang dapat mewakili pemaparan sakitnya. Mau tiduran, duduk, jongkok, berdiri atau posisi apapun sakitnya tetap terasa. Satu2nya yg bikin hilang rasa sejenak adalah tidur pulas. Ingat ya, hanya tidur pulas. Kalau hanya sekedar tiduran dijamin sakitnya gak hilang. Kadang2 walaupun sudah tidur pulas, namun ketika bangun sakitnya kembali datang. Bisa berjam2an sakit begini, kadangkala ada pula yang seharian. Kebayang gak rasanya?
Tapi... Semua itu belum seberapa dibandingkan sakitnya perempuan hamil. Saya sih memang belum pernah hamil, jadi belum tahu pasti sakitnya seperti apa. Kalau ngebayangin kadang2 super ngeri, apalagi kalau ngebayangin keadaan melahirkan. Ampun, saya belum punya nyali. Namun semua itu tidak memupuskan harapan saya agar segera hamil, LoL.
Keadaan sakit nyeri haidh ini bikin saya ingat dengan pemaparan penulis favorite saya, Sidney Sheldon. He said that he liked to use woman character on his novels that represented that woman has tremendous power. I agree with him. Bahwa setiap perempuan itu hebat. Setiap perempuan terlahir kuat. Ia seperti memang diciptakan dengan multi talenta. Sejatinya tidak ada perempuan yang biasa2 saja. Semua perempuan luar biasa. Semua perempuan istimewa. Semua perempuan berharga. Saya berbangga terlahir sebagai perempuan. Bahwa perempuanlah embrio kehidupan. Bahwa ditangan perempuanlah peradaban dibangun.
Kembali ke masalah melahirkan. Kita tahu dari cerita orang2 bahwa melahirkan itu sakit luar biasa. Disana ada pertaruhan nyawa hidup dan mati seorang perempuan. Puncak sakitnya mengandung ada di bab melahirkan. Saya percaya semua perempuan takut dengan melahirkan, namun toh Allah memberikan kekuatan yang nggak bisa diduga bahkan oleh mereka sendiri. Kalau dibayangin memang ngeri tapi pertolongan Allah nyatanya mampu menutup semua luka dan sakit mereka. Ketika bayi yang didamba telah lahir, bersama itu pula senyum mereka mengembang. Maka resmilah mereka menjadi Ibu. Manusia yang akan membangun peradaban.
Dari kejadian nyeri haidh ini saya belajar bahwa sebenarnya ini adalah ujian bertahap sebelum menuju fase melahirkan. Sakit bulanan yang kadang2 datang ini adalah sakit yang sifatnya bertahap. Sakitnya gak setiap sebulan sekali datang, hanya sesekali. Tapi yang sesekali itulah yang bikin perempuan belajar lebih kuat. Perempuan seperti disiapkan untuk episode yang jauh lebih besar, episode mengandung dan melahirkan. Bayangkan mengandung seorang bayi selama 9 bulan itu sakitnya seperti apa ya kalau PMS seharian aja sakitnya seperti ini? 😑 Itulah kekuatan perempuan.
Katanya kalau mengandung itu apa2 susah, tidur susah, buang air susah, jalan susah. Setiap fase mengandung perempuan itu bukannya tanpa risiko. Tri semester pertama, pada tahap ini katanya calon Ibu seringkali merasa mual. Apa2 yang masuk ke mulut seolah2 keluar juga (dimuntahkan). Tapi calon Ibu harus tetap semangat makan nutrisi bergizi demi pertumbuhan janin dalam rahimnya. Walaupun selang beberapa saat makanan yang terpaksa dimasukkan dengan berat hati harus keluar karena bawaan muntah2. Biasanya kayak gini yang bikin Ibu hamil enggan makan. Tapi kalau nggak makan nanti lebih berbahaya lagi katanya. Dilemma kan jadi perempuan? Belum lagi tahapan2 mengandung lainnya. Kalau perut Ibu sudah besar (kandungan tua), mereka harus menopang dua tubuh sekaligus, tubuhnya sendiri dan tubuh calon bayinya. Nggak usah ditanya kita pasti tahu rasanya berat. Dan itu mereka rasakan selama lebih kurang 9 bulan. Membawa-bawa seorang janin dalam kandungan selama 9 bulan itu membikin saya semakin takjub pada perempuan. Buat saya perempuan itu akan jauh terlihat cantik saat mengandung besar, saat perut dan anggota tubuh yang lain terpaksa ikut membesar. Jauh berbeda dari ukuran tubuhnya semula.
Yang membuat saya kagum pada perempuan adalah seberapa pun sakitnya derita perempuan mereka selalu bisa mengatasinya. Perempuan seperti dibimbing langsung oleh Tuhan bagaimana mengobati luka dan sakitnya. Insting mereka tajam. Kasih sayang mereka tanpa batas. Mereka menjadi pusat kehidupan. Bahwa tak ada kelahiran tanpa seorang perempuan. Bahwa tak ada peradaban tanpa 'sentuhan' seorang perempuan. Cara mereka menyembuhkan luka, mengobati sakit, menahan perih, membesarkan dan mendidik anak terlahir dengan sendirinya. Alam semesta yang mengajari mereka. Pengalaman menjadikan mereka Ibu terhebat bagi anak2 mereka. Inilah yang menyebabkan tak ada Ibu yang cacat. Setiap anak pasti mengagumi Ibu mereka masing2. Betapapun tak sempurna pengasuhan Ibu mereka, mereka tak bisa mencari Ibu pengganti. Itulah mengapa Ibu mereka menjadi Ibu terbaik. Rapor Ibu tak ada yang merah. Ibu mereka tetap Ibu terbaik walaupun dibandingkan dengan Ibu siapa saja. Sekalipun dibandingkan dengan Ibu mertua. Inilah mungkin yang menjadi alasan besar bagi setiap anak perempuan agar ketika mereka melahirkan mereka ingin didampingi oleh Ibu kandung mereka, dan bukan Ibu2 lain, sekalipun Ibunya Ibu (nenek) atau Ibu mertua. Dengan pengorbanan Ibu yang luar biasa itulah rasanya sepadan bahwa ada surga di telapak kaki Ibu. Anak2 yang ingin masuk surga sejatinya syaratnya tak susah, cukup muliakan Ibu mereka itu sudah termasuk kunci surga. Tetapi semakin dewasa anak2 belajar mencintai orang lain. Mungkin dalam tahap ini setiap ayah dan Ibu merasa pilu. Bahwa anak2 yang dikandung dan diasuhnya akan mulai membangun peradaban kecil lagi melalui keluarga. Mereka akan mentasbihkan calon Ibu2 yang baru. Mereka akan membangun peradaban secara turun-temurun. Begitulah seterusnya. Hingga peradaban yang lebih besar lahir dan berkembang. Surga2 baru tercipta dengan alami melalui Kuasa Ilahi. Begitulah Allah mengistimewakan seorang perempuan. Jadi bagaimanapun sakitnya menjadi perempuan nikmati saja. Perjuanganmu akan dibalas dengan sangat manis. Contohnya saja saya, dari nyeri haidh ini bisa menghasilkan tulisan absurd ini 😄
PS: penulis menulis tulisan ini sambil meringis menahan sakit. Nyeri haidh ini istimewa! 🍺
Sakit bulanan itu disebut PMS (Pra Menstruation Syndrome). Sakit yang rasanya nyeri tak terkira sebab menjelang atau datangnya haidh. Sakit tipe ini memang gak setiap bulan datang, hanya sesekali. Tidak setiap datangnya haidh disertai nyeri perut seperti ini. Tapi jika ia datang, rasanya gak karuan. Rasanya tak ada perumpaan yang tepat ataupun bahasa yang dapat mewakili pemaparan sakitnya. Mau tiduran, duduk, jongkok, berdiri atau posisi apapun sakitnya tetap terasa. Satu2nya yg bikin hilang rasa sejenak adalah tidur pulas. Ingat ya, hanya tidur pulas. Kalau hanya sekedar tiduran dijamin sakitnya gak hilang. Kadang2 walaupun sudah tidur pulas, namun ketika bangun sakitnya kembali datang. Bisa berjam2an sakit begini, kadangkala ada pula yang seharian. Kebayang gak rasanya?
Tapi... Semua itu belum seberapa dibandingkan sakitnya perempuan hamil. Saya sih memang belum pernah hamil, jadi belum tahu pasti sakitnya seperti apa. Kalau ngebayangin kadang2 super ngeri, apalagi kalau ngebayangin keadaan melahirkan. Ampun, saya belum punya nyali. Namun semua itu tidak memupuskan harapan saya agar segera hamil, LoL.
Keadaan sakit nyeri haidh ini bikin saya ingat dengan pemaparan penulis favorite saya, Sidney Sheldon. He said that he liked to use woman character on his novels that represented that woman has tremendous power. I agree with him. Bahwa setiap perempuan itu hebat. Setiap perempuan terlahir kuat. Ia seperti memang diciptakan dengan multi talenta. Sejatinya tidak ada perempuan yang biasa2 saja. Semua perempuan luar biasa. Semua perempuan istimewa. Semua perempuan berharga. Saya berbangga terlahir sebagai perempuan. Bahwa perempuanlah embrio kehidupan. Bahwa ditangan perempuanlah peradaban dibangun.
Kembali ke masalah melahirkan. Kita tahu dari cerita orang2 bahwa melahirkan itu sakit luar biasa. Disana ada pertaruhan nyawa hidup dan mati seorang perempuan. Puncak sakitnya mengandung ada di bab melahirkan. Saya percaya semua perempuan takut dengan melahirkan, namun toh Allah memberikan kekuatan yang nggak bisa diduga bahkan oleh mereka sendiri. Kalau dibayangin memang ngeri tapi pertolongan Allah nyatanya mampu menutup semua luka dan sakit mereka. Ketika bayi yang didamba telah lahir, bersama itu pula senyum mereka mengembang. Maka resmilah mereka menjadi Ibu. Manusia yang akan membangun peradaban.
Dari kejadian nyeri haidh ini saya belajar bahwa sebenarnya ini adalah ujian bertahap sebelum menuju fase melahirkan. Sakit bulanan yang kadang2 datang ini adalah sakit yang sifatnya bertahap. Sakitnya gak setiap sebulan sekali datang, hanya sesekali. Tapi yang sesekali itulah yang bikin perempuan belajar lebih kuat. Perempuan seperti disiapkan untuk episode yang jauh lebih besar, episode mengandung dan melahirkan. Bayangkan mengandung seorang bayi selama 9 bulan itu sakitnya seperti apa ya kalau PMS seharian aja sakitnya seperti ini? 😑 Itulah kekuatan perempuan.
Katanya kalau mengandung itu apa2 susah, tidur susah, buang air susah, jalan susah. Setiap fase mengandung perempuan itu bukannya tanpa risiko. Tri semester pertama, pada tahap ini katanya calon Ibu seringkali merasa mual. Apa2 yang masuk ke mulut seolah2 keluar juga (dimuntahkan). Tapi calon Ibu harus tetap semangat makan nutrisi bergizi demi pertumbuhan janin dalam rahimnya. Walaupun selang beberapa saat makanan yang terpaksa dimasukkan dengan berat hati harus keluar karena bawaan muntah2. Biasanya kayak gini yang bikin Ibu hamil enggan makan. Tapi kalau nggak makan nanti lebih berbahaya lagi katanya. Dilemma kan jadi perempuan? Belum lagi tahapan2 mengandung lainnya. Kalau perut Ibu sudah besar (kandungan tua), mereka harus menopang dua tubuh sekaligus, tubuhnya sendiri dan tubuh calon bayinya. Nggak usah ditanya kita pasti tahu rasanya berat. Dan itu mereka rasakan selama lebih kurang 9 bulan. Membawa-bawa seorang janin dalam kandungan selama 9 bulan itu membikin saya semakin takjub pada perempuan. Buat saya perempuan itu akan jauh terlihat cantik saat mengandung besar, saat perut dan anggota tubuh yang lain terpaksa ikut membesar. Jauh berbeda dari ukuran tubuhnya semula.
Yang membuat saya kagum pada perempuan adalah seberapa pun sakitnya derita perempuan mereka selalu bisa mengatasinya. Perempuan seperti dibimbing langsung oleh Tuhan bagaimana mengobati luka dan sakitnya. Insting mereka tajam. Kasih sayang mereka tanpa batas. Mereka menjadi pusat kehidupan. Bahwa tak ada kelahiran tanpa seorang perempuan. Bahwa tak ada peradaban tanpa 'sentuhan' seorang perempuan. Cara mereka menyembuhkan luka, mengobati sakit, menahan perih, membesarkan dan mendidik anak terlahir dengan sendirinya. Alam semesta yang mengajari mereka. Pengalaman menjadikan mereka Ibu terhebat bagi anak2 mereka. Inilah yang menyebabkan tak ada Ibu yang cacat. Setiap anak pasti mengagumi Ibu mereka masing2. Betapapun tak sempurna pengasuhan Ibu mereka, mereka tak bisa mencari Ibu pengganti. Itulah mengapa Ibu mereka menjadi Ibu terbaik. Rapor Ibu tak ada yang merah. Ibu mereka tetap Ibu terbaik walaupun dibandingkan dengan Ibu siapa saja. Sekalipun dibandingkan dengan Ibu mertua. Inilah mungkin yang menjadi alasan besar bagi setiap anak perempuan agar ketika mereka melahirkan mereka ingin didampingi oleh Ibu kandung mereka, dan bukan Ibu2 lain, sekalipun Ibunya Ibu (nenek) atau Ibu mertua. Dengan pengorbanan Ibu yang luar biasa itulah rasanya sepadan bahwa ada surga di telapak kaki Ibu. Anak2 yang ingin masuk surga sejatinya syaratnya tak susah, cukup muliakan Ibu mereka itu sudah termasuk kunci surga. Tetapi semakin dewasa anak2 belajar mencintai orang lain. Mungkin dalam tahap ini setiap ayah dan Ibu merasa pilu. Bahwa anak2 yang dikandung dan diasuhnya akan mulai membangun peradaban kecil lagi melalui keluarga. Mereka akan mentasbihkan calon Ibu2 yang baru. Mereka akan membangun peradaban secara turun-temurun. Begitulah seterusnya. Hingga peradaban yang lebih besar lahir dan berkembang. Surga2 baru tercipta dengan alami melalui Kuasa Ilahi. Begitulah Allah mengistimewakan seorang perempuan. Jadi bagaimanapun sakitnya menjadi perempuan nikmati saja. Perjuanganmu akan dibalas dengan sangat manis. Contohnya saja saya, dari nyeri haidh ini bisa menghasilkan tulisan absurd ini 😄
PS: penulis menulis tulisan ini sambil meringis menahan sakit. Nyeri haidh ini istimewa! 🍺
Monday, January 30, 2017
Metamorfosa Kita
Akan datang saatnya aku lebih berbahagia dari kamu hanya karena melihat lengkungan di bibirmu. Akan tiba waktunya aku lebih jatuh ketimbang kamu ketika melihat senyum dan tawa lepasmu lenyap dari wajahmu. Akan sampai masanya kita tak lagi bingung mau berjalan kemana. Dan saat itu tak lagi ada sisi aku dan kamu. Dua makhluk asing itu akan berubah menjadi kita. Semoga.
Sunday, January 29, 2017
Harapan
Tak ada yang salah dengan harapan. Harapan
menjadi oase penyejuk bagi mereka yang letih berkelana. Harapan menjadi jembatan untuk sampai pada tujuan. Harapan membawa kita dekat dengan akhir perjalanan yang kita idamkan.
Sekonyol apapun harapan, ianya tak pernah salah. Harapan tidak dipandang dari sudut benar dan salah. Harapan boleh dihidupkan oleh siapa saja. Harapan ada untuk menyegarkan mereka yang letih berkelana, sekaligus menjadi jembatan pemberitahuan bahwa belum saatnya berhenti. Belum saatnya menyerah kalah. Belum tiba waktunya menghentikan langkah.
Harapanmu tidak ditentukan oleh orang lain. Harapanmu mutlak menjadi milikmu sendiri. Harapanmu tidak seharusnya dipatahkan orang lain. Harapanmu semestinya tetap hidup didalam dirimu. Harapanmu tak boleh mengecil sekalipun dunia tak selalu ramah padamu. Harapanmu tak boleh pupus. Harapanmu harus tetap ada. Harapanmu harus tetap menyala. Harapan harus menjadi nyata. Mungkin memang tidak semua, paling tidak pastikan beberapa.
menjadi oase penyejuk bagi mereka yang letih berkelana. Harapan menjadi jembatan untuk sampai pada tujuan. Harapan membawa kita dekat dengan akhir perjalanan yang kita idamkan.
Sekonyol apapun harapan, ianya tak pernah salah. Harapan tidak dipandang dari sudut benar dan salah. Harapan boleh dihidupkan oleh siapa saja. Harapan ada untuk menyegarkan mereka yang letih berkelana, sekaligus menjadi jembatan pemberitahuan bahwa belum saatnya berhenti. Belum saatnya menyerah kalah. Belum tiba waktunya menghentikan langkah.
Harapanmu tidak ditentukan oleh orang lain. Harapanmu mutlak menjadi milikmu sendiri. Harapanmu tidak seharusnya dipatahkan orang lain. Harapanmu semestinya tetap hidup didalam dirimu. Harapanmu tak boleh mengecil sekalipun dunia tak selalu ramah padamu. Harapanmu tak boleh pupus. Harapanmu harus tetap ada. Harapanmu harus tetap menyala. Harapan harus menjadi nyata. Mungkin memang tidak semua, paling tidak pastikan beberapa.
Sunday, January 22, 2017
Cerita Embuh
Iseng-iseng kirim pesan ke mantan "hei, aku nge-blog lagi loh. Aku mulai nulis lagi".
Jawaban dia "Iyakah? Palingan ga sebagus dulu nulisnya"
Dari jawabannya atas pertanyaanku diatas akhirnya membuatku berpikir benarkah kualitas menulisku semakin entah? Hmm...
Jawabanku ke dia ya aku akhirnya pilih ngegombalin dia. Aku bilang ke dia bahwa tulisanku gak sebagus dulu krn objeknya bukan dia 😄. Padahal ya akunya sedikit terusik juga sama jawaban cerocosnya. Hahaha.
How come? Nih anak mulutnya suka sak penake dewe. Suka2 dia aja gitu mau ngomong apa aja ttg aku. Gak mikir apakah aku tersinggung apa gak, apakah aku bakalan terusik dgn ucapannya apa nggak. Dia udah kehilangan etika berbicara kalau ngomong sama aku. Mudah2an sih cuma sama aku aja sih dia kek gitu. Tapi aku kok gak yakin ya? Haha
Oke, lanjut ke poin di atas. Kenapa bisa aku sedikit terusik dgn ucapannya di atas? Sebenarnya ya aku sih ngerasa tulisanku emang gak bagus. Tulisan isinya sampah semua. Lol. Tapi karena dia bilang paling2 tulisanku gak sebagus dulu, aku jadi agak ge-er juga, berarti tulisanku dulunya buat dia bagus. Berarti dia dulu suka caraku bercerita (tersenyum bangga 😄). Tapi efek dari bilang kek gitu aku jadi lihat2 arsip tulisanku, mencoba mengukur perbedaan tulisan beberapa tahun lalu dengan tulisan yg beberapa hari lalu aku posting di blog ini. Sialnya pada awal aku nulis blog ini, itu sudah melewati masa menjalin hubungan dengannya. Tulisanku ttgnya ada di Facebook. Dan sayangnya akun Facebookku sudah lama menjadi almarhumah. Si empunya kehilangan akses untuk masuk ke fb. Udah gak bisa diziarahi lagi tulisan2 yg ada di akun itu. Syedih. Jadilah awal cerita di blog ini adalah tentang lelaki lain. Lol (Habis ini akunya di unfriend oleh mereka, eh apa mending aku dahului mereka ya 😂)
Terus kesimpulannya apa? Nggak ada. Hahaha. Karena gak berhasil nemuin arsip tulisan jaman dulu waktu bareng dia, jadinya gak ada kesimpulan. Tulisanku dari dulu hingga kini bagus2 aja sih menurutku (ini sih akunya narsis parah, haha). Tapi ya yang namanya proses kreatif menulis itu kan naik turun, berkembang gitu, jadi ya setiap tulisan punya esensi dan cerita masing2, tergantung pembaca sih menilainya dari sudut mana. Tapi menurutku pribadi akunya males kalau tulisanku dinyinyirin. Dikira enak apa2 yg kita kerjakan dinyinyirin orang? Lah orang yg nyinyirin itu udah kasih kontribusi apa buat pemolesan karya tulisku? (alamak, bahasanya!) Nih ya aku kasih tahu, yang namanya penulis amatir kayak aku gini gak usah dinyinyirin karena emang ini tulisan cm cerita, belum ke ranah fiksi. Jadi gak usah prematur juga mengkritik ini itu. Harusnya disupprot terus biar rajin cerita, pembebasan jiwa lah. Biar balance antara rasa dan jiwanya. Biar gak gila. Syukur2 kalau berhasil bikin tulisan di blog dikasih coklat 1 kg sebagai award. Kan biar penulisnya semangat nulis sampah terus. Ala biasa karena biasa, men! Semuanya proses. Jadi better orang kayak aku gini didukung terus, disayangin, dinikahin. Eh?? 😄
Jawaban dia "Iyakah? Palingan ga sebagus dulu nulisnya"
Dari jawabannya atas pertanyaanku diatas akhirnya membuatku berpikir benarkah kualitas menulisku semakin entah? Hmm...
Jawabanku ke dia ya aku akhirnya pilih ngegombalin dia. Aku bilang ke dia bahwa tulisanku gak sebagus dulu krn objeknya bukan dia 😄. Padahal ya akunya sedikit terusik juga sama jawaban cerocosnya. Hahaha.
How come? Nih anak mulutnya suka sak penake dewe. Suka2 dia aja gitu mau ngomong apa aja ttg aku. Gak mikir apakah aku tersinggung apa gak, apakah aku bakalan terusik dgn ucapannya apa nggak. Dia udah kehilangan etika berbicara kalau ngomong sama aku. Mudah2an sih cuma sama aku aja sih dia kek gitu. Tapi aku kok gak yakin ya? Haha
Oke, lanjut ke poin di atas. Kenapa bisa aku sedikit terusik dgn ucapannya di atas? Sebenarnya ya aku sih ngerasa tulisanku emang gak bagus. Tulisan isinya sampah semua. Lol. Tapi karena dia bilang paling2 tulisanku gak sebagus dulu, aku jadi agak ge-er juga, berarti tulisanku dulunya buat dia bagus. Berarti dia dulu suka caraku bercerita (tersenyum bangga 😄). Tapi efek dari bilang kek gitu aku jadi lihat2 arsip tulisanku, mencoba mengukur perbedaan tulisan beberapa tahun lalu dengan tulisan yg beberapa hari lalu aku posting di blog ini. Sialnya pada awal aku nulis blog ini, itu sudah melewati masa menjalin hubungan dengannya. Tulisanku ttgnya ada di Facebook. Dan sayangnya akun Facebookku sudah lama menjadi almarhumah. Si empunya kehilangan akses untuk masuk ke fb. Udah gak bisa diziarahi lagi tulisan2 yg ada di akun itu. Syedih. Jadilah awal cerita di blog ini adalah tentang lelaki lain. Lol (Habis ini akunya di unfriend oleh mereka, eh apa mending aku dahului mereka ya 😂)
Terus kesimpulannya apa? Nggak ada. Hahaha. Karena gak berhasil nemuin arsip tulisan jaman dulu waktu bareng dia, jadinya gak ada kesimpulan. Tulisanku dari dulu hingga kini bagus2 aja sih menurutku (ini sih akunya narsis parah, haha). Tapi ya yang namanya proses kreatif menulis itu kan naik turun, berkembang gitu, jadi ya setiap tulisan punya esensi dan cerita masing2, tergantung pembaca sih menilainya dari sudut mana. Tapi menurutku pribadi akunya males kalau tulisanku dinyinyirin. Dikira enak apa2 yg kita kerjakan dinyinyirin orang? Lah orang yg nyinyirin itu udah kasih kontribusi apa buat pemolesan karya tulisku? (alamak, bahasanya!) Nih ya aku kasih tahu, yang namanya penulis amatir kayak aku gini gak usah dinyinyirin karena emang ini tulisan cm cerita, belum ke ranah fiksi. Jadi gak usah prematur juga mengkritik ini itu. Harusnya disupprot terus biar rajin cerita, pembebasan jiwa lah. Biar balance antara rasa dan jiwanya. Biar gak gila. Syukur2 kalau berhasil bikin tulisan di blog dikasih coklat 1 kg sebagai award. Kan biar penulisnya semangat nulis sampah terus. Ala biasa karena biasa, men! Semuanya proses. Jadi better orang kayak aku gini didukung terus, disayangin, dinikahin. Eh?? 😄
Saturday, January 21, 2017
Cerita di Malam Minggu
"I love reading. I just hate having so many books to read and yet never having enough time to read them."
Kali ini ngebahas quote lagi. Hehe. Saya termasuk orang yang gemar membaca, dulunya. Kenapa saya bilang dulu? Karena kini intensitas saya pacaran sama buku jauh berkurang. Biasanya saya gemar mampir ke tokobuku, bawa sesuatu darisana, lalu membacanya beberapa waktu kemudian. Jangan kira 'beberapa waktu' disini dalam waktu yg relatif dekat dari tanggal dan waktu ketika saya membeli buku tersebut. Kenyataannya saya membaca sesuai mood saya. Seselonya (sesuai waktu selapangnya) saya.
Dulu, ketika saya masih hobi2nya membaca saya seringkali menimbun buku. Jadi saya sering mampir ke tokobuku dan membeli beberapa buku, lalu sesampainya di rumah mereka (buku2) tidak langsung dibaca. Disimpen dulu di rak buku, plastiknya aja gak langsung dibuka, ya asli diabaikan gitu aja. Mungkin kalau mereka bisa teriak mereka gak terima kali diperlakukan begitu. Haha. Mereka saya baca benar2 tergantung mood dan minat baca saya. Tergantung waktu lapangnya saya juga. Sebenarnya ya waktu lapang itu hanya alibi, kalau memang prioritas ya kapan aja bisa dikedepankan, ya kan? Ibarat PR waktu sekolah dulu, mau kegiatan kita seabrek pun tetap harus ngelirik PR sekolah. Tapi mungkin itulah yg membedakan PR dengan kegiatan baca tulis, PR menjadi mendekati wajib untuk dikerjakan sementara kegiatan baca tulis tidak. Mereka hanya utk mengisi waktu luang. Mereka hanya sebagai pleasure dan entertainment. Dengan kegiatan yang seperti inilah yang menyebabkan buku2 saya banyak sekali yang belum terbaca padahal mereka sudah lama sekali halal menjadi milik saya. Buku2 semenjak 1 atau 2 tahun yang lalu saya beli, atau barangkali 3 atau 4 tahun yg lalu masih ada loh yg belum saya sentuh, belum saya pacari, belum saya baca dan akrabi. Semoga saya tidak termasuk orang mendzolimi mereka. Amiin.
Akhir2 ini kegemaran saya dalam membaca jauh berkurang, saya tak tahu mengapa. Saya jarang berkunjung ke tokobuku, konon pula beli ya kan, mampir aja gak pernah? :(
Saya menjadi tidak terlalu hobi berbelanja buku. Biasanya ketika event tahun baru, minggu pertama awal tahun salah satu bookstore di Yogyakarta kerap mengadakan diskon special awal tahun. Gak tanggung2, all items men! Semua buku apapun yg ada di bookstore itu dibandrol promo diskon lumayan gede 30%. biasanya sih pada hari2 biasa hanya 10-15 %, tapi rata2nya 10%, gak heran pada event special awal tahun menjadi promo yg dinanti2 penikmat buku. Dulu saya sangat excited dgn promo ini. Gak jarang juga jd rajin menabung beberapa bulan sebelum hari H untuk kemudian pada hari H siap2 membobol tabungan. Pada event kayak gini suka khilaf sayanya. Belanja lumayan banyak cm krn promo, bacanya kapan? Entar2 deh, yang penting punya dulu. Gak jarang juga kebablasan gak dibaca sampai tahun berikutnya. Haha. Inilah yang dinamakan penimbun buku. 😄
Tapi semenjak mood baca saya berkurang, tahun ini menjadi tahun pertama saya tidak ikut serta pada event promo di atas. Dan seriously saya gak merasa menyesal. Saya gak lagi menggebu2 buat bolak-balik ke tokobuku untuk sekedar lihat2 atau searching buku tertentu. Sepertinya memang ada yang salah dengan saya ya? Jawabannya iya, tapi mungkin juga nggak. Saya sekarang lebih rileks mengenai buku. Gak cuma buku sih sebenarnya, dalam hal musik juga. Biasanya saya selalu 'maksain' untuk nonton konser musik musisi favorite saya. Tapi sebenarnya nggak juga sih, dari dulu memang agak membatasi. Kalau sekiranya jarak dari rumah menuju venue konser itu jauh dan sepi jalanannya, atau kalau venue nya di lapangan terbuka, saya pilih gak nonton. Apalagi kalau gak ada temen buat nonton barengnya, mending stay saved aja deh di-kosan. Saya kasih sampel. Bulan depan musisi favorite saya ada jadwal manggung, dan itu di kota. Di tempat yg representatif buat nonton konser, jarak rumah - venue gak jauh, gak terlalu sepi juga, namun saya agaknya pilih gak nonton. Gak tahu ya? Saya kok rasanya udah mendekati "males" untuk mengakrabi hobi2 saya dulu. Seperti ada yg menggerakkan, seperti ada yg berbisik itu tidak lagi menjadi prioritas saya. Prioritas saya kini hanya ingin segera menjadi Ibu, ehhh?? *kecolongan*
Sebenarnya saya gak nyesel karena mulai meninggalkan konser musik, yg agak saya sesalin ya hobi baca tulis saya ini. Saya merasakan banyak sekali manfaat membaca buku, sebab saya percaya buku itu gudang ilmu. Pepatah juga bilang bahwa buku adalah jendela dunia. Kita bisa mengetahui cakrawala dunia tanpa harus kita menetap disana, kita bisa mengetahui apa saja mengenai semesta dengan membaca. Yang terpenting manfaat membaca bagi saya adalah kita jadi bisa mengukur "kepekaan rasa" kita. Kita jd mengenali diri sendiri dan lebih mengakrabi semesta. Manfaat inilah yang tidak ingin saya hilangkan dari diri saya. Semoga semua ini kan cepat berlalu, semoga semua ini hanyalah persinggahan sementara bagiku... (revisi lirik musisi saya nih, hehe)
Jadi sebenarnya saya ingin sekali punya mood untuk bermesraan dengan pacar2 (baca: buku2) saya. Saya gak ingin mengabaikan mereka lebih lama lagi, saya ingin kembali merasakan jatuh cinta kepada buku. Semoga mereka bisa membimbing saya kembali...
Kali ini ngebahas quote lagi. Hehe. Saya termasuk orang yang gemar membaca, dulunya. Kenapa saya bilang dulu? Karena kini intensitas saya pacaran sama buku jauh berkurang. Biasanya saya gemar mampir ke tokobuku, bawa sesuatu darisana, lalu membacanya beberapa waktu kemudian. Jangan kira 'beberapa waktu' disini dalam waktu yg relatif dekat dari tanggal dan waktu ketika saya membeli buku tersebut. Kenyataannya saya membaca sesuai mood saya. Seselonya (sesuai waktu selapangnya) saya.
Dulu, ketika saya masih hobi2nya membaca saya seringkali menimbun buku. Jadi saya sering mampir ke tokobuku dan membeli beberapa buku, lalu sesampainya di rumah mereka (buku2) tidak langsung dibaca. Disimpen dulu di rak buku, plastiknya aja gak langsung dibuka, ya asli diabaikan gitu aja. Mungkin kalau mereka bisa teriak mereka gak terima kali diperlakukan begitu. Haha. Mereka saya baca benar2 tergantung mood dan minat baca saya. Tergantung waktu lapangnya saya juga. Sebenarnya ya waktu lapang itu hanya alibi, kalau memang prioritas ya kapan aja bisa dikedepankan, ya kan? Ibarat PR waktu sekolah dulu, mau kegiatan kita seabrek pun tetap harus ngelirik PR sekolah. Tapi mungkin itulah yg membedakan PR dengan kegiatan baca tulis, PR menjadi mendekati wajib untuk dikerjakan sementara kegiatan baca tulis tidak. Mereka hanya utk mengisi waktu luang. Mereka hanya sebagai pleasure dan entertainment. Dengan kegiatan yang seperti inilah yang menyebabkan buku2 saya banyak sekali yang belum terbaca padahal mereka sudah lama sekali halal menjadi milik saya. Buku2 semenjak 1 atau 2 tahun yang lalu saya beli, atau barangkali 3 atau 4 tahun yg lalu masih ada loh yg belum saya sentuh, belum saya pacari, belum saya baca dan akrabi. Semoga saya tidak termasuk orang mendzolimi mereka. Amiin.
Akhir2 ini kegemaran saya dalam membaca jauh berkurang, saya tak tahu mengapa. Saya jarang berkunjung ke tokobuku, konon pula beli ya kan, mampir aja gak pernah? :(
Saya menjadi tidak terlalu hobi berbelanja buku. Biasanya ketika event tahun baru, minggu pertama awal tahun salah satu bookstore di Yogyakarta kerap mengadakan diskon special awal tahun. Gak tanggung2, all items men! Semua buku apapun yg ada di bookstore itu dibandrol promo diskon lumayan gede 30%. biasanya sih pada hari2 biasa hanya 10-15 %, tapi rata2nya 10%, gak heran pada event special awal tahun menjadi promo yg dinanti2 penikmat buku. Dulu saya sangat excited dgn promo ini. Gak jarang juga jd rajin menabung beberapa bulan sebelum hari H untuk kemudian pada hari H siap2 membobol tabungan. Pada event kayak gini suka khilaf sayanya. Belanja lumayan banyak cm krn promo, bacanya kapan? Entar2 deh, yang penting punya dulu. Gak jarang juga kebablasan gak dibaca sampai tahun berikutnya. Haha. Inilah yang dinamakan penimbun buku. 😄
Tapi semenjak mood baca saya berkurang, tahun ini menjadi tahun pertama saya tidak ikut serta pada event promo di atas. Dan seriously saya gak merasa menyesal. Saya gak lagi menggebu2 buat bolak-balik ke tokobuku untuk sekedar lihat2 atau searching buku tertentu. Sepertinya memang ada yang salah dengan saya ya? Jawabannya iya, tapi mungkin juga nggak. Saya sekarang lebih rileks mengenai buku. Gak cuma buku sih sebenarnya, dalam hal musik juga. Biasanya saya selalu 'maksain' untuk nonton konser musik musisi favorite saya. Tapi sebenarnya nggak juga sih, dari dulu memang agak membatasi. Kalau sekiranya jarak dari rumah menuju venue konser itu jauh dan sepi jalanannya, atau kalau venue nya di lapangan terbuka, saya pilih gak nonton. Apalagi kalau gak ada temen buat nonton barengnya, mending stay saved aja deh di-kosan. Saya kasih sampel. Bulan depan musisi favorite saya ada jadwal manggung, dan itu di kota. Di tempat yg representatif buat nonton konser, jarak rumah - venue gak jauh, gak terlalu sepi juga, namun saya agaknya pilih gak nonton. Gak tahu ya? Saya kok rasanya udah mendekati "males" untuk mengakrabi hobi2 saya dulu. Seperti ada yg menggerakkan, seperti ada yg berbisik itu tidak lagi menjadi prioritas saya. Prioritas saya kini hanya ingin segera menjadi Ibu, ehhh?? *kecolongan*
Sebenarnya saya gak nyesel karena mulai meninggalkan konser musik, yg agak saya sesalin ya hobi baca tulis saya ini. Saya merasakan banyak sekali manfaat membaca buku, sebab saya percaya buku itu gudang ilmu. Pepatah juga bilang bahwa buku adalah jendela dunia. Kita bisa mengetahui cakrawala dunia tanpa harus kita menetap disana, kita bisa mengetahui apa saja mengenai semesta dengan membaca. Yang terpenting manfaat membaca bagi saya adalah kita jadi bisa mengukur "kepekaan rasa" kita. Kita jd mengenali diri sendiri dan lebih mengakrabi semesta. Manfaat inilah yang tidak ingin saya hilangkan dari diri saya. Semoga semua ini kan cepat berlalu, semoga semua ini hanyalah persinggahan sementara bagiku... (revisi lirik musisi saya nih, hehe)
Jadi sebenarnya saya ingin sekali punya mood untuk bermesraan dengan pacar2 (baca: buku2) saya. Saya gak ingin mengabaikan mereka lebih lama lagi, saya ingin kembali merasakan jatuh cinta kepada buku. Semoga mereka bisa membimbing saya kembali...
Saturday, November 05, 2016
Menatap Kupu-kupu dalam Pantulan Diri
As usual tiap kali ga ada kerjaan ya jatuh-jatuhnya dengerin
music. Aslinya pengen nulis sih, tapi nulis itu jatuhnya lebih complicated.
Butuh waktu yang lebih lapang, dan yang terpenting butuh otak yang cemerlang. Sebagai
anak yang isi otaknya pas-pasan, harus sadar diri nih sayanya. Hahaha. Enyiwei,
ditengah keisengan dengerin music di playlist hape secara random, surprisingly I
found ‘Butterfly by Mariah Carey’. This song made me so speechless. Diantara
harap dan impian yang sengaja digaung-gaungkan setiap harinya, tiap hari ga
brenti ngomong sama diri sendiri lewat pantulan cermin, tiap kali punya
kesempatan selalu mencoba untuk mengingat-ingat dan merapal mantra “I want to
be a butterfly, no matter what!”, rasanya kayak ‘kesentil’ sudah berapa jauh
usaha saya demi menuju kesana? Menyedihkan bahwa saya belum mengepak
kemana-mana, saya masih ada dalam tahap telur. Masih dalam metamorfosa
kupu-kupu yang paling awal, paling dasar. Perjalanan masih teramat sangat jauh.
Sedih.
“Spread your wings and prepare to fly, for you have become a
butterfly, Fly abandonly into the sun!” begitu kata liriknya. Seperti kita tahu
bahwa untuk menjadi kupu-kupu memiliki step perjalanannya yang tidak singkat. Ia
butuh waktu untuk menjadi tumbuh sempurna. Keelokan dan kecantikannya bukanlah
hasil sulap seketika. Ia berproses setahap demi setahap untuk berubah menjadi
makhluk yang cantik. In the case of me, apa yang ingin saya perbaiki lebih
kepada memperbaiki kualitas diri. Secara fisik sih, saya sudah bersyukur
dianugerahi fisik sebagaimana adanya. Ya tinggal perawatan ke salon aja tiap
bulannya, haha (kidding men!) biar tampak lebih cerah auranya. Gedubrakkk! Oke,
saya lanjutkan. Semakin bertambahnya umur (padahal anaknya ga sedang berulang
tahun :D), saya merasa wajib untuk selalu memperbaiki kualitas diri saya
sebagai manusia. Terlebih sebagai hamba. Nah, disinilah pusat sentralnya.
Dari monolog yang selalu saya ucapkan, dari mantra-mantra
yang selalu saya rapalkan, dari setiap magic sihir yang selalu coba saya
tanamkan ke alam bawah sadar, nyatanya semua itu belum cukup keras menggema
gaungnya. Bahkan untuk didengar oleh telinga saya sendiri. Usaha saya belum
sebanding dengan mantra-mantra gila yang setiap saat saya rapalkan. Tapi tak
mengapa. Saya sadar kupu-kupu butuh waktu. Pertanyaannya sekarang “berapa
banyak waktu yang saya butuhkan?” Saya perluas lagi “berapa banyak waktu yang
saya punya untuk berubah kesana?” Nah, disanalah titik masalahnya. Saya tidak
tahu berapa banyak waktu yang saya punya untuk saya berhasil bermetamorfosa. Syukur-syukur
saya masih punya cukup waktu untuk mengarah kesana. Allah, Engkau tahu, saya
mempunyai niat itu. Engkau tahu, saya bersiap berjalan mendekat ke arah-Mu. Tolong,
permudah segala harap dan inginku. Dekatkan aku pada hal-hal yang lebih baik
dari kualitas diriku sebelumnya. Wahai Dzat Yang Maha, segala menjadi mudah
atas kehendak-Mu. Mudahlanlah jalanku. Aamiin.
Untuk menjadi cantik bak kupu-kupu tidak bisa didapat dari
hasil instan. Setiap tahap metaforfosa memiliki kesakitan-kesakitan tersendiri.
Untuk bertumbuh dan berkembang, kita tidak butuh ijin dari orang lain. Sejatinya
kita hanya butuh niat dan berjanji kepada diri sendiri. Dan sungguh betapa
dzolimnya kita jika mengkhianati janji pada diri sendiri. Nah, sekarang PR
terbesar saya adalah belajar bersepakat dengan diri sendiri. Untuk memperoleh
hasil terbaik, semuanya diperoleh secara bertahap. Saya sadar tahap saya menuju
kesana masih sangat jauh, tapi mantra-mantra gila itu tidak pernah berhenti saya
rapalkan. Berharap magic bekerja disana. Paling tidak itu sebagai alarm dan
warning buat diri saya tentang mimpi untuk terbang ke langit biru. Say hello to
the sun!
Dari konsep kupu-kupu saya sekaligus belajar tentang hal
lain. Mengutip kata-kata Diana Rikasari “Good deed will always you get greater return”.
Saya belajar bahwa kebaikan-kebaikan yang kita lakukan ternyata semuanya
berpulang kepada kita. Dengan bahasa yang sederhana mungkin menjadi “apa yang
kita tanam, maka itulah yang akan kita petik.” Dalam interpretasi saya, hal itu
menjadi lebih luas maknanya. Bahwa selain kebaikan akan berpulang kepada kita,
ada hal lain yang ternyata jauh lebih esensial. Bahwa kebaikan yang kita
lakukan ternyata menghasilkan bibit unggul yang lain. Saya permudah dengan
sederhana, misalnya nanti ketika saya sudah mempunyai anak, kebaikan-kebaikan
yang saya lakukan saya harap ototamis juga tertanam kepada calon anak-anak
saya. Dan cucu-cucu saya, dst. Dalam sampel diri saya, saya berharap saya
menjadi bibit terbaik dari apa yang orang tua saya punya. Kebaikan-kebaikan
yang mereka tanamkan dalam keluarga saya, pembiasaan diri dalam berbagi, saya
berharap saya tidak lebih buruk dari amalan-amalan mereka. Saya berharap
amalan-amalan baik mereka tidak berhenti di saya dan bisa terus saya lanjutkan,
bahkan saya kembangkan dan tingkatkan. Sungguh, setelah membaca berbagai kutipan-kutipan tentang
kupu-kupu, setelah membaca berbagai buku tentang pelipatgandaan kebaikan saya
berharap saya dapat terus mengamalkan kebaikan-kebaikan. Sekecil apapun itu. Karena
saya sadar kebaikan-kebaikan itu akan menjadi amal jariyah juga bagi kedua
orang tua saya, sekalipun nantinya keuda orang tua saya telah tiada. Saya berharap
kebaikan-kabaikan yang saya kerjakan berkat ajaran-ajaran mereka menjadi
penerang alam kubur dan penolong mereka kelak di alam kubur dan akhirat sana
(tetiba mata berkaca-kaca ngomongin ini, saya berdo’a semoga kedua orang tua
saya sehat selalu dan diberkahi setiap kehidupannya oleh Allah SWT). Baik kebaikan
yang sifatnya individu yang berpulang kepada diri sendiri maupun kebaikan-kebaikan
dalam tatanan lingkungan peradaban manusia. Kebaikan dalam bermasyarakat.
Lalu, jika sekarang saya ditodong pertanyaan “apa yang
paling engkau ingini dalam hidup ini?” Maka akan saya jawab “saya hanya ingin
menjadi kupu-kupu”. Itu saja. Ianya cantik, namun mudah-mudahan sayap saya
tidak serapuh sayap milik kupu-kupu.
Tuesday, August 23, 2016
Fokuslah Pada Dirimu
“Being
selfish isn’t always a bad thing. Sometimes it just means that you know you
have to focus on yourself to get to where you want to be”
Kadang-kadang
kita perlu fokus pada diri kita sendiri tanpa mempertimbangkan apa yang orang
pikirkan dan apa yang orang katakan. Kita hidup di dunia tidak untuk
menyenangkan dan membahagiakan semua orang yang kita jumpai, semua insan yang
terkoneksi dalam lingkaran kehidupan kita. Bukan. Bukan itu tujuan kita hadir
ke dunia. Setiap insan punya misinya masing-masing, punya tugasnya
masing-masing. Bagaimana ia menjalani tugasnya juga menjadi tolak ukur yang
berbeda-beda. Jangan buru-buru menghakimi seseorang tanpa pernah kita tahu
bagaimana perjuangan ia sampai ke titik tersebut. Masing-masing bergelut dengan
dirinya sendiri dengan cara dan kadar yang berbeda-beda. Tidaklah bijak jika
kita menghakimi mereka tanpa kita pernah mencoba mengerti posisi dan kesulitan
mereka, tanpa pernah kita berdiri di “sepatu” yang mereka kenakan. Sepatu yang
mereka kenakan belum tenti fit untuk setiap medan perjalanan. Ada kalanya kita
perlu bertukar sepatu untuk dikenakan di medan jalan tertentu. Begitulah, ada
kalanya kita perlu mencoba memahami mereka dengan sudut pandang yang berbeda. Dengan
cara sebijak mungkin yang kita bisa. Tidak ada orang yang ingin dirinya
diremehkan, direndahkan, dikerdilkan, atau di-diskreditkan oleh orang lain. Semua
orang ingin hidup dan karyanya dihargai. Meski hanya lewat sedikit apresiasi.
Saya belakangan
hari ini sejujurnya merugi karena meratapi diri saya yang sedemikian tidak
dihargai. Saya sudah lama memahami bahwa terkadang kita berkonflik dengan orang
yang justru sangat dekat dengan kita, dulunya, tapi toh beberapa peristiwa
terulang juga. Sejujurnya saya ga habis mengerti kenapa masalah ini menjadi
begitu penting untuk saya pikirkan, untuk coba saya jernihkan. Saya tidak mau
berburuk sangka, yang saya bisa hanya menyimpan konflik ini sedapat-dapatnya
saya. Saya seperti terjebak pada hubungan persahabatan Kugy dan Noni dalam
novel Perahu Kertas karya Dee. Saya akhirnya mengerti posisi Kugy yang
sebenarnya tidak ingin mengasingkan diri dari Noni, hanya saja jarak itu kian
meruncing. Kugy akhirnya benar-benar memilih mengasingkan diri. Bukan karena
tak ingin meminta maaf atau memperbaiki silaturrahmi, tapi karena dinding ego
dalam konflik itu kian menebal dan meninggi. Tak ada celah untuk menembus ego
itu. Kugy terkucilkan karena mungkin posisinya memang lemah atau mungkin juga
ia tak punya cara untuk bertatap wajah karena tertuduh sebagai pihak yang
salah. Begitulah posisi saya, keengganan tampaknya sudah mulai mengakar,
merimbun, dan merindang. Saya terlalu takut untuk kembali mendekatinya. Saya terlalu
kecil untuk menampakkan wajah dihadapannya. Tapi aslinya saya stress, jujur
saja. Belakangan saya jadi sulit tidur karena terbawa perasaan. Terbawa permasalahan.
But it is
enough for me. Saya tak butuh pengakuan. Saya bukanlah orang yang haus pujian. Saya
aslinya tak suka tampil di depan, karena sungguh tak ada yang bisa saya
banggakan. Tak ada keuntungan tertentu yang saya dapatkan darisana. Jadi saya
memutuskan untuk “memanggil” alter ego saya yang lain. Cuek kepada apapun. Terlebih
pada hal-hal yang sekiranya mengurangi jam tidur dan ukuran berat badan saya. Saya
tidak ingin terbebani karena harus menjaga perasaan si A, B, C, D, E, atau Z. Saya
tidak ingin tampil tanpa jiwa. Saya tak ingin menjadi orang yang penuh
kamuflase. Saya tidak ingin bercermin tanpa pantulan diri saya disana. Saya tidak
ingin menjadi seperti yang orang lain inginkan tetapi aslinya itu bukanlah diri
saya. Saya gapapa dibenci orang asalkan tetap menjadi diri saya daripada saya
menjadi tipe orang yang mereka senangi tapi itu bukan saya. Ya, bukanlah sesuatu
yang egois jika kita memilih untuk” menghidupi” diri kita sendiri tanpa
terbebani oleh pihak lain, tanpa interfensi dari pihak manapun juga.
Bukanlah hal yang buruk jika kita ingin fokus
pada diri kita, pada apa-apa yang ingin kita capai, pada apa-apa yang ingin
kita genggam. Kebahagiaan bisa kita ciptakan sendiri. Bodo amat dengan
penghakiman orang lain, belum tentu mereka benar juga. Belum tentu kita
sepenuhnya salah. Bagaimana kita menjalani hari-hari benar-benar tergantung
pada cara kita melabeli sudut pandang kita. Apakah kita mau melabeli sudut
pandang tersebut dengan sesuatu yang baik ataukah dengan sudut pandang yang
buruk. Yang pasti, sudut pandangmu terhadap sesuatu itu memperngaruhi bagaimana
kamu melihat dan menilai sesuatu. Kabahagianmu tidak ditentukan oleh orang
lain. Buat saya adalah dosa besar menggantungkan kebahagiaan kita pada orang
lain. You can create your own happiness. Don’t be so much fragile. Jadi pada
akhirnya saya memilih mengakrabi alter ego saya yang lain. Alter ego yang
mengajarkan saya untuk cuek sejadi-jadinya pada orang lain dan lebih
mementingkan fokus pada kebahagiaan diri sendiri. Sebab saya tak ingin merugi
dalam menghargai diri saya sendiri. Saya ingin
menyetir diri saya ke arah yang ingin saya tuju, bukan ke arah yang orang lain
mau.
Wednesday, August 03, 2016
Ketakutan Yang Berulang
Hari ini aku menyadari sesuatu. Ada satu hal yang paling bikin
aku iri setengah mati pada orang lain. Yakni tentang memantapkan sebuah
pilihan. Seperti yang sudah pernah kutuliskan pada tulisan2 sebelumnya, aku
punya masalah berat dalam hal memilih. Memilih tak pernah menjadi perkara mudah
bagiku. Memilih apa pun. Memilih barang, terlebih lagi memilih “orang”, memilih
teman hidup.
Tadi siang seorang teman bercerita tentang rencana
pernikahannya kepadaku. Aku senang dia berkenan berbagi cerita bahagianya kepadaku,
tapi di sisi lain rasanya ada yang “menghantamku”. Bejibun tanya pun seketika
menyerangku. Kenapa orang-orang begitu mudahnya menentukan dan memantapkan sebuah
pilihan? Kenapa sangat berbanding terbalik denganku? Kenapa mereka begitu yakin
sementara aku begitu peragu?
Tentang pernikahan, entah mengapa aku begitu takut melangkah
kesana. Setelah berkali-kali mencoba berhubungan dengan lelaki dan akhirnya gagal,
mentalku kian terpuruk. Ketakutanku kian menumpuk. Kabut ketakutanku kian
menebal. Aku kian kecil dihantam mimpi besar yang dulu kubangun. Ketakutanku
terjebak pada pemantapan pilihan. Aku takut aku menikahi orang yang salah. Aku takut
tidak bisa mempersembahkan apa yang seharusnya menjadi haknya. Yang pada intinya aku takut aku tidak
bahagia.
Siapapun, tolong ajari aku cara memilih. Memilih yang
terbaik diantara yang baik. Ajari aku bagaimana caranya melangkah tanpa rasa
takut. Tolong ajari aku menghadapi dunia. Percayalah, aku hanya ingin bahagia. Tapi
entah, apa itu bahagia?
Sunday, May 15, 2016
Rumah yang Kembali Ditemukan
Bagiku hal yang
paling menyedihkan dari sebuah kehilangan adalah kehilangan rumah. Sebab kehilangan
rumah bukan saja kehilangan tempat tinggal. Kehilangan rumah lebih kepada kehilangan
wadah untuk menjadi diri sendiri. Kehilangan kebebasan untuk berekspresi. Bagiku
blog ini adalah rumah kedua dari rumah yang berbentuk bangunan fisik. Ini adalah
‘rumah’ku dalam berekspresi. Disini aku bisa menjadi diriku sendiri. Menjadi sejatinya
diri tanpa ada perintah sana-sini, tanpa tendensi ini-itu, dan tanpa pretensi
sesiapa.
Gegara ingatanku
yang payah, beberapa bulan yang lalu aku kehilangan rumah mungilku ini. Aku sempat
lupa dengan ‘kunci’ rumah ini yang tersusun dalam bentuk kata. Dan parahnya ini
bukan kali pertama aku kehilangan ‘rumahku’. Beberapa akun yang kuabsahkan
sebagai rumahku akhirnya resmi dihuni laba-laba hanya karena aku tidak ingat
kata sandi untuk masuk ke akun tersebut. Berat buat ngikhlasinnya, karena
beberapa tulisan hilang begitu saja. Tak bisa lagi ‘diziarahi’. Beruntung, akun
ini bisa diselamatkan. Beruntung, pintu rumah blog ini masih bisa dibuka. So,
here I am. Kembali lagi ke dalam rumahku. Kembali lagi ke dalam moment2 yang
terkristalkan disana. Alhamdulillah.
So, welcome
back to me. Welcome back to you, my readers (halah :D). Do’akan ingatan saya
lebih tajam agar saya tak lagi kehilangan kunci. Do’akan pikiran saya lebih
tajam agar tulisan saya menjadi sesuatu yang kalian tunggu-tunggu. Haha. Once again,
welcome back dearest readers. And happy fifteenth, happy reading.. and also happy
writing..
Ucrit Violette
Hati yang Baru
Sesuatu yang kita sebut rumah tak selalu berada di alamat
yang sama. Kita bisa membangun rumah baru dengan mereka yang hatinya tak
tertinggal di masa lalu.
Monday, October 12, 2015
Derita Perempuan
Ada derita yang harus ditanggung seorang perempuan. Derita jatuh cinta tapi tak bisa berbuat apa2. Bintang, tolong tunjukkan kami jalan. 🌌🌟🌠🌌🌟🌠
Saturday, August 15, 2015
Pengakuan Semu
Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah sebuah pengakuan.
Kemarin saya mendapat kiriman buku dari seorang sahabat. Rasanya
senang luar biasa. (So, I thank to Ika who bought and sent this book as a gift
to me. I got it free. Hurraaaaay! :* ) Gimana nggak coba? Buku ini adalah buku
karangan penulis favorit saya, Fahd Pahdepie. Pasalnya berbulan-bulan saya
hunting buku ini di semua cabang Gramedia di Yogyakarta, tapi tak juga kunjung
menemukan. Buku ini kehabisan stock di semua cabangnya. Padahal saya terhitung
rajin banget ‘ngapel’ ke tempat ini. Alhasil pencarian saya pun berbuah
sia-sia. Makanya pas teman saya kirim pesan melalui whatsApp messenger dan
menawarkan buku ini, saya ga ragu untuk nitip dia. Eh, taunya dia baik banget
ngasih buku ini sebagai hadiah buatk saya. Thanks for this friendship, Ika. If you
were a guy, I ensure myself that I will fall in love with you easily. Lol
Karena buku ini sudah sekian lama saya cari jadi saya gak
menunggu waktu lebih lama untuk membuka dan membacanya. Langsung aja saya buka
buku itu dan menjelajahi halaman demi halamannya. Tadaaaa… baru buka halaman
pertamanya aja buku ini berhasil membuat saya entah. Tetiba ngerasa cemburu luar
biasa sama istri penulisnya. Sejauh yang saya baca, penulis mendedikasikan
tulisannya untuk istrinya. Ada nyawa dan cinta luar biasa untuk istrinya di
setiap tulisannya. Saya bisa menangkap getar itu. Huhu, saya mendadak iri setengah
mati baca buku itu. Saya kan juga mau dibikinin tulisan bagus kayak gitu. Tapi
siapa coba yang mau bikinin saya tulisan dan menjadikan saya sebagai subyek
dalam tulisannya? Nope! *Poor me*
Membaca buku ini benar2 membuat saya bercermin. For some
parts, I find myself in loving someone. Terkadang saya merasa saya berperan
sebagai Fahd Pahdepie, saya punya rasa yang kurang lebih sama dengan pengarang.
Saya suka menulis, meskipun tidak sebagus milik Fahd. Sesekali tulisan saya
berporos atas nama cinta. Tertuju untuk satu nama yang ianya ada di kedalaman hati
saya. In other parts, I feel like I was Rizqa Abidin, her beloved wife. Saya bisa
mencintai lelaki sebesar cinta Rizqa pada Fahd. Saya bersedia mendukung lelaki
terkasih saya dalam keadaan apapun demi keutuhan cinta dan jalan menuju
bahagia.
Buku ini mendorong
saya untuk jujur dalam mencintai seseorang. Betapa segala hal terasa jauh lebih
mudah ketika kita akrab dengan kejujuran. Tak perlu ada yang disembunyikan. Apalagi
dalam cinta. But Me?? Saya adalah orang yang paling sulit mengaku bahwa saya
jatuh hati pada seeorang. Saya lebih memilih memendam rasa ini entah di alam
mana. Sekalipun saya tahu, itu sakit. Saya memilih menanggungnya. Rasanya lebih
baik begitu. Tapi lewat buku ini saya
seakan diingatkan sesuatu, saya didorong untuk melakukan sesuatu. Entah kenapa
saya terus-terusan didorong untuk jujur. Saya dipaksa untuk mengatakan saya
cinta dia. Ingin sekali saya mengetik
pesan atas nama pengakuan dan mengirimkan pesan itu padanya. Akhirnya berperanglah
saya dengan diri saya sendiri. Saya hampir gila karena ini. Saya mengakui bahwa saya cinta, tapi toh tak
bisa juga saya jujur kepadanya. Saya menyerah. Saya kalah. Saya tak pernah ahli
dalam berbahasa cinta. Akhirnya saya tak menulis dan mengirimkan apa-apa
padanya. Begitulah, saya selalu kalah. Dan rasa ini tetap merdeka di alam maya.
Dorongan untuk sebuah pengakuan, imbauan untuk berekpsresi
jujur akhirnya cuma menjadi moral lesson buku itu yang gagal saya terapkan.
Sekian.
Friday, August 14, 2015
Happy Friday
Untukmu, akhirnya aku memilih ada. Entah apakah kau akan merasakan getarnya atau kau malah memilih memicingkan mata.
Happy Friday...
Happy Friday...
Tuesday, August 11, 2015
Hunting is over
Selasa yang penuh asa. Buku yang dicari akhirnya ada. Selamat menikmati perjalanan, Rumah Tangga.
29(4)88. Noted!
:))))
29(4)88. Noted!
:))))
Friday, May 15, 2015
Tentang kamu
Aku selalu jatuh cinta pada tulisan. Seperti itulah aku
ingin selalu jatuh kepadamu. Tapi atas dasar pertimbangan logika dan etika,
berulang kali aku telah mengurungkan niatku untuk mengkristalkanmu dalam
tulisan. Kini, aku tak lagi sanggup membendungnya. Hingga akhirnya tulisan ini
mengalir apa adanya. Dengan kebingungan yang begitu megahnya.
Aku tak pernah bertahan menyimpan segala “keliaran” alam
pikirku. “Keliaran” ini harus disalurkan. Jika tidak, ia akan membunuhku. Ia
akan menyiksaku. Ia akan merusak keseimbangan jiwaku. Ia akan membuatku “gila”.
Maka ketika ruh tulisan ini adalah tentang kamu, kumohon jangan marah. Lembutkanlah sorot matamu ketika menatapku, sungguh itu akan meneduhkanku.
Aku tak pernah mengerti tentang asal muasal perasan ini.
Darimana ia berasal, dan kemana ia akan menuju. Tapi yang pasti pada satu malam,
aku mulai jatuh hati padamu. Tenang saja, aku tak pernah memaksakan bahwa orang
yang kujatuhi cinta juga harus memberiku rasa yang sama. Aku tak ahli dalam hal
itu. Caraku mencintai juga sederhana, aku selalu jatuh pada cinta diam-diam. Untuk
hal ini, mungkin kamu juga sedikit paham.
Kata orang, aku termasuk orang yang ekspresif. Spontaniuos.
Aku seringkali merespon hal2 disekelilingku dengan spontan. Tanpa terduga.
Tanpa terencana. Tapi sayangnya tidak dalam cinta. I mean, cinta yang benar2
melibatkan cewek-cowok. Untuk hal satu ini, rasanya aku saklek. Aku harus mikir
seribu kali, butuh waktu ribuan hari untuk pada akhirnya berani bilang “aku
sayang kamu”, “aku cinta kamu”. Dan mungkin saat aku berani bilang begitu
padamu, semua tak lagi berguna.
Lalu, bagaimana aku bisa jatuh hati padamu? Entah. Aku tidak
tahu. Yang kutahu, sejak malam itu, aku sering mendo’akanmu. Aku mulai
memimpikanku dalam tidurku. Ada emosi dan rasaku yang berporos ke arahmu.
Rindu. Sakit. Harap. Kecewa. Senyum. Tawa. Sendu. Dan bahkan tangis. Yang
semula tak pernah kurasakan sebelumnya untukmu. Telah berulang kali aku menyangkal bahwa ini bukan cinta, bahwa aku tidak jatuh hati padamu, hingga pada satu waktu ada airmataku yang jatuh karenamu, untukmu. Saat itulah aku tak lagi bisa memerangi hatiku sendiri. Aku memang jatuh hati padamu.
Saturday, December 27, 2014
Wednesday, December 24, 2014
Wednesday, December 17, 2014
Gegara Flu
I just need a glass of water from your hand. Oh yes, in this late night.*ngigaugegaraflu.
Subscribe to:
Posts (Atom)